Rezeki Kamu, Gak Usah Khawatir. Pikirin Dari Mana dan Untuk Apa?

Apakah kamu khawatir dengan rezekimu?

Gak usah khawatir. Tenang saja. Mungkin kita gak tahu di mana rezeki kita. Mungkin kita gak tahu dari mana rezeki kita? TAPI percayalah, rezeki kita sangat tahu di mana kita. Entah itu, dari langit, laut, gunung, & lembah sekalipun, Allah telah memerintahkan rezeki untuk menjemputmu, menujumu. Lalu,apa yang kamu khawatirkan?

Ketahuilah sahabat, Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Percayalah itu, maka kamu disuruh mencarinya. Jangan melalaikan ketaatan kepada-Nya. Kalo kamu terlalu khawatir atau mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Kesalahan yang luar biasa, karena kamu tidak percaya pada-Nya.

 

Apakah kamu masih khawatir tentang rezekimu?

Sahabat, tugas kita bukan mengkhawatiri rezeki Allah. Karena itu sudah dijamin. Justru yang paling penting adalah kita menyiapkan jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” rezeki yang kita peroleh, yang kita miliki. Jadi lebih cinta dunia atau lebih cinta akhirat? Terserah kamu…. mau diapain itu rezeki yang sudah diberikan Allah.

Soal rezeki, semoga ini bukan kamu ya.

Betapa banyak orang larut menggenggam dunia, dia lupa bahwa hakikat rezeki bukanlah yang dimiliki tetapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulang, memeras keringat, hanya demi besaran tabungan atau mengangkat gaya hidup.

Betapa banyak orang hanya bisa mengejar rezeki, mencari yang banyak lalu lupa dari mana dan untuk apa rezeki itu.

Sahabat, gaji kamu, tabungan kamu, harta kamu sungguh tak berguna. Berapapun jumlahnya tatkala esok pagi atau lusa Allah memanggilmu untuk kembali. Semua yang kamu punya, yang kamu miliki akan sirna dan ditinggalkan menghadap ILAHI.

Jangan salah sangka, jangan keliru. Betulkan niat kita sekarang. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan Allah. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Karena rezeki tidak selalu terletak di pekerjaan kita. Rezeki gak harus dari pekerjaan kita.

Sahabat, Allah itu memberikan rezeki sekehendak-Nya, sekuasa-Nya. Bukankah Siti Hajar berlari-lari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwah? Tapi air zam-zam yang dicarinya justru muncul di dekat kaki Ismail, bayinya. Adakah kita menduga semua itu? Sungguh tak terduga dan hanya Allah yang berkuasa.

 

Maka katakan, rezeki itu rahasia Allah.

Untuk disyukuri hamba yang bertaqwa, datang dari arah yang tak disangka. Tugas kita, mencarinya dan menempuh dengan jalan halal, Allah-lah yang melimpahkan. Sekali lagi, di balik tiap ikhtiar dan doa kita, Allah pasti memberi karunia. Allah sudah janjikan rezeki kita.

Satu yang belum dari kita, tetap menjaga sikap baik saat menjemput rezeli Allah, “Dari mana” & “Untuk apa?”. Renungkan, dari mana dan untuk apa rezeki kamu? Jangan terburu-buru menjawabnya, renungkan saja dulu.

 

Sahabat, masih khawatir gak dengan rezekimu?

Kamu dan kita, betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lalu akhirnya cinta dunia. Lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab. Dari mana rexekimu, untuk apa rezekimu?

Sahabat, karunia Allah meliputi alam semesta. Dan sebagian karunia itu telah dijanjikan untukmu, untuk kita.

Gak usah khawatir atas rezeki kamu. Pinta saja petunjuk jalan yang lurus dalam menjemputnya. Jalan orang yang diberi nikmat ikhlas di dunia dan nikmat ridho-Nya di akhirat kelak. Bukan jalan orang yang terkutuk & tersesat.

Selamat bekerja sahabat, karena rezeki telah menantimu.

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Memakan Satu Dirham dari Hasil Riba

Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba. Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)
Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahanya. Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.

Seorang Pedagang Haruslah Memahami Hakekat Riba
As Subkiy dan Ibnu Abi Bakr mengatakan bahwa Malik bin Anas mengatakan,

فَلَمْ أَرَ شَيْئًا أَشَرَّ مِنْ الرِّبَا ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَذِنَ فِيهِ بِالْحَرْبِ

“Aku tidaklah memandang sesuatu yang lebih jelek dari riba karena Allah Ta’ala menyatakan akan memerangi orang yang tidak mau meninggalkan sisa riba yaitu pada firman-Nya,

فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba).” (QS. Al Baqarah: 279)
‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا .

Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.
‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.” (Mughnil Muhtaj, 6/310)

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa). (Lihat Al Qomus Al Muhith, 3/423)

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur.” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)
Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.
Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيْرِ مَعْلُومِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيرٍ فِي الْبَدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا
Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya.” (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

الزِّيَادَةُ فِي أَشْيَاءَ مَخْصُوصَةٍ
Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu.” (Al Mughni, 7/492)

Hukum Riba

Seperti kita ketahui bersama dan ini bukanlah suatu hal yang asing lagi bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam syari’at Islam. Ibnu Qudamah mengatakan,

وَهُوَ مُحَرَّمٌ بِالْكِتَابِ ، وَالسُّنَّةِ ، وَالْإِجْمَاعِ

“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni, 7/492)

Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَأَخْذِهِمْ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161). Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imron: 130)

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)
Di antara dalil haramnya riba dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ »

Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “[1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina).” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)

Maksud perkataan “mereka semua itu sama”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim, 3/64)

Dampak Riba yang Begitu Mengerikan

Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.

[Pertama] Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

[Kedua] Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)

[Ketiga] Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala

Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Sumber: rumaysho.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Ancaman bagi Orang yang Menyamakan Jual Beli dengan Riba

Banyak orang yang beranggapan bahwa ekonomi yang dibangun di atas landasan sistem ekonomi syariah adalah sama dengan sistem ekonomi riba. Padahal keduanya jauh berbeda dalam pelaksanaannya. Ekonomi syariah klasik dibangun di atas landasan “halalnya jual beli dan mengambil keuntungan”. Sementara ekonomi ribawi dibangun di atas fondasi “anda juga harus memberikan keuntungan pada saya yang telah berjasa memberimu pertolongan.” Konsep ekonomi syariah modern dibangun di atas landasan “saya dan anda sama-sama berhak mendapatkan keuntungan.” Setidaknya ketiga konsep ini yang untuk sementara waktu kita catat sebagai satu sisi kajian.

Masih bergelut pada penafsiran Syeikh Abu Ja’far at-Thabari tentang riba, kali ini kita akan mengupas kelanjutan ayat dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, yang berbunyi:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: “Demikian itu (orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur seperti orang gila), adalah disebabkan sesungguhnya dulu mereka telah berkata bahwa jual beli adalah sama dengan riba. Sementara Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Ayat ini diturunkan dengan latar belakang tradisi masyarakat jahiliyah pada waktu itu yang apabila melepaskan harta yang menjadi haknya kepada orang yang berutang, lalu terjadi penundaan pembayaran dari orang yang meminjam, maka si peminjam menyertainya dengan ucapan:
زدني في الأجل وأزيدك في مالك
Artinya: “Beri aku tempo lagi, nanti aku beri (konsekuensi penundaan) berupa tambahan lagi kembaliannyakepadamu”(Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo, Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38)
Awal prosesnya terjadinya transaksi jual beli yang disertai tambahan keuntungan. Namun seiring perjalanan waktu saat pelunasan, ternyata pihak yang berutang belum bisa melunasinya. Akhirnya, pihak yang berutang menyampaikan ucapan seperti di atas. Ketika keduanya ditegur, bahwa apa yang mereka lakukan adalah riba dan tidak halal, lalu mereka mengatakan:
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا
Artinya: “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)
Maksud mereka dengan perkataan ini adalah bahwa konsekuensi tambahan karena faktor penundaan adalah dianggap sah-sah saja. Mereka beralasan bahwa mau disampaikan di awal transaksi jual beli atau disampaikan di akhir masa pelunasan, konsekuensi penundaan tersebut adalah sama saja.
Padahal, menurut syariat, kedua hal ini adalah berbeda. Jika disampaikan di awal transaksi jual beli, maka ini adalah keuntungan dan hukumnya adalah halal. Jika disampaikan di akhir masa jatuh tempo pelunasan—yang diakibatkan adanya penundaan lagi – maka ini tidak sah dan masuk kategori riba. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala membantah dengan kelanjutan ayat:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: “Allah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Maksud dari ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh at-Thabari adalah:
وأحلّ الله الأرباح في التجارة والشراء والبيع “وحرّم الربا” يعني الزيادةَ التي يزاد رب المال بسبب زيادته غريمه في الأجل، وتأخيره دَيْنه عليه
Artinya: “Allah menghalalkan keuntungan dalam niaga dan jual beli, dan mengharamkan riba, yakni tambahan yang ditambahkan ke pemilik asal harta (rabbu al-maal) disebabkan adanya tambahan waktu penundaan tempo pembayaran orang yang berutang kepadanya, atau penundaan pelunasan utangnya.” (Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38)
Maksud dari ayat adalah bahwa jual beli dengan tempo itu boleh-boleh saja dan halal. Yang tidak halal adalah apabila terjadi penundaan, kemudian dilakukan adanya penambahan harta sebagai konsekuensi dari penundaan tersebut. Tentu dalam hal ini, sifat dari tambahan antara proses jual beli dan riba adalah jauh berbeda dari segi dampaknya. Oleh karena itu, menurut at-Thabari, seolah dalam ayat ini, Allah berfirman:
فليست الزيادتان اللتان إحداهما من وَجه البيع،والأخرى من وجه تأخير المال والزيادة في الأجل، سواء. وذلك أنِّي حرّمت إحدى الزيادتين = وهي التي من وجه تأخير المال والزيادة في الأجل = وأحللتُ الأخرى منهما، وهي التي من وجه الزيادة على رأس المال الذي ابتاع به البائع سلعته التي يبيعها، فيستفضلُ فَضْلها
Artinya: “Tiada antara dua tambahan yang salah satunya diperoleh dari jalan jual beli dan yang lain dari akibat penundaan utang dan konsekuensi tempo adalah sama. Salah satu dari kedua tambahan ini Aku haramkan, yaitu yang berasal dari akibat penundaan utang dan konsekuensi tempo (denda). Namun Aku menghalalkan yang lain yang diperoleh dari tambahan terhadap “harga pokok” (ra’sul mâl) dagangan yang dijual oleh penjual, lalu ia mengambil kelebihannya.” (Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, juz 5, halaman 38)
Yang dimaksud sebagai kelebihan dari harga pokok adalah keuntungan hasil jual beli. Yang dimaksud sebagai harga pokok barang adalah “harga dasar” saat penjual membelinya dari pasar tengkulak/grosir. Keuntungan penjualan yang dihalalkan adalah diperoleh dengan jalan menaikkan harga lalu dijual ke konsumen. Selisih antara harga pokok dengan harga jual adalah besar nilai keuntungan. Baik dijual secara kontan atau kredit, keduanya adalah sah dan halal, asalkan ada ketentuan yang jelas dalam aqad di awal sebelum berpisah majelis. Misalnya pembeli memutuskan membeli secara kredit. Atau misalnya, pembeli memutuskan secara kontan. Yang tidak boleh adalah apabila pembeli dan penjual tidak memutuskan cara belinya, dengan kontankah, atau dengan cara kreditkah. Ini yang dilarang.
Sementara itu, kelebihan yang didapat dari riba, adalah berbasis waktu tunda dan denda (الزيادة في الأجل). Misalnya, karena seorang pembeli tidak bisa melunasi pada waktu yang telah disepakati, maka ia dikenai kompensasi (denda) akibat penundaan waktu pembayaran. Transaksi seperti ini yang diindikasikan sebagai riba.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, bahwa keuntungan yang diperoleh dari hasil jual beli adalah tidak sama dengan tambahan yang ditetapkan dengan cara riba, semisal lewat denda. Kembali pada pokok ayat bahwa lewat QS al-Baqarah 275 ini, Allah subhanahu wata’ala menghalalkan jual beli, yang berarti menghalalkan pula dalam mengambil untung dari hasil jual beli. Sementara itu, Allah mengharamkan riba yang berarti pula mengharamkan mengambil kompensasi tambahan akibat penundaan waktu pelunasan (denda).
Kedudukan orang menyamakan keuntungan jual beli dengan kompensasi denda pelunasan, atau menyamakan jual beli dengan riba, sama dengan orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur dalam kondisi gila, sebagaimana permulaan Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 275 ini.
Sumber: nu.or.id

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

4 Cara Allah Memberi Rezeki

Anda seringkali merasakan sempitnya jalan mencari rezeki dan lebih banyak hanya menunggu rezeki dibandingkan berikhtiar maksimal? Ketahuilah menjemput rezeki Allah SWT adalah kewajiban setiap mahluk.

Diterangkan dalam Al-Qur’an, ada 4 cara Allah SWT memberi rezeki kepada makhluk-Nya:

1.Tingkat rezeki pertama, yaitu yang dijamin oleh Allah

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6). Artinya Allah akan memberikan kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yang terendah.

2.Tingkat rezeki kedua, yaitu yang didapat sesuai dengan apa yang diusahakan

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm: 39).

Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, ia akan mendapat lebih banyak. Tidak pandang dia itu muslim atau kafir.

3.Tingkat rezeki ketiga, yaitu rezeki lebih bagi orang-orang yang pandai bersyukur

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah dan mendapat rezeki yang lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4.Tingkat rezeki keempat, yaitu rezeki istimewa dari arah yang tidak disangka-sangka

“…. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq:2-3)

Peringkat rezeki yang ke empat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Rezeki ini akan Allah berikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin disaat seseorang berada dalam kondisi sangat sangat membutuhkan.

Rezeki ini akan diberikan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa. Allah SWT berikan rezeki ini karena kecintaan Allah SWT kepadanya.

Jadi, marilah senantiasa meningkatkan iman dan takwa serta ibadah kita kepada Allah SWT.

Insya Allah, berbagai kebaikan akan mengalir sejalan dengan usaha kira untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Diantaranya ketenangan hidup dan keberkahan rezeki.

Sumber: makassar.tribunnews.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Siapakah Pelaku Riba yang Diharamkan itu?

Syekh Abu Ja’far at-Thabari menafsirkan ayat bahwa pelaku riba dikaitkan keberadaannya dengan sifat gila adalah terjadi kelak di akhirat, yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya sehingga ia berjalan kebingungan seperti orang gila. Riwayat sanad pentakwilan oleh Abu Ja’far at-Thabari ini disandarkan pada Muhammad bin ‘Amru dan Al-Mutsanna dari Mujahid. Al-Mutsanna juga meriwayatkan dari jalur lain yaitu dari Abu Hudzaifah, dari Ibnu Abbas, dari Sa’id bin Jubair yang menukil dari Ibnu Abbas. Ibnu Humaid juga meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Jubair, yang berarti merupakan sanad mursal, tapi memiliki syahid dari jalur riwayat Al-Mutsanna yang juga mendapatkan dari jalur Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Dan masih banyak lagi riwayat yang lain yang berasal dari jalur sanad Qatadah, Al-Rabi’, Al-Dlahak, Ibnu Zaid dan Al-Sidi yang seluruhnya merupakan generasi mufassir masa sahabat.
Semua mufassir sahabat ini sepakat mentafsir penggalan ayat كما يقوم الذي يتخبطه الشيطان من المسsebagai orang yang akan dibangkitkan dari kuburnya di akhirat kelak sebagai layaknya orang gila.
Yang menjadi soal kemudian adalah, siapakah yang dimaksud dengan pelaku riba yang diancam kelak akan dibangkitkan seperti orang yang gila di sini?  Apakah termasuk orang yang memakan harta hasil riba, atau ada maksud lain?
Syekh Abu Ja’far at-Thabari menjelaskan dalam kitab tafsirnya:
فإن قال لنا قائل: أفرأيت من عمل ما نهى الله عنه من الرِّبا في تجارته ولم يأكله، أيستحقّ هذا الوعيدَ من الله؟
قيل: نعم، وليس المقصود من الربا في هذه الآية الأكلُ، إلا أنّ الذين نـزلت فيهم هذه الآيات يوم نـزلت، كانت طُعمتهم ومأكلُهم من الربا، فذكرهم بصفتهم، معظّمًا بذلك عليهم أمرَ الرّبا، ومقبِّحًا إليهم الحال التي هم عليها في مطاعمهم، وفي قوله جل ثناؤه: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
Artinya: “Jika ada yang bertanya kepada saya: Adakah (bagaimanakah) pandangan tuan tentang orang yang melakukan pekerjaan yang dilarang oleh Allah berupa praktik riba di dalam niaganya, akan tetapi ia tidak memakannya. Apakah ia termasuk juga yang diancam oleh Allah sebagaimana ayat ini dimaksudkan? Jawab: Iya. Maksud dari riba pada ayat ini bukan hanya sebatas makan saja, melainkan konteks ayat ini diturunkan adalah adanya kaum yang sumber makanan pokok dan mata pencahariannya berasal dari riba. Oleh karenanya, Allah sebutkan sifat-sifat mereka dengan penekanan pada perkara ribanya, dan mencela kondisi mereka terkait dengan sumber konsumsinya. Oleh karenanya, Allah berfirman dalam ayat lain:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
(wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah dan tinggalkan hal yang berkaitan dari riba, jika kalian beriman. Maka, jika kalian tidak melakukannya, maka umumkanlah perang dengan Allah dan Rasulnya (Q.S. Al-Baqarah: 278-279)) (Lihat: Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38).
Maksud dari ayat yang dinukil dari Q.S. Al-Baqarah ayat 278-279 di atas, adalah mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan riba. Status pengharaman ini berhubungan dengan وأنّ التحريم من الله في ذلك كان لكل معاني الرّبا، وأنّ سواءً العملُ به وأكلُه وأخذُه وإعطاؤُه, yaitu semua pihak baik pelaku, pemakan hasil riba, penarik riba dan pemberi riba. Tafsir ini didasarkan pada konteks sabda Nabi SAW dalam sebuah hadits:
لعن الله آكلَ الرّبا، وُموكِلَه، وكاتبَه، وشاهدَيْه إذا علموا به
Artinya: “Allah melaknatipemakan riba, orang yang mewakilkan, penulisnya dan orang-orang yang menyaksikannya, padahal ia mengetahui.”(Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wîli ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, hal: 38!). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, Al-Baihaqi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzy, Al-Darimy, Al-Nasaiy, dan juga tertuang dalam Kitab Musnad Abdullah bin Mas’ud.
Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitabnya yang berjudul Syurûhu al-Hadîts Mirqâtu al-Mafâtîhi Syarah Mishkatu al-Mashâbîhi, beliau memberikan penejelasan hadits di atas bahwa yang dimaksud dengan آكل الربا, adalah:
آخذه وإن لم يأكل ، وإنما خص بالأكل لأنه أعظم أنواع الانتفاع كما قال – تعالى: إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما
Artinya: “Orang yang memungut riba dan meskipun tidak memakannya. Hanya saja Rasulullah SAW menetapkan sifat kekhususan di sini dengan lafadh ‘memakan’, disebabkan karena aktifitas makan merupakan sebesar-besarnya aktifitas pemanfaatan. Sebagaimana Allah SWT (menunjukkan pengkhususan ini dalam firman-Nya) : “Sesungguhnya orang yang “memakan” harta anak yatim secara dhalim,…” (Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).
Adapun yang dimaksud dengan orang yang mewakilkan riba (الموكل), Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari menjelaskan:
معطيه لمن يأخذه ، وإن لم يأكل منه نظرا إلى أن الأكل هو الأغلب أو الأعظم كما تقدم
Artinya: “Orang yang memberikan riba kepada orang yang memungut meskipun ia sendiri tidak memakannya, dengan fokus kepada makan karena ia yang paling umum dan paling sering terjadi sebagaimana telah disampaikan terdahulu.” (Lihat: Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).
Antara آكل  dan موكل keduanya bersekutu dalam dosa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: هما شريكان في الإثم yang artinya: keduanya bersekutu di dalam dosa.
Selain itu, ada juga yang masuk unsur diancam oleh Rasulullah SAW, yaitu:
وكاتبه وشاهديه ) : قال النووي : فيه تصريح بتحريم كتابة المترابيين والشهادة عليهما وبتحريم الإعانة على الباطل)
Artinya: “Katib dan Syahid. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa dalam hadits ini terdapat penjelasan haramnya mencatat transaksi dua orang yang beraqad riba, bersaksi atas keduanya dan haramnya membantu kebathilan.”(Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa seiring haramnya riba, maka semua pihak yang berhubungan dengannya dihukumi sebagai haram dan berdosa. Tidak hanya pemakannya, orang yang mewakilkan, saksi dan penulisnya juga dihukumi sebagai haram disebabkan unsur ta’âwun (tolong menolong) dalam perkara batil.
Sumber: nu.or.id

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Riba Pada Bunga Bank

Dalam bahasa Arab bunga bank itu disebut dengan fawaid. Fawaid merupakan bentuk plural dari kata ‘faedah’ artinya suatu manfaat. Seolah-olah bunga ini diistilahkan dengan nama yang indah sehingga membuat kita tertipu jika melihat dari sekedar nama. Bunga ini adalah bonus yang diberikan oleh pihak perbankan pada simpanan dari nasabah, yang aslinya diambil dari keuntungan dari utang-piutang yang dilakukan oleh pihak bank.

Apapun namanya, bunga ataukan fawaid, tetap perlu dilihat hakekatnya. Keuntungan apa saja yang diambil dari utang piutang. Senyatanya itu adalah riba walau dirubah namanya dengan nama yang indah. Inilah riba yang haram berdasarkan Al Qur’an, hadits, dan ijma’ (kesepakatan) ulama. Para ulama telah menukil adanya ijma’ akan haramnya keuntungan bersyarat yang diambil dari utang piutang. Apa yang dilakukan pihak bank walaupun mereka namakan itu pinjaman, namun senyatanya itu bukan pinjaman. Mufti Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata,

“Secara hakekat, walaupun (pihak bank) menamakan hal itu qord (utang piutang), namun senyatanya bukan qord. Karena utang piutang dimaksudkan untuk tolong menolong dan berbuat baik. Transaksinya murni non komersial. Bentuknya adalah meminjamkan uang dan akan diganti beberapa waktu kemudian. Bunga bank itu sendiri adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam. Oleh karena itu yang namanya bunga bank yang diambil dari pinjam meminjam atau simpanan, itu adalah riba karena didapat dari penambahan (dalam utang piutang). Maka keuntungan dalam pinjaman dan simpanan boleh sama-sama disebut riba.”

Tulisan singkat di atas diolah dari penjelasan Syaikh Sholih bin Ghonim As Sadlan – salah seorang ulama senior di kota Riyadh dalam kitab fikih praktis beliau “Taysir Al Fiqh” hal. 398, terbitan Dar Blancia, cetakan pertama, 1424 H.

Dari penjelasan di atas, jangan tertipu pula dengan akal-akalan yang dilakukan oleh perbankan Syari’ah di negeri kita. Kita mesti tinjau dengan benar hakekat bagi hasil yang dilakukan oleh pihak bank syari’ah, jangan hanya dilihat dari sekedar nama. Benarkah itu bagi hasil ataukah memang untung dari utang piutang (alias riba)? Bagaimana mungkin pihak bank syari’ah bisa “bagi hasil” sedangkan secara hukum perbankan di negeri kita, setiap bank tidak diperkenankan melakukan usaha? Lalu bagaimana bisa dikatakan ada bagi hasil yang halal? Bagi hasil yang halal mustahil didapat dari utang piutang.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Jual Beli Dua Harga Haram, Bagaimana Dengan Kredit?

Jual beli secara kredit dibolehkan dalam hukum jual beli secara Islami. Kredit adalah membeli barang dengan harga yang berbeda antara pembayaran dalam bentuk tunai dengan bila dengan tenggang waktu. Ini dikenal dengan istilah: bai’ bit taqshid atau bai’bits-tsaman ‘ajil. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang (x) dengan harga yang sudah dipastikan nilainya (y) dengan masa pembayaran (pelunasan) (z) bulan.

Sedangkan hadits yang sering dijadikan dasar pelarangannya, sebenarnya bukan dalil yang tepat. Sebab jual beli kredit bukan jual beli dengan dua harga, tetapi jual beli dengan satu harga. Dua harga hanyalah pilihan di awal sebelum ada kesepakatan. Tapi begitu sudah ada kesepakatan, penjual dan pembeli harus menyepakati satu harga saja, tidak boleh diubah-ubah lagi.

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW melarang dua jual beli dalam satu transaksi. (HR. Nasai, Ibnu Hibban dan At-Tirmizi)

Secara segi kedudukan hukumnya, hadits ini digolongkan hasan oleh At-Tirmizi. Namun dari segi pengertiannya, banyak ulama berbeda pendapat.

Sebagian dari mereka ada yang menggunakan hadits ini sebagai dalil pengharam jual beli dengan sistem kredit. Karena menurut mereka, jual beli dengan sistem kredit ini adalah jual beli dengan dua harga yang berbeda. Kalau dibayar kontan harganya lebih murah, sedangkan kalau dibayar dengan cicilan, total harganya menjadi naik lantaran ada mark-up.

Mereka menyamakan transaksi kredit dengan jual beli ribawi atau bunga. Karena itu mereka mengatakan bahwa jual beli kredit itu haram.

Hukum Jual Beli Kredit

Apa yang dikatakan para ulama ini pada sebagiannya memang ada benarnya, namun bukan berarti semuanya haram. Sebab letak keharamannya bukan pada adanya dua harga, melainkan pada ketidakjelasan harga.

Jual beli kredit dibolehkan ketika terjadi kepastian harga dan tidak terjadi dua harga. Sejak awal keduanya menyepakati satu harga saja, tidak dua harga. Dua harga itu hanya pilihan di awal, sebelum transaksi disepakati. Penjual menawarkan harga a bila kontak dan harga b bila kredit. Tapi keduanya harus memutuskan sejak awal, bentuk mana yang mau dipilih.

Misalnya keduanya sepakat dengan harga b dengan dicicil, maka harga itu tidak boleh lagi diubah-ubah di tengah proses pencicilan. Kalau sudah sepakat dengan harga b, tidak boleh dinaikkan atau diturunkan lantaran kreditnya lebih cepat atau lebih lambat.

Karena itu jual beli secara kredit menjadi halal apabila terpenuhi beberapa hal berikut ini :

  1. Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalkan harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.
  2. Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bungan apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.
  3. Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai’ gharar (penipuan).

Untuk lebih jelasnya agar bisa dibedakan antara sistem kredit yang dibolehkan dan yang tidak, kami contohkan dua kasus sebagai berikut:

Contoh Transaksi Kredit yang Dibolehkan

Ahmad menawarkan sepeda motor pada Budi dengan harga 12 juta. Karena Budi tidak punya uang tunai 12 juta, maka dia minta pembayarannya dicicil (kredit).

Untuk itu Ahmad minta harganya menjadi 18 juta yang harus dilunasi dalam waktu 3 tahun. Harga 18 juta tidak berdasarkan bunga yang ditetapkan sekian persen, tetapi merupakan kesepakatan harga sejak awal.

Contoh Jual Beli Kredit yang Haram

Ali menawarkan sepeda motor kepada Iwan dengan harga 12 juta. Iwan membayar dengan cicilan dengan ketentuan bahwa setiap bulan dia terkena bunga 2% dari 12 juta atau dari sisa uang yang belum dibayarkan.

Transaksi seperti ini adalah riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti (fix), tetapi harganya tergantung dengan besar bunga dan masa cicilan. Yang seperti ini jelas haram.

Al-Qaradawi dalam buku HALAL HARAM mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan. Rasulullah SAW sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya.

Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa bila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka haram hukumnya dengan dasar bahwa tambahan harga itu berhubung masalah waktu dan itu sama dengan riba.

Tetapi jumhur (mayoritas) ulama membolehkan jual beli kredit ini, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Jual beli kredit tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman.

Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram. Imam Syaukani berkata, “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

Wallahu a’lam bishshawab

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Riba dan Kredit, Apakah Sama?

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Istilah ini sepertinya sudah mulai berkembang pada saat ini. Istilah ini menggambarkan betapa beratnya kehidupan orang miskin yang selalu merasakan susahnya menjalani hidup karena kebutuhan yang selalu mendesak setiap hari, baik kebutuhan diri sendiri maupun keluarga. Secara umum, kebutuhan manusia tidak hanya sebatas makan dan minum, namun kebutuhan sandang, papan pun juga demikian pentingnya. Karena ketiga kebutuhan ini memang wajib melekat pada diri manusia.

Saat ini, segala kebutuhan bisa dicapai dengan suatu usaha yang menghasilkan nilai, nilai yang oleh semua orang selalu dikaitkan dengan uang. Uang menjadi sangat penting untuk diperoleh guna memenuhi kebutuhan manusia setiap hari. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa:

Secara umum uang diartikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima oleh setiap orang. Dalam ilmu ekonomi, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.

Karena peran uang yang begitu penting sebagai alat tukar menukar dengan barang yang berharga, maka tidak sedikit orang yang ingin memiliki dan menimbunnya, agar kebutuhannya dapat terpenuhi dengan baik.

Dalam islam, kebutuhan manusia bisa dipenuhi dengan berbagai cara, seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan hutang piutang. Namun dari sekian banyak cara tersebut, ada hal yang harus dilakukan dan dijauhi. Seperti jual beli dan hutang piutang yang tidak diperbolehkan adanya riba didalamnya. Riba adalah pembayaran yang dikenakan terhadap pinjaman pokok sebagai imbalan terhadap masa pinjaman itu berlaku, di mana modal pinjaman tersebut digunakan. (Rahman, 1996:85).

Ibn Hajar ‘Askalani mengatakan bahwa, inti riba adalah kelebihan baik itu dalam bentuk barang maupun uang, seperti dua rupiah ditukar dengan sat rupiah. Menurut Allama Mahmud al-Hassan Taunki, riba berarti kelebihan atau pertambahan; dan jika dalam suatu kontrak penukaran barang (pertukaran barang dengan barag), lebih dari satu barang yang diminta sebagai penukaran satu barang yang sama, yang demikian itu disebut riba. (Rahman, 1996:83).

Riba pada dasarnya bisa terjadi pada akad jual beli dan hutang piutang. (Sarwat:24)(Subaily:36) Dalam akad hutang piutang, riba akad terlihat jelas ketika modal yang dipinjam harus dikembalikan dengan tambahan nilai yang lebih tinggi. Seperti contoh, Farhan meminjam uang karim sebesar Rp. 100.000,-. Pada saat jatuh tempo Farhan harus mengembalikan uang Karim sebesar Rp. 110.000,-. Nilai Rp. 10.000,- inilah yang yang dihukumi riba.

Sedangkan dalam jual beli, riba bisa terjadi karena adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Riba ini muncul karena adanya perbedaan, perubahan atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. (www.syariahbank.com, 2015). Jika melihat penjelasan di atas, maka jual beli yang bisa mengandung unsur riba adalah jual beli barang ribawi yang penyerahannya ditangguhkan.

Namun demikian, banyak yang menganggap bahwa jual beli kredit adalah bagian dari riba. Karena, jika dilihat dari luar, antara harga tunai dengan harta kredit ada perbedaan nilai yang sangat jelas. Seperti contoh, sepeda motor dijual dengan harga 10 juta secara tunai, jika kredit maka menjadi 13 juta. Kelebihan yang 3 juta ini dianggap sebagai riba, karena adanya tambahan dari pembayaran tunai, padahal tidak demikian.

Kredit dibolehkan dalam hukum jual-beli secara Islami. Kredit adalah membeli barang dengan harga yang berbeda antara pembayaran dalam bentuk tunai tunai dengan bila dengan tenggang waktu. Ini dikenal dengan istilah : bai` bit taqshid atau bai` bits-tsaman `ajil. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang (x) dengan harga yang sudah dipastikan nilainya (y) dengan masa pembayaran (pelunasan) (z) bulan. Namun, transaksi ini harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:

Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalnya : harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.

Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.

  • Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai` gharar (penipuan). (Sarwat, hlm:197-198).

Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan kedua contoh berikut ini:

  • Saiful menawarkan sepeda kepada Budi seharga Rp. 12 juta. Karena Budi tidak mempunyai uang Rp. 12 juta, maka dia hendak membelinya dengan cara cicil (kredit).
  • Namun, karena Budi meminta cicil, akhirnya Saiful menaikkan harga menjadi Rp. 15 juta dan dilunasi dalam waktu 1 tahun. Harga Rp. 15 juta ini tidak didasarkan pada bunga sekian persen tiap bulan, melainkan kesepakatan kedua belah pihak.
  • Transaksi ini diperbolehkan dalam islam
  • Joko menawarkan mobil senilai Rp. 50 juta kepada Parto. Karena Parto belum memiliki uang Rp. 50 juta, maka dia meminta untuk menyicil. Joko menerimanya asalkan Parto tiap bulan membayar 2 persen dari 50 juta tersebut selama 1 tahun. Transaksi ini termasuk riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti, tetapi harganya tergantung besar bunga dan masa cicilan.

Kedua contoh di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa jual beli kredit berbeda dengan riba. Perbedaan yang dominan adalah jika kredit, tambahan harga sudah disepakati bersama dan jelas jumlahnya, namun jika riba, tambahan tersebut tidak jelas dan ditentukan oleh tempo waktu pembayaran.

Alhamdulillah sekarang telah ada perumahan syariah yang sistem pembayarannya tanpa bank dan tanpa riba. Jika Anda ingin berhijrah dan memiliki tempat tinggal yang terbebas dari riba, silahkan konsultasikan dengan agen kami. Insya Allah dibantu hingga akad 🙂

Sumber: kompasiana.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Tempat Kembali Para Pembohong dan Pemakan Riba

Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa apabila Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam telah selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau menghadap ke arah kami seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang bermimpi tadi malam?”

Jundub melanjutkan kisahnya, “Apabila ada seseorang di antara kita yang bermimpi, maka dia menceritakan mimpinya, lalu Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, ‘Sesuai kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’

Kemudian pada suatu hari Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallambertanya kepada kita, ‘Apakah ada di antara kalian yang bermimpi?’ “Tidak ada, ‘jawab kami. Beliau bersabda, ‘Tadi malam aku bermimpi didatangi dua lelaki. Keduanya memegang tanganku dan membawaku ke bumi yang disucikan. Tiba-tiba aku menyaksikan ada seseorang yang duduk dan seorang orang lagi berdiri. Di tangannya terdapat gancu dari besi. Dia memasukkannya ke tulang rahang bawah temannya hingga tembus sampai ke tengkuk. Dan yang satunya juga melakukan yang sama terhadap temannya. Lalu tulang rahangnya merapat kembali seperti sedia kala. Kemudian dia melakukan lagi hal yang sama.

Aku pun bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami pun berjalan lagi hingga kami menjumpai seseorang yang berbaring pada tengkuknya dan seseorang berdiri. Di atas kepalanya terdapat batu besar atau berbaring dengan batu tersebut. Ketika batu tersebut dipukulkan ke kepala, maka batu tersebut menggelinding. Lalu dia bergegas mengambil batu tersebut. Belum sampai dia kembali ke tempat semula, kepala yang remuk tadi pulih kembali seperti sedia kala. Dia pun mengulangi lagi memukulkan batu tersebut.

Aku pun bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami berjalan menuju suatu kubangan semisal dapur api. Bagian atasnya sempit, sedangkan bagian bawahnya luas. Di bagian bawahnya dinyalakan api. Ternyata di dalamnya terdapat laki-laki dan perempuan telanjang.

Nyala api menghantam mereka dari bawah. Ketika api telah dekat dengan mereka, maka mereka naik sehingga hampir berhasil keluar. Ketika api padam, maka mereka kembali lagi.

Aku bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami melanjutkan perjalanan hingga kami menjumpai sungai darah yang di dalamnya terdapat seseorang yang berenang dan seseorang lagi di tepi sungai yang di hadapannya terdapat bebatuan. Dia menghadap ke arah orang yang ada di dalam sungai. Apabila orang yang ada di dalam sungai hendak keluar dari sungai, maka dia melempari orang tersebut dengan batu tepat pada mulutnya. Lalu dia kembali ke tempat semula. Ketika dia hendak keluar lagi, maka dia dilempari batu tepat pada mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula.

Aku bertanya, ‘Apa ini ?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami pun pergi hingga sampai ke suatu tanah hijau yang di dalamnya terdapat pohon besar. Di bagian dasar pohon terdapat seorang kakek dan anak-anak. Sedang di dekat pohon tersebut terdapat laki-laki yang menyalakan api di depannya. Lantas keduanya membawaku naik ke atas pohon. Kemudian keduanya membawaku masuk ke dalam sebuah rumah.

Aku belum pernah melihat rumah yang lebih bagus dari rumah tersebut. Di dalamnya terdapat kakek-kakek dan para pemuda. Kemudian keduanya membawaku naik lagi dan memasukkanku ke dalam rumah yang lebih bagus dan lebih utama.’

Aku berkata, ‘Kalian berdua telah mengajakku berkeliling malam ini. Tolong sampaikan kepadaku mengenai hal-hal yang telah kulihat.’

Keduanya berkata, ‘Baiklah. Orang yang kamu lihat tertembus tulang rahangnya ialah pembohong. Dia menceritakan suatu kebohongan. Lalu kebohongan tersebut di bawah ke tempat lain hingga sampai ke penjuru daerah. Dia akan mengalami hal tersebut sampai hari kiamat.’

Orang yang engkau lihat diremukkan kepalanya ialah seseorang yang diberi pengetahuan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang Al-Qur’an, tetapi dia tidur tanpa membacanya di malam hari dan dia tidak mengamalkannya di siang hari. Dia akan dipermalukan seperti itu hingga sampai hari kiamat.

Orang yang engkau lihat di dalam kubangan, mereka adalah para pezina. Sedangkan orang yang engkau lihat di dalam sungai adalah pemakan riba.

Seorang kakek yang ada di dasar pohon ialah Nabi Ibrahim, sedangkan anak-anak di sekelilingnya ialah anak-anak manusia. Sedangkan yang menyalakan api ialah Malaikat Mikail, penjaga neraka Jahannam. Rumah pertama ialah rumah kaum mukmin secara umum. Sedangkan rumah ini ialah rumah orang-orang yang mati syahid. Saya adalah Jibril, sedangkan ini Mikail. Angkat kepalamu!’

Aku pun mendonggakkan kepalaku, tiba-tiba ada istana yang mirip gumpalan awan. Keduanya berkata, ‘Itulah tempatmu.’ ‘Tinggalkanlah aku di sini biar aku masuk ke tempatku,’ kataku.

Dia berkata, ‘Umurmu masih tersisa. Engkau belum menyempurnakannya. Kalau engkau telah menyempurnakannya, pastilah engkau dapat mendatangi tempatmu.

Sumber: hidayatullah.com

***

Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita semua terhindar dari melakukan dosa-dosa di atas. Ayo kita sama-sama memperbaiki diri dan berjuang di jalan Allah dengan memerangi riba. Untuk memerangi riba, Anda butuh lingkungan yang mendukung. Salah satunya adalah lingkungan di rumah Anda dan juga tetangga-tetangga yang sholeh dan sholehah. Ayo pilih sendiri tetangga Anda di perumahan syari’ah yang Insya Allah bisa Anda dapatkan tanpa riba. Hubungi konsultan kami untuk berkonsultasi. Insya Allah dibantu sampai akad.

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Strategi Keluar dari Jerat Riba

Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam pernah berkata “Akan datang  suatu masa ketika semua orang memakan riba. Mereka yang tidak mau makan riba pun pasti terkena debunya”  (HR Abu Dawud).  Hari ini riba telah terintergasi  ke dalam sistem. Kita semua  yang berada di dalamnya  hidup  dan menghidupi  riba.  Kebanyakan orang sekarang ini bahkan telah menyamakan riba dengan perdagangan. Tetapi dalam al Qur’an Allah  telah ditegaskan “Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba”.

Kita harus menerima kenyataan ini, dan memahaminya.  Kita juga harus mengerti konsekuensinya, karena  Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam telah menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat riba – langsung atau tidak langsung – yaitu “yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang menyaksikannya” adalah sama (H.R. Muslim).  Allah  Ta’ala mendeskripsikan orang-orang yang terlibat dengan riba ini ”tidak akan berdiri dengan tenang, melainkan seperti orang yang kerasukan setan.” Riba adalah  psikosis sosial.

Dosa  terlibat dengan riba yang  juga sudah disampaikan oleh Nabiullah sallallahu’alaihi wassalam, adalah sangat besar,  ’’yang paling ringan dosanya ialah setara dengan seorang lelaki  yang bersetubuh dengan ibunya” (HR Abu Hurairah).  Dalam riwayat lain oleh Ahmad dari  Abdullah bin Hanzhalah  dikatakan  Rasulullah salallahu alaihi wassalam   menyatakan: “Satu dirham riba, yang diterima oleh seseorang dengan sepengetahuannya, lebih buruk dibanding berzina tiga puluh enam kali.”  Allah SWT  telah pula menegaskan mereka yang terus ingkar dan terus terlibat dengan riba “tidak akan dicintai dan berada dalam api neraka selama-lamanya.”

Jejaring Riba

Selain memahami dosa dan hukuman akibat terlibat dengan riba, setiap  muslim harus mengerti  dampak dari riba itu sendiri. Riba adalah sebentuk psikosis sosial, suatu penyakit jiwa yang menjangkiti kehidupan, yang muncul dalam berbagai fenomena sehari-hari.   Hari ini angota masyakarat umumnya hidup gelisah, khawatir dengan masa depan, tidak berani menghadapi hidup, menjadi kikir dan bakhil serta enggan bersedekah, egois dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan saling membunuh atau membunuh dirinya sendiri.  Namun, justru karena itu pulalah, industri riba – asuransi, aneka bentuk kredit perbankan maupun nonperbankan, jaminan tunjangan hari tua dan pensiun, dsb –  semakin merajalela.

Psikosis massal lebih lanjut diperlukan bagi suburnya industri riba ini. Seluruh anggota masyarakat,  dengan begitu,  dapat dijebak, dijerat, dan terus diperbudak dalam debtorship –  hidup dalam hutang.  Setiap muslim harus memahami bahwa riba telah menjadi jejaring kehidupan yang berkaitan satu dengan yang lain. Karena itu harus dipahami elemen penyusun riba yang paling mendasar, yaitu tiga serangkai: mata uang kertas, bunga, dan perbankan. Seluruh industri riba dimulai dan dijalin oleh tiga elemen dasar ini.  Dengan memahami hal mendasar ini setiap muslim akan bisa keluar dari jeratan riba.

Bagi kebanyakan orang sekilas  akan menjadi hal yang mustahil untuk tidak terlibat dengan riba dan keluar dari jeratannya.   Bukankah setiap orang, muslim dan nonmuslim, saat ini tidak ada yang tidak terkait dengan uang kertas, bunga, dan perbankan? Kalau kita melihatnya dari kacamata “teknis”, dan mengajukan agenda “bagaimana cara saya memerangi riba”, maka kita tidak akan menemukan pintu keluar.

Melihat masalah riba dari kacamata personal-individual  hanya akan menimbulkan perasaan tak berdaya: bagaimana mungkin sistem yang telah begitu kokoh dan lazim dapat diatasi? Bagaimana mungkin kita bisa tidak terlibat dengan uang kertas dan perbankan, “satu-satunya” cara hidup yang berlaku hari ini?  Maka, menghadapi soal riba, yang dibutuhkan pertama-atama adalah keimanan dan ketaqwaan. Allah Ta’ala menyatakan “meninggalkan riba adalah bukti keimanan dan ketaqwaan” (Al Baqarah: 278).

Artinya kita harus mengubah posisi kita dengan menyatakan “karena Allah Ta’ala telah mengharamkan riba dan mengumandangkan perang terhadapnya”, maka saya harus menyangkalnya. Sistem uang kertas, bunga dan perbankan, harus kita sangkal. KIta tidak perlu melawan sistem riba. Yang perlu kita lakukan adalah menegakkan yang halal, menghadirkan yang haq, dengan menghidupkan kembali perdagangan dan meninggalkan riba. Dan itu berarti kembali menjalankan muamalat.

Muamalat Sebagai Jalan Keluar

Muamalat yang dimaksud di sini dalam arti yang khusus, yaitu interaksi sosial dan politik, yang seharusnya dijalankan umat Islam, dan bukan sekadar urusan personal dan keluarga, seperti urusan pernikahan dan warisan.  Interaksi sosial yang paling pokok dalam hal ini adalah transaksi komersial dan bisnis. Pengertian perdagangan harus dirujuk kepada fiqih, hingga pemisahannya dari riba menjadi jelas.

Perdagangan berkaitan dengan kegiatan tukar-menukar satu benda berharga, misalnya seekor kambing, dengan benda berharga lainnya misalnya koin emas sebagai alat tukar, dengan surplus pada satu sisinya yakni pihak penjual, dan kemanfaatan pada sisi lainnya, yakni pembeli.  Dalam bahasa fiqih Islam perdagangan adalah “tamliku ‘ayn malliyatin,” mendaptakan harta (‘ayn, komoditas riil) dari harta (mal)  yang lain.  Dengan demikian, perdagangan adalah aktifitas produktif, menghasilkan surplus, sekaligus menggerakkan harta yang merupakan aset nyata dari satu tangan ke tangan lainnya. Perdagangan adalah instrumen fitrah pemerataan kekayaan.  Menukarkan kambing dengan emas atau perak, adalah perdagangan. Menukarkan seekor kambing dengan (uang) kertas, adalah riba, bukan perdagangan.

Dengan mengembalikan pengertian dan praktek perdagangan ini saja kita akan merombak tatanan sosial kita secara mendasar. Penyangkalan kita akan uang kertas dan riba akan membawa kita kepada tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang baru sama sekali. Sebab, hal ini mensyaratkan bahwa kita harus mengembalikan mata uang yang ditetapkan oleh Rasululllah salallahualaihi wassalam, yaitu Dinar emas, Dirham perak, dan fulus. Dan untuk dapat mengembalkannya kaum muslimin harus mengembalikan sunnah yang lain, yaitu berjamaah, hidup terpimpin di bawah para amir dan sultan, dalam amirat-amirat dan kesultanan.

Dalam kehidupan berjamaah, di bawah kepemimpinan para Amir, Dinar dan Dirham dapat dikembalikan, zakat direstorasi, pasar-pasar diadakan, perdagangan dijaga, hudud dan diyat dapat diterapkan, ringkasnya seluruh kepentingan umum, public interest, dapat dilindungi dan dijaga di bawah syariat Islam.  Tanpa amirat dan sultaniyya syariat Islam hanya menjadi slogan dan idealisme. Islam bukan idealisme, bukan ideologi.   Islam adalah perilaku, eksistensialisme tradisi yang telah  berlangsung dari seorang Rasul salallahualaihi wasallam, ditularkan kepada para Sahabatnya, Tabiin, Tabiit Tabiin, terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya, sampai kemudian dihentikan oleh modernisme, oleh rasionalisme dan humanisme.

Rasionalisme dan humanismelah yang mengubah cara hidup kaum muslimin dalam sistem sekuler, dengan seluruh tatanan sosial politiknya, yang menjadikan riba sebagai basisnya. Struktur politik negara nasional, dengan bank sentral dan uang kertasnya, serta seluruh  paradigma dan instrumen teknisnya, membawa seluruh umat manusia dalam psikosis sosial   riba, dan jeratan debtorship. Untuk keluar darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh Shaykh Abdalqadir as Sufi,  kita harus memulainya dengan mengafirmasikan dua hal: “perdagangan tanpa riba dan pemerintahan tanpa negara.”

Selebihnya, adalah soal teknis, yang tidak lagi menjadi urusan yang sulit.

Source : zaimsaidi.com

 

*******************************************

___________________________

Silahkan klik jika berminat Listing Kami

Perumahan-Syariah

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

1 2