Tiga Kondisi Ketika Doa Seorang Hamba Pasti Terkabul

 

Dikabulkannya sebuah doa tergantung beberapa faktor. Hal yang paling utama adalah kebutuhan mendesak yang dimiliki seorang hamba. Namun selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa kita manfaatkan untuk berdoa, yang memiliki keutamannya sendiri dibandingkan kondisi-kondisi pada umumnya. Ini sebagaimana yang tertera dalam riwayat di bawah ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

ثلاث حق على الله أن لا يرد لهم دعوة: الصائم حتى يفطر، والمظلوم حتى ينتصر، والمسافر حتى يرجع.

Tiga hal yang Allah akan kabulkan doalnya: doa orang yang berpuasa sampai berbuka, doa orang yang terdzalimi sampai ia ditolong dan doa seorang musafir sampai dia pulang

Sabda Nabi Muhammad SAW di atas adalah bentuk penghargaan bagi seorang hamba yang tengah berada dalam ujian atau cobaan. Berpuasa, didzalimi orang lain dan melakukan safar adalah tiga kondisi cobaan yang lumrah dialami oleh seseorang. Ketiganya mengandung sesuatu yang tidak enak, tidak nyaman dan cenderung menganggu.

Seperti berpuasa misalnya. Seseorang dicegah untuk makan makanan yang disukainya dan minum minuman favoritnya. Sejak pagi hari sampai senja ia dituntut untuk mengosongkan perutnya dan menahan segenap keinginannya terhadap hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Dalam kondisi yang tidak menyenangkan seperti ini, seseorang dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dan menahan syahwatnya. Dan dalam kondisi seperti inilah, secara tidak langsung, doa yang dipanjatkannya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Begitu juga dengan kondisi terdzalimi. Tidak mengenakkan, sama seperti puasa. Melakukan safar berhari-hari, dari satu tempat ke tempat yang lain. Meninggalkan anak-istri, menanggung rindu kepada keluarga dan suasana kampong halaman, merupakan ujian yang tidak ringan. Dan, dalam kondisi-kondisi semacam inilah, jika dilalui dengan sabar, doa seorang hamba akan langsung didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT.

Maka bagi kamu yang berpuasa, terdzalimi dan sedang berpergian, manfaatkan kondisi-kondisi itu dengan banyak berdoa dan meminta kepada Allah SWT.

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

3 Kisah Inspiratif Mereka yang Memutuskan Untuk Berhijrah

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya berpindah atau meninggalkan tempat. Menurut sejarahnya sendiri, hijrah sudah dilakukan terlebih dahulu oleh Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya dari Mekkah ke Madinah untuk mempertahankan dan menegakkan akidah dan syari’at Islam.

Namun, di jaman sekarang, makna hijrah dapat diartikan sebagai meninggalkan sesuatu yang buruk demi menuju sesuatu yang lebih baik. Misalnya yang semula belum menggunakan jilbab menjadi menggunakan jilbab. Yang sebelumnya senang bergosip menjadi menahan diri untuk tidak bergosip dan seterusnya.

Dalam membuat keputusan untuk berhijrah tentunya banyak faktor yang memengaruhi, entah itu dari keluarga, sahabat, keinginan diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik atau belajar dari kisah orang lain.

Untukmu yang ingin berhijrah ataupun yang penasaran dengan 3 kisah inspiratif ini, yuk kita simak aja!

Terima kasih sahabatku, kini aku memutuskan untuk berhijrah

Alhamdulillah aku bertemu sama temen-temen yang selalu mengingatkan. walau dulunya aku suka galak sama mereka gara gara aku kesel mereka ingetin terus. Mereka pendiem, tapi kalau nyuruh sholat atau pakai kerudung tuh baweeeel banget. Sampai akhirnya aku kesel dan bilang “Ya Aku tuh gini. ngga usah diatur atur”. Padahal temen aku itu baik banget, tapi aku bentak bentak. Sampai suatu hari ada status difacebook katanya gini “Menolak kebenaran itu adalah kesombongan dan tak akan masuk surga orang yang dihatinya ada kesombongan walau sebesar biji kenari”.

Tapi memang belum terlalu mempan. Tapi seiring berjalannya waktu, entah kenapa Allah selalu ngingetin aku sama kematian. Aku mulai ngerasa selama aku hidup aku ngga melakukan apapun untuk akhirat. Malah untuk orang tua yang sebegitunya udah berjuang buat aku sedari aku dalam kandungan, aku khawatir ngga bisa bantu nanti di akhirat malah khawatirnya aku malah jadi ngeberatin mereka. Padahal anak mereka perempuan (aku pernah baca, jika berhasil menjadi anak perempuannya shalihah maka syurga untuk orang tuanya). Aku ngerasa jahat banget kalau aku nyusahin mereka dunia akhirat.

Dunia ini ngga akan lama. selama ini Aku disibukkin sama dunia yang ngga ada harganya dimata Allah. Aku lebih banyak kufur dari pada syukur. Aku lebih sering ngorbanin akhirat yg kekal daripada dunia yang sebentar.

Duka yang hadir dalam perjalanan hijrahku yaitu awal pakai kerudung panjang, keluargaku mulai agak beda. Mamah bapak selalu curigaan aku ikut aliran apa. sampai bapak aku bilang “Teh kalau teteh ikut aliran sesat, bapa mendingan gantung diri “.

Belum lagi mamah aku malah masukin aku ke tempat kursus jahit, katanya dari pada ikut aliran apa gitu kalau kuliah, mending keluar aja kuliahnya biar jadi tukang jahit biar aman walau di rumah. Terus pertama pakai kerudung aku udah mau pakai cadar, jadi wajar sih kalau pada kaget. Terus orang-orang juga suka mandang gimana gitu, suka bilang kaya ibu-ibu, kaya superman, sok alim dan lain-lain.

Sempet agak down sih, tapi alhamdulillah temen-temen yang lainnya selalu ngingetin. Aku niatnya karena siapa, kalau bukan karena Allah pasti cepet goyah. Terus pernah ada yang ngingetin katanya “Harus istiqomah ya, kalau pengen enak bukan istiqomah namanya, tapi istirahat” . Terus yang terakhir ada yang bilang kita itu udah diakhir zaman, beragama dizaman ini kaya menggenggam bara api. Kalau setengah-setengah kita kerasa sakitnya. Tapi kalau kita genggam erat agama kita, bara itu akan mati dan kita ngga akan ngerasa sakitnya.

Alhamdulillah sukanya banyak banget. Aku ngerasa lega banget waktu orang tua aku bilang, teh boleh pake kerudung panjang asal jangan dilepas lagi ya. Dulu waktu aku mau pakai cadar, mereka selalu bilang, kalau mau pakai cadar, jangan jadi anak mama lagi. Tapi alhamdulillaah sekarang bilang, boleh pakai cadar kalau nanti udah nikah ya. Alhamdulillah aku punya sahabat yang dulunya aku galakkin karena suka ngingetin, dia marah kalau aku salah, tapi selalu ada dan selalu mendukung, ikut senang kalau aku bahagia, memotivasi kalau aku turun semangatnya. Alhamdulillaah, pakaian ini ngelindungi banget, laki-laki juga ga sembarang megang kaya ke perempuan lain. Alhamdulillah, mencoba dekat sama Allah itu enak banget. Aku yang khawatiran, ngga pedean dan suka bingung karena Aku ngga tau ngelakuin sesuatu untuk siapa, sekarang lega, tenang dan bahagia terus. Karena cuma Allaah yang bisa diandalkan, dipercaya dan sayang banget sama kita.

Pertanyaan-pertanyaan itu menuntunku menuju sebuah perjalanan hijrah

Awalnya Aku pernah masuk pesantren waktu kelas 7 smp & ga bertahan lama disana. Tapi dampaknya bertahan lama, karna temen temen tau aku pernah pesantren (padahal cuma selewat karna waktu itu nia ga betah & akhirnya kabur dari pesantren) pasti suka tanya tanya tentang agama ke aku, selalu beranggapan aku lebih baik dari mereka. Awalnya sih aku ngerasa biasa biasa aja sama pertanyaan pertanyaan mereka. Jawab santai aja setauku.

Sampai akhirnya ada kejadian (mungkin ini awalnya) temenku nanya pertanyaan yang menurutku waktu itu dalem banget dan aku ga tau jawabannya. Rasanya malu lah. Selain itu guru agamaku mulai ngandelin aku, dari situ aku mikir orang orang sekitarku “nyangka” aku tuh sebaik yang mereka pikir, padahal aku ngerasa aku jauh dari yang mereka sangka. aku malu sama diri sendiri, ngerasa ga pantes di puji ini itu akhirnya aku memutuskan mau lebih baik lagi biar ga ada fitnah dari penilaian mereka yang emang menurutku berlebihan & Aku merasa bersalah sama jawabanku dari pertanyaan temen temen yang entengnya aku jawab padahal itu pertanyaan tentang agama Allah. Waktu itu aku masih pake jilbab seadanya dan masih pakai celana.

Ngga putus buat terus memperbaiki diri. Masuk SMA mulai gabung sama DKM sekolah. Karena menutup aurat aja ngga cukup, tetep aja waktu itu masih belum paham betul gimana seorang muslimah yang baik, gimana sebenarnya islam. Pertama kumpul sama anggota DKM kaget juga, karena aku paling beda dari mereka. Cuma aku yang pake celana & jilbab seadanya. Hasilnya, di kumpul pertama aku ga konsen sama sekali sama pematerinya. Aku malah merhatiin temen temen sekeliling yang kalo di liat adem banget. Pertemuan selanjutnya aku nyoba pake rok & jilbab yang seadanya karna masih belum pede pake gamis. Sampe akhirnya aku mulai beli kerudung yang lebar sedikit.

Alhamdulillah perubahan aku banyak respon positif terutama dari keluarga, karna emang maunya keluarga tuh kaya gitu. Temen-temen deket juga dukung ya walaupun awalnya ngerasa aneh mereka khawatir aku ikut aliran yang macem macem.

Duka nya, suka di bilang kaya ibu-ibu pake daster, terus suka diejek “Mau pengajian kemana?”. Tapi jauh dari itu Alhamdulillah, aku ngerasa aman kalaupun jalan sendirian ngelewatin tongkrongan cowok-cowok yang biasanya suka godain cewe yang lewat. Mereka ga berani siul siul seperti biasa ke cewe yang lewat paling di do’ain “assalamualaikum bu haji” yaa.. Aamiin-in aja. Selain itu, sering banget ngerasain nyaman, tenang tanpa alasan.

Meninggalkan cinta yang lalu, kumantapkan hati untuk berhijrah

Bermula dari seseorang yang telah menjadi mantan. Dia pernah bilang gini sama aku, “berpikirlah wahai sang pemikir”. Dari sana aku berpikir keras sebenarnya apa yang salah dari diriku. Apa yang kurang dariku?. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk merubah penampilanku secara tiba tiba dengan berkerudung lebar dan mulai tidak bersentuhan (salaman) dengan yang bukan muhrim. Niat ku berubah adalah untuk diriku yang lebih baik, bukan untuk dipandang orang lain. Aku belajar untuk berpikir logis dan menjalankan kehidupan sesuai syariat agama.

Sedikit cerita. Awalnya sulit. Hari pertama aku berkerudung lebar, orang-orang kaget liat aku. Temen-temen pangling sama aku, untungnya mereka ga protes sama apa yang Aaku pake sekarang. Tapi waktu itu pernah ada satu senior aku yang nyodorin tangannya ke aku buat salaman, otomatis aku tolak dengan salaman yang ngga kena gitu. Tapi tangan dia tetep diem meski aku ngga bales salamnya. Setelah beberapa detik, dia balas salaman aku dengan tangan tertutup. Aku rasa dia nguji aku waktu itu. Tapi Aku lolos, sampai sekarang aku nyaman banget pake kerudung lebar.

Rasanya seneng banget, pake kerudung lebar tuh lebih dihargai sama cowok, ga berani dipegang-pegang sembarangan. Kalo mau salaman juga mereka ngerti, ngga akan sentuh tangan. Terus kalo gerak juga lebih bebas. Aku ga perlu takut orang orang ngeliatin karena aku seksi, karena tertutup dengan rapih.

Dukanya adalah lebih ke Muhasabah diri sih. Ketika iman lagi turun, kadang Aku ngerasa malu aja sama kerudung aku. Jadi kerudung lebar ini bener bener jaga sikap aku banget.

Dari ketiga kisah diatas dapat disimpulkan bahwa hidayah bagaikan sebuah udara segar, Ia tidak akan datang untuk menyejukkan ruangan yang jendelanya ditutup rapat. Karena pada dasarnya hidayah tidak datang pada orang yang berdiam diri. Ingatlah, setiap manusia harus berhijrah, dengan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Manusia yang baik itu bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang baik adalah orang yang mau mengakui dan memperbaiki kesalahannya.

 

Tulisan oleh: Deasy Monica Parhastuti

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

| kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

Tidak Ada Nikmat Kecil dari Tuhan yang Perlu untuk Disyukuri

Masih berfikir bahwa nikmat yang telah diberikan Tuhanmu adalah nikmat yang kecil?

“Syukurilah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita betapapun kecil nikmat tersebut.”

Ungkapan yang biasa diutarakan oleh para mubaligh agar setiap orang bisa bersyukur kepada Tuhannya dalam keadaan apapun dan kondisi sesulit apapun.

Nikmat merupakan kata yang sering kita dengar dan ucapkan dalam obrolan kita sehari-hari, baik berkaitan dengan agama, hubungan sosial, maupun hubungan suami istri dan lain sebagainya.

Orang cenderung menganggap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya lebih kecil daripada yang diberikan kepada orang lain, hal ini berdasar dari rasa alamiah seorang manusia yang sering merasa tidak puas dengan apa yang telah didapatkan hingga ada pepatah yang menyatakan ‘Rembulan selalu berada diatas kepala orang lain’.

Orang selalu melihat kebahagiaan dan nikmat menjadi milik orang lain dan bukan miliknya, sekalipun pernah menjadi miliknya namun hal itu jauh lebih kecil dibandingkan yang didapat tetangganya. Jadi perlukah kita mensyukuri nikmat Tuhan yang kecil? Tentu saja TIDAK!

Masihkah kita percaya bahwa ada nikmat Tuhan yang kecil?

Saat kita tak memiliki uang sepeserpun, apakah berarti nikmat yang Tuhan berikan adalah nikmat yang kecil? bagaimana dengan nikmat kesehatan yang kita rasakan saat dikantong kita tidak ada uang walau satu rupiah, ginjal kita masih sehat.

Dan disaat bersamaan dengan tidak adanya uang dikantong kita, ada orang-orang yang berharap diberikan donor ginjal dan mampu menghargainya ratusan juta. Masihkah kecil nikmat sehat yang kita rasakan saat tak memiliki uang, mau uang ratusan juta atau ginjal melayang?

Sungguh nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita adalah nikmat yang sangat besar yang perlu kita syukuri, dan sekali kali tidak ada satupun nikmat Tuhan yang KECIL, karena setiap nikmatNya adalah NIKMAT YANG BESAR YANG HARUS DISYUKURI.

Ketika Aku sakit, Tuhan memberikan nikmat ampunan dosa dan kini aku tak lagi mensyukuri nikmatNya yang kecil karena setiap nikmatNya adalah nikmat yang luar biasa besar dan harus selalu di syukuri…

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Dapat Hidayah Saat Lakukan Perjalanan ke Palestina, Penyanyi Ini Hijrah Memutuskan Berhijab

Masih ingat dengan penyanyi Indah Dewi Pertiwi atau yang banyak menyebutnya IDP? Jarang muncul di layar kaca, ternyata IDP telah memutuskan berhijrah. Penyanyi asal Bogor tersebut kini telah merubah penampilannya dengan mengenakan hijab. Berbagai foto dirinya dalam balutan hijab dan baju panjang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya.

Pelantun Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa tersebut memutuskan berhijrah setelah mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

“Aku memutuskan untuk berhijab karena ada beberapa pengalaman yang menurut aku kayak luar biasa sih,” kata Indah.

Wanita kelahiran Bogor, 30 Januari 1991 tersebut mengatakan, keinginananya mengenakan hijab telah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, Indah tidak memungkiri masih banyak godaan yang datang kepadanya sehingga belum bisa memutuskan untuk mengenakan hijab sejak dulu.

“Memang keinginan untuk mengenakan sudah dari dulu. Cuma memang baru sempat beberapa bulan lalu. Aku mencoba membuka Alquran dan pas aku buka ada hal yang luar biasa,” ujarnya.

Indah semakin yakin untuk hijrah, ketika ia mendapatkan kesempatan berkujung ke Palestina. Kunjungan tersebut diakuinya menjadi titik dimana dirinya mendapatkan hidayah.

“Kemarin Allah kasih kesempatan ke Palestina. Di sana aku dikasih kesempatan sama Allah dan disana dapat hidayah,” katanya.

Menelusuri akun Instagram pribadinya, terlihat Indah membagikan beberapa foto saat dirinya berkunjung ke Palestina. Lembah Jordania, The Dome of the Rock hingga Laut Mati menjadi lokasi kunjungan Indah saat di melakukan perjalanan ke Palestina.

Sumber: bangka.tribunnews.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Niat Hijrah, Tapi Susah Istiqomah? Mungkin Kamu Butuh 5 Hal Sederhana Ini!

Banyak yang bilang hijrah itu mudah, yang susah itu istiqamahnya. Betul, memang banyak sekali godaanya.Terkadang masih suka dikasih lihat masa lalu yang indah sama setan. Naudzubillah kalau kita tergoda lagi. Kita sharing yuk cara untuk belajar tetap istiqamah!

1. Niat yang bulat

Niat yang kuat dan keukeuh menjadi point penting dalam berhijrah dan beristiqomah. Insyaa Allah jika kita mempunyai niat yang keras maka godaan apapun akan kalah. Terus berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu diberikan kekuatan untuk menjaga niat kita berhijrah. Allah Maha membolak-balikan hati manusia, jadi kita harus percaya.

2. Mencari lingkungan yang tepat

Ini juga salah satu hal terpenting ketika kita sudah memutuskan untuk berhijrah. Memilih teman dan lingkungan yang tepat! Yang bisa mendukung kita ke arah yang lebih baik bukan menjerumuskan kita ke hal yang tidak baik. Carilah teman-teman yang juga sudah atau sedang berusaha istiqomah menjaga hijrahnya.

3. Perbanyak baca Al-Qur’an dan artinya

Al-Quran salah satu penyejuk hati, dengan kita sering membacanya, secara tidak langsung otak dan hati kita menjadi lebih tenang. Selain itu di dalam Al- Qur’an kita bisa belajar banyak, mencoba membaca terjemahnya akan banyak sekali makna yang bisa kita ambil. Jangan lupa untuk mengamalkannya kedalam kehidupan sehari-hari.

4. Sering datang ke kajian muslim

Gak hanya badan yang butuh makan, tapi otak dan hati juga butuh asupan rohani. Nah ini salah satu cara untuk menguatkan iman kita. Sekarang sudah banyak banget kajian-kajian muslim di setiap kota.

5. Perbanyak dzikir

zikir itu memurnikan akidah dan menebarkan sunnah. Dzikir mampu membuat hubungan kita dengan Allah SWT lebih dekat karena dalam setiap dzikir kita memanggil nama Allah.

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Rezeki Kamu, Gak Usah Khawatir. Pikirin Dari Mana dan Untuk Apa?

Apakah kamu khawatir dengan rezekimu?

Gak usah khawatir. Tenang saja. Mungkin kita gak tahu di mana rezeki kita. Mungkin kita gak tahu dari mana rezeki kita? TAPI percayalah, rezeki kita sangat tahu di mana kita. Entah itu, dari langit, laut, gunung, & lembah sekalipun, Allah telah memerintahkan rezeki untuk menjemputmu, menujumu. Lalu,apa yang kamu khawatirkan?

Ketahuilah sahabat, Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Percayalah itu, maka kamu disuruh mencarinya. Jangan melalaikan ketaatan kepada-Nya. Kalo kamu terlalu khawatir atau mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Kesalahan yang luar biasa, karena kamu tidak percaya pada-Nya.

 

Apakah kamu masih khawatir tentang rezekimu?

Sahabat, tugas kita bukan mengkhawatiri rezeki Allah. Karena itu sudah dijamin. Justru yang paling penting adalah kita menyiapkan jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” rezeki yang kita peroleh, yang kita miliki. Jadi lebih cinta dunia atau lebih cinta akhirat? Terserah kamu…. mau diapain itu rezeki yang sudah diberikan Allah.

Soal rezeki, semoga ini bukan kamu ya.

Betapa banyak orang larut menggenggam dunia, dia lupa bahwa hakikat rezeki bukanlah yang dimiliki tetapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulang, memeras keringat, hanya demi besaran tabungan atau mengangkat gaya hidup.

Betapa banyak orang hanya bisa mengejar rezeki, mencari yang banyak lalu lupa dari mana dan untuk apa rezeki itu.

Sahabat, gaji kamu, tabungan kamu, harta kamu sungguh tak berguna. Berapapun jumlahnya tatkala esok pagi atau lusa Allah memanggilmu untuk kembali. Semua yang kamu punya, yang kamu miliki akan sirna dan ditinggalkan menghadap ILAHI.

Jangan salah sangka, jangan keliru. Betulkan niat kita sekarang. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan Allah. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Karena rezeki tidak selalu terletak di pekerjaan kita. Rezeki gak harus dari pekerjaan kita.

Sahabat, Allah itu memberikan rezeki sekehendak-Nya, sekuasa-Nya. Bukankah Siti Hajar berlari-lari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwah? Tapi air zam-zam yang dicarinya justru muncul di dekat kaki Ismail, bayinya. Adakah kita menduga semua itu? Sungguh tak terduga dan hanya Allah yang berkuasa.

 

Maka katakan, rezeki itu rahasia Allah.

Untuk disyukuri hamba yang bertaqwa, datang dari arah yang tak disangka. Tugas kita, mencarinya dan menempuh dengan jalan halal, Allah-lah yang melimpahkan. Sekali lagi, di balik tiap ikhtiar dan doa kita, Allah pasti memberi karunia. Allah sudah janjikan rezeki kita.

Satu yang belum dari kita, tetap menjaga sikap baik saat menjemput rezeli Allah, “Dari mana” & “Untuk apa?”. Renungkan, dari mana dan untuk apa rezeki kamu? Jangan terburu-buru menjawabnya, renungkan saja dulu.

 

Sahabat, masih khawatir gak dengan rezekimu?

Kamu dan kita, betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lalu akhirnya cinta dunia. Lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab. Dari mana rexekimu, untuk apa rezekimu?

Sahabat, karunia Allah meliputi alam semesta. Dan sebagian karunia itu telah dijanjikan untukmu, untuk kita.

Gak usah khawatir atas rezeki kamu. Pinta saja petunjuk jalan yang lurus dalam menjemputnya. Jalan orang yang diberi nikmat ikhlas di dunia dan nikmat ridho-Nya di akhirat kelak. Bukan jalan orang yang terkutuk & tersesat.

Selamat bekerja sahabat, karena rezeki telah menantimu.

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Hijrah dari Anak Punk Menjadi Muslimah Berhijab, Inilah Kisah Viral Iskarandy

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Istilah ini kemudian  identik dengan perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang. Kata ini juga dimaknai sebagai bentuk perubahan ke arah yang lebih baik. Jadi, bisa dikatakan hijrah itu berarti memutuskan untuk meninggalkan apa yang dibenci Allah dan mendekatkan diri kepada apa yang dicintai-Nya.

Kisah hijrah seseorang selalu menarik untuk diperhatikan dan seringkali menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tak sedikit selebritis tanah air yang memutuskan berhijrah dan menginspirasi penggemarnya. Tak berbeda jauh dengan artis tersebut, cerita hijrah seorang perempuan pemilik akun Instagram Iskarandy yang kini viral di media sosial juga menarik untuk dipetik hikmahnya.

Iskarandy memang bukan seorang artis, tapi gara-gara kisah hijrahnya ia kini memiliki puluhan ribu followers di Instagram. Apa yang menarik dari sosok gadis ini?

Kehebohan cerita hijah Iskarandy bermula ketia ia mengunggah foto yang memperlihatkan dirinya mengenakan hijab. Yang menarik adalah tato yang terlihat di kening Iskarandy dalam balutan jilbabnya. Bersama foto berhijab tersebut ia menuliskan sebuah caption.

”Minta doanya biar bisa tobat sepenuhnya. Amin.”

Hingga kini foto tersebut sudah di ‘love’ sebanyak lebih dari tiga puluh ribu orang, dan mendapatkan ribuan komentar. Banyak diantaranya yang mendoakan Iskarandy agar istiqamah dalam berhijab. Namun, ada pula yang menuduhnya hanya mencari sensasi semata. Iskarandy pun memberikan penjelasan tentang keputusan hijrahnya dari seorang anak punk, menjadi muslimah sejati.

“Kalau udah niat mau gimana lagi? Buat yang suka caci maki saya, semoga rezekinya dilimpahkan,” tulis Iskarandy.

Dalam postingan lain, Iskarandy juga memberikan jawaban lainnya.

”Bismillah sabar dan pelan-pelan.”

Sumber: islampos.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Ancaman bagi Orang yang Menyamakan Jual Beli dengan Riba

Banyak orang yang beranggapan bahwa ekonomi yang dibangun di atas landasan sistem ekonomi syariah adalah sama dengan sistem ekonomi riba. Padahal keduanya jauh berbeda dalam pelaksanaannya. Ekonomi syariah klasik dibangun di atas landasan “halalnya jual beli dan mengambil keuntungan”. Sementara ekonomi ribawi dibangun di atas fondasi “anda juga harus memberikan keuntungan pada saya yang telah berjasa memberimu pertolongan.” Konsep ekonomi syariah modern dibangun di atas landasan “saya dan anda sama-sama berhak mendapatkan keuntungan.” Setidaknya ketiga konsep ini yang untuk sementara waktu kita catat sebagai satu sisi kajian.

Masih bergelut pada penafsiran Syeikh Abu Ja’far at-Thabari tentang riba, kali ini kita akan mengupas kelanjutan ayat dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, yang berbunyi:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: “Demikian itu (orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur seperti orang gila), adalah disebabkan sesungguhnya dulu mereka telah berkata bahwa jual beli adalah sama dengan riba. Sementara Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Ayat ini diturunkan dengan latar belakang tradisi masyarakat jahiliyah pada waktu itu yang apabila melepaskan harta yang menjadi haknya kepada orang yang berutang, lalu terjadi penundaan pembayaran dari orang yang meminjam, maka si peminjam menyertainya dengan ucapan:
زدني في الأجل وأزيدك في مالك
Artinya: “Beri aku tempo lagi, nanti aku beri (konsekuensi penundaan) berupa tambahan lagi kembaliannyakepadamu”(Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo, Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38)
Awal prosesnya terjadinya transaksi jual beli yang disertai tambahan keuntungan. Namun seiring perjalanan waktu saat pelunasan, ternyata pihak yang berutang belum bisa melunasinya. Akhirnya, pihak yang berutang menyampaikan ucapan seperti di atas. Ketika keduanya ditegur, bahwa apa yang mereka lakukan adalah riba dan tidak halal, lalu mereka mengatakan:
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا
Artinya: “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)
Maksud mereka dengan perkataan ini adalah bahwa konsekuensi tambahan karena faktor penundaan adalah dianggap sah-sah saja. Mereka beralasan bahwa mau disampaikan di awal transaksi jual beli atau disampaikan di akhir masa pelunasan, konsekuensi penundaan tersebut adalah sama saja.
Padahal, menurut syariat, kedua hal ini adalah berbeda. Jika disampaikan di awal transaksi jual beli, maka ini adalah keuntungan dan hukumnya adalah halal. Jika disampaikan di akhir masa jatuh tempo pelunasan—yang diakibatkan adanya penundaan lagi – maka ini tidak sah dan masuk kategori riba. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala membantah dengan kelanjutan ayat:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: “Allah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Maksud dari ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh at-Thabari adalah:
وأحلّ الله الأرباح في التجارة والشراء والبيع “وحرّم الربا” يعني الزيادةَ التي يزاد رب المال بسبب زيادته غريمه في الأجل، وتأخيره دَيْنه عليه
Artinya: “Allah menghalalkan keuntungan dalam niaga dan jual beli, dan mengharamkan riba, yakni tambahan yang ditambahkan ke pemilik asal harta (rabbu al-maal) disebabkan adanya tambahan waktu penundaan tempo pembayaran orang yang berutang kepadanya, atau penundaan pelunasan utangnya.” (Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38)
Maksud dari ayat adalah bahwa jual beli dengan tempo itu boleh-boleh saja dan halal. Yang tidak halal adalah apabila terjadi penundaan, kemudian dilakukan adanya penambahan harta sebagai konsekuensi dari penundaan tersebut. Tentu dalam hal ini, sifat dari tambahan antara proses jual beli dan riba adalah jauh berbeda dari segi dampaknya. Oleh karena itu, menurut at-Thabari, seolah dalam ayat ini, Allah berfirman:
فليست الزيادتان اللتان إحداهما من وَجه البيع،والأخرى من وجه تأخير المال والزيادة في الأجل، سواء. وذلك أنِّي حرّمت إحدى الزيادتين = وهي التي من وجه تأخير المال والزيادة في الأجل = وأحللتُ الأخرى منهما، وهي التي من وجه الزيادة على رأس المال الذي ابتاع به البائع سلعته التي يبيعها، فيستفضلُ فَضْلها
Artinya: “Tiada antara dua tambahan yang salah satunya diperoleh dari jalan jual beli dan yang lain dari akibat penundaan utang dan konsekuensi tempo adalah sama. Salah satu dari kedua tambahan ini Aku haramkan, yaitu yang berasal dari akibat penundaan utang dan konsekuensi tempo (denda). Namun Aku menghalalkan yang lain yang diperoleh dari tambahan terhadap “harga pokok” (ra’sul mâl) dagangan yang dijual oleh penjual, lalu ia mengambil kelebihannya.” (Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, juz 5, halaman 38)
Yang dimaksud sebagai kelebihan dari harga pokok adalah keuntungan hasil jual beli. Yang dimaksud sebagai harga pokok barang adalah “harga dasar” saat penjual membelinya dari pasar tengkulak/grosir. Keuntungan penjualan yang dihalalkan adalah diperoleh dengan jalan menaikkan harga lalu dijual ke konsumen. Selisih antara harga pokok dengan harga jual adalah besar nilai keuntungan. Baik dijual secara kontan atau kredit, keduanya adalah sah dan halal, asalkan ada ketentuan yang jelas dalam aqad di awal sebelum berpisah majelis. Misalnya pembeli memutuskan membeli secara kredit. Atau misalnya, pembeli memutuskan secara kontan. Yang tidak boleh adalah apabila pembeli dan penjual tidak memutuskan cara belinya, dengan kontankah, atau dengan cara kreditkah. Ini yang dilarang.
Sementara itu, kelebihan yang didapat dari riba, adalah berbasis waktu tunda dan denda (الزيادة في الأجل). Misalnya, karena seorang pembeli tidak bisa melunasi pada waktu yang telah disepakati, maka ia dikenai kompensasi (denda) akibat penundaan waktu pembayaran. Transaksi seperti ini yang diindikasikan sebagai riba.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, bahwa keuntungan yang diperoleh dari hasil jual beli adalah tidak sama dengan tambahan yang ditetapkan dengan cara riba, semisal lewat denda. Kembali pada pokok ayat bahwa lewat QS al-Baqarah 275 ini, Allah subhanahu wata’ala menghalalkan jual beli, yang berarti menghalalkan pula dalam mengambil untung dari hasil jual beli. Sementara itu, Allah mengharamkan riba yang berarti pula mengharamkan mengambil kompensasi tambahan akibat penundaan waktu pelunasan (denda).
Kedudukan orang menyamakan keuntungan jual beli dengan kompensasi denda pelunasan, atau menyamakan jual beli dengan riba, sama dengan orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur dalam kondisi gila, sebagaimana permulaan Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 275 ini.
Sumber: nu.or.id

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

4 Cara Allah Memberi Rezeki

Anda seringkali merasakan sempitnya jalan mencari rezeki dan lebih banyak hanya menunggu rezeki dibandingkan berikhtiar maksimal? Ketahuilah menjemput rezeki Allah SWT adalah kewajiban setiap mahluk.

Diterangkan dalam Al-Qur’an, ada 4 cara Allah SWT memberi rezeki kepada makhluk-Nya:

1.Tingkat rezeki pertama, yaitu yang dijamin oleh Allah

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6). Artinya Allah akan memberikan kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yang terendah.

2.Tingkat rezeki kedua, yaitu yang didapat sesuai dengan apa yang diusahakan

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm: 39).

Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, ia akan mendapat lebih banyak. Tidak pandang dia itu muslim atau kafir.

3.Tingkat rezeki ketiga, yaitu rezeki lebih bagi orang-orang yang pandai bersyukur

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah dan mendapat rezeki yang lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4.Tingkat rezeki keempat, yaitu rezeki istimewa dari arah yang tidak disangka-sangka

“…. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq:2-3)

Peringkat rezeki yang ke empat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Rezeki ini akan Allah berikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin disaat seseorang berada dalam kondisi sangat sangat membutuhkan.

Rezeki ini akan diberikan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa. Allah SWT berikan rezeki ini karena kecintaan Allah SWT kepadanya.

Jadi, marilah senantiasa meningkatkan iman dan takwa serta ibadah kita kepada Allah SWT.

Insya Allah, berbagai kebaikan akan mengalir sejalan dengan usaha kira untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Diantaranya ketenangan hidup dan keberkahan rezeki.

Sumber: makassar.tribunnews.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Bekerja Untuk Diri Sendiri atau Untuk Orang Lain?

Bagi seorang lelaki bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga adalah bentuk jihad yang sebenar-benarnya. Namun bagi yang belum menikah apa tujuan bekerja yang sebenarnya? Apakah hanya untuk memperoleh uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, memenuhi gaya hidup yang tidak pernah ada habisnya? Coba tanyakan pada hati kecil kalian.

Diluar sana banyak sekali alasan orang bekerja, bermacam-macam dengan berbagai alasan. Pernahkah merasa begitu berat dengan pekerjaan kita? Kalau iya, mungkin perlu diperbaiki lagi niat bekerjanya. Bekerja kalau hanya untuk memenuhi segala kebutuhan diri sendiri akan terasa begitu egois. Memang tidak ada yang salah, ketika bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Tapi ingatlah dibalik rejeki yang kita terima ada hak orang lain yang harus kita tunaikan. Ada sekitar 2,5 persen yang harus kita keluarkan untuk menciptakan senyum dibibir orang yang begitu bahagia hanya menerima 2,5 persen itu.

Ketika kita hanya bekerja untuk diri sendiri, maka kita egois. Dan untuk mengelurkan 2,5% pun juga akan terasa berat. Coba deh, niatnya ditata lagi yakin deh uang yang kita dapatkan dari hasil bekerja akan terasa lebih manis. Dalam bekerjapun kita nggak akan merasa berat dan akan tercipta ikhlas dihati. Hayo, coba ditanya lagi. Buat siapa kamu bekerja?

Bila laki-laki yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bisa dikatakan jihad maka ketika kalian bekerja tidak untuk diri kalian sendiri maka apa yang kalian kerjakan bisa bernilai ibadah. Namanya ibadah kan pasti dapat pahala kalau niatnya ikhlas hanya untuk Allah. Tenang saja, Allah telah menjamin rejeki setiap hambanya. Dan you know, manusia itu diciptakan memang bukan untuke bekerja tapi untuk beribadah. Nah kalau urusan ibadah sih boleh lah ya egois. Jadi kita sendiri yang mengupayakan ibadah kita, dan kita sendiri yang akan memanen hasilnya tanpa ada kewajiban untuk membagi hasil pahalanya kepada orang lain.

Nah, yuk mulai perbaiki lagi niat bekerjanya. Semoga semuanya bukan lelah tapi lillah.

Sumber: beraniberhijrah.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

1 2