Jual Beli Dua Harga Haram, Bagaimana Dengan Kredit?

Jual beli secara kredit dibolehkan dalam hukum jual beli secara Islami. Kredit adalah membeli barang dengan harga yang berbeda antara pembayaran dalam bentuk tunai dengan bila dengan tenggang waktu. Ini dikenal dengan istilah: bai’ bit taqshid atau bai’bits-tsaman ‘ajil. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang (x) dengan harga yang sudah dipastikan nilainya (y) dengan masa pembayaran (pelunasan) (z) bulan.

Sedangkan hadits yang sering dijadikan dasar pelarangannya, sebenarnya bukan dalil yang tepat. Sebab jual beli kredit bukan jual beli dengan dua harga, tetapi jual beli dengan satu harga. Dua harga hanyalah pilihan di awal sebelum ada kesepakatan. Tapi begitu sudah ada kesepakatan, penjual dan pembeli harus menyepakati satu harga saja, tidak boleh diubah-ubah lagi.

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW melarang dua jual beli dalam satu transaksi. (HR. Nasai, Ibnu Hibban dan At-Tirmizi)

Secara segi kedudukan hukumnya, hadits ini digolongkan hasan oleh At-Tirmizi. Namun dari segi pengertiannya, banyak ulama berbeda pendapat.

Sebagian dari mereka ada yang menggunakan hadits ini sebagai dalil pengharam jual beli dengan sistem kredit. Karena menurut mereka, jual beli dengan sistem kredit ini adalah jual beli dengan dua harga yang berbeda. Kalau dibayar kontan harganya lebih murah, sedangkan kalau dibayar dengan cicilan, total harganya menjadi naik lantaran ada mark-up.

Mereka menyamakan transaksi kredit dengan jual beli ribawi atau bunga. Karena itu mereka mengatakan bahwa jual beli kredit itu haram.

Hukum Jual Beli Kredit

Apa yang dikatakan para ulama ini pada sebagiannya memang ada benarnya, namun bukan berarti semuanya haram. Sebab letak keharamannya bukan pada adanya dua harga, melainkan pada ketidakjelasan harga.

Jual beli kredit dibolehkan ketika terjadi kepastian harga dan tidak terjadi dua harga. Sejak awal keduanya menyepakati satu harga saja, tidak dua harga. Dua harga itu hanya pilihan di awal, sebelum transaksi disepakati. Penjual menawarkan harga a bila kontak dan harga b bila kredit. Tapi keduanya harus memutuskan sejak awal, bentuk mana yang mau dipilih.

Misalnya keduanya sepakat dengan harga b dengan dicicil, maka harga itu tidak boleh lagi diubah-ubah di tengah proses pencicilan. Kalau sudah sepakat dengan harga b, tidak boleh dinaikkan atau diturunkan lantaran kreditnya lebih cepat atau lebih lambat.

Karena itu jual beli secara kredit menjadi halal apabila terpenuhi beberapa hal berikut ini :

  1. Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalkan harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.
  2. Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bungan apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.
  3. Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai’ gharar (penipuan).

Untuk lebih jelasnya agar bisa dibedakan antara sistem kredit yang dibolehkan dan yang tidak, kami contohkan dua kasus sebagai berikut:

Contoh Transaksi Kredit yang Dibolehkan

Ahmad menawarkan sepeda motor pada Budi dengan harga 12 juta. Karena Budi tidak punya uang tunai 12 juta, maka dia minta pembayarannya dicicil (kredit).

Untuk itu Ahmad minta harganya menjadi 18 juta yang harus dilunasi dalam waktu 3 tahun. Harga 18 juta tidak berdasarkan bunga yang ditetapkan sekian persen, tetapi merupakan kesepakatan harga sejak awal.

Contoh Jual Beli Kredit yang Haram

Ali menawarkan sepeda motor kepada Iwan dengan harga 12 juta. Iwan membayar dengan cicilan dengan ketentuan bahwa setiap bulan dia terkena bunga 2% dari 12 juta atau dari sisa uang yang belum dibayarkan.

Transaksi seperti ini adalah riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti (fix), tetapi harganya tergantung dengan besar bunga dan masa cicilan. Yang seperti ini jelas haram.

Al-Qaradawi dalam buku HALAL HARAM mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan. Rasulullah SAW sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya.

Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa bila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka haram hukumnya dengan dasar bahwa tambahan harga itu berhubung masalah waktu dan itu sama dengan riba.

Tetapi jumhur (mayoritas) ulama membolehkan jual beli kredit ini, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Jual beli kredit tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman.

Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram. Imam Syaukani berkata, “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

Wallahu a’lam bishshawab

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Riba dan Kredit, Apakah Sama?

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Istilah ini sepertinya sudah mulai berkembang pada saat ini. Istilah ini menggambarkan betapa beratnya kehidupan orang miskin yang selalu merasakan susahnya menjalani hidup karena kebutuhan yang selalu mendesak setiap hari, baik kebutuhan diri sendiri maupun keluarga. Secara umum, kebutuhan manusia tidak hanya sebatas makan dan minum, namun kebutuhan sandang, papan pun juga demikian pentingnya. Karena ketiga kebutuhan ini memang wajib melekat pada diri manusia.

Saat ini, segala kebutuhan bisa dicapai dengan suatu usaha yang menghasilkan nilai, nilai yang oleh semua orang selalu dikaitkan dengan uang. Uang menjadi sangat penting untuk diperoleh guna memenuhi kebutuhan manusia setiap hari. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa:

Secara umum uang diartikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima oleh setiap orang. Dalam ilmu ekonomi, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.

Karena peran uang yang begitu penting sebagai alat tukar menukar dengan barang yang berharga, maka tidak sedikit orang yang ingin memiliki dan menimbunnya, agar kebutuhannya dapat terpenuhi dengan baik.

Dalam islam, kebutuhan manusia bisa dipenuhi dengan berbagai cara, seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan hutang piutang. Namun dari sekian banyak cara tersebut, ada hal yang harus dilakukan dan dijauhi. Seperti jual beli dan hutang piutang yang tidak diperbolehkan adanya riba didalamnya. Riba adalah pembayaran yang dikenakan terhadap pinjaman pokok sebagai imbalan terhadap masa pinjaman itu berlaku, di mana modal pinjaman tersebut digunakan. (Rahman, 1996:85).

Ibn Hajar ‘Askalani mengatakan bahwa, inti riba adalah kelebihan baik itu dalam bentuk barang maupun uang, seperti dua rupiah ditukar dengan sat rupiah. Menurut Allama Mahmud al-Hassan Taunki, riba berarti kelebihan atau pertambahan; dan jika dalam suatu kontrak penukaran barang (pertukaran barang dengan barag), lebih dari satu barang yang diminta sebagai penukaran satu barang yang sama, yang demikian itu disebut riba. (Rahman, 1996:83).

Riba pada dasarnya bisa terjadi pada akad jual beli dan hutang piutang. (Sarwat:24)(Subaily:36) Dalam akad hutang piutang, riba akad terlihat jelas ketika modal yang dipinjam harus dikembalikan dengan tambahan nilai yang lebih tinggi. Seperti contoh, Farhan meminjam uang karim sebesar Rp. 100.000,-. Pada saat jatuh tempo Farhan harus mengembalikan uang Karim sebesar Rp. 110.000,-. Nilai Rp. 10.000,- inilah yang yang dihukumi riba.

Sedangkan dalam jual beli, riba bisa terjadi karena adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Riba ini muncul karena adanya perbedaan, perubahan atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. (www.syariahbank.com, 2015). Jika melihat penjelasan di atas, maka jual beli yang bisa mengandung unsur riba adalah jual beli barang ribawi yang penyerahannya ditangguhkan.

Namun demikian, banyak yang menganggap bahwa jual beli kredit adalah bagian dari riba. Karena, jika dilihat dari luar, antara harga tunai dengan harta kredit ada perbedaan nilai yang sangat jelas. Seperti contoh, sepeda motor dijual dengan harga 10 juta secara tunai, jika kredit maka menjadi 13 juta. Kelebihan yang 3 juta ini dianggap sebagai riba, karena adanya tambahan dari pembayaran tunai, padahal tidak demikian.

Kredit dibolehkan dalam hukum jual-beli secara Islami. Kredit adalah membeli barang dengan harga yang berbeda antara pembayaran dalam bentuk tunai tunai dengan bila dengan tenggang waktu. Ini dikenal dengan istilah : bai` bit taqshid atau bai` bits-tsaman `ajil. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang (x) dengan harga yang sudah dipastikan nilainya (y) dengan masa pembayaran (pelunasan) (z) bulan. Namun, transaksi ini harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:

Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalnya : harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.

Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.

  • Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai` gharar (penipuan). (Sarwat, hlm:197-198).

Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan kedua contoh berikut ini:

  • Saiful menawarkan sepeda kepada Budi seharga Rp. 12 juta. Karena Budi tidak mempunyai uang Rp. 12 juta, maka dia hendak membelinya dengan cara cicil (kredit).
  • Namun, karena Budi meminta cicil, akhirnya Saiful menaikkan harga menjadi Rp. 15 juta dan dilunasi dalam waktu 1 tahun. Harga Rp. 15 juta ini tidak didasarkan pada bunga sekian persen tiap bulan, melainkan kesepakatan kedua belah pihak.
  • Transaksi ini diperbolehkan dalam islam
  • Joko menawarkan mobil senilai Rp. 50 juta kepada Parto. Karena Parto belum memiliki uang Rp. 50 juta, maka dia meminta untuk menyicil. Joko menerimanya asalkan Parto tiap bulan membayar 2 persen dari 50 juta tersebut selama 1 tahun. Transaksi ini termasuk riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti, tetapi harganya tergantung besar bunga dan masa cicilan.

Kedua contoh di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa jual beli kredit berbeda dengan riba. Perbedaan yang dominan adalah jika kredit, tambahan harga sudah disepakati bersama dan jelas jumlahnya, namun jika riba, tambahan tersebut tidak jelas dan ditentukan oleh tempo waktu pembayaran.

Alhamdulillah sekarang telah ada perumahan syariah yang sistem pembayarannya tanpa bank dan tanpa riba. Jika Anda ingin berhijrah dan memiliki tempat tinggal yang terbebas dari riba, silahkan konsultasikan dengan agen kami. Insya Allah dibantu hingga akad 🙂

Sumber: kompasiana.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing