Riba dan Kredit, Apakah Sama?

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Istilah ini sepertinya sudah mulai berkembang pada saat ini. Istilah ini menggambarkan betapa beratnya kehidupan orang miskin yang selalu merasakan susahnya menjalani hidup karena kebutuhan yang selalu mendesak setiap hari, baik kebutuhan diri sendiri maupun keluarga. Secara umum, kebutuhan manusia tidak hanya sebatas makan dan minum, namun kebutuhan sandang, papan pun juga demikian pentingnya. Karena ketiga kebutuhan ini memang wajib melekat pada diri manusia.

Saat ini, segala kebutuhan bisa dicapai dengan suatu usaha yang menghasilkan nilai, nilai yang oleh semua orang selalu dikaitkan dengan uang. Uang menjadi sangat penting untuk diperoleh guna memenuhi kebutuhan manusia setiap hari. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa:

Secara umum uang diartikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima oleh setiap orang. Dalam ilmu ekonomi, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.

Karena peran uang yang begitu penting sebagai alat tukar menukar dengan barang yang berharga, maka tidak sedikit orang yang ingin memiliki dan menimbunnya, agar kebutuhannya dapat terpenuhi dengan baik.

Dalam islam, kebutuhan manusia bisa dipenuhi dengan berbagai cara, seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan hutang piutang. Namun dari sekian banyak cara tersebut, ada hal yang harus dilakukan dan dijauhi. Seperti jual beli dan hutang piutang yang tidak diperbolehkan adanya riba didalamnya. Riba adalah pembayaran yang dikenakan terhadap pinjaman pokok sebagai imbalan terhadap masa pinjaman itu berlaku, di mana modal pinjaman tersebut digunakan. (Rahman, 1996:85).

Ibn Hajar ‘Askalani mengatakan bahwa, inti riba adalah kelebihan baik itu dalam bentuk barang maupun uang, seperti dua rupiah ditukar dengan sat rupiah. Menurut Allama Mahmud al-Hassan Taunki, riba berarti kelebihan atau pertambahan; dan jika dalam suatu kontrak penukaran barang (pertukaran barang dengan barag), lebih dari satu barang yang diminta sebagai penukaran satu barang yang sama, yang demikian itu disebut riba. (Rahman, 1996:83).

Riba pada dasarnya bisa terjadi pada akad jual beli dan hutang piutang. (Sarwat:24)(Subaily:36) Dalam akad hutang piutang, riba akad terlihat jelas ketika modal yang dipinjam harus dikembalikan dengan tambahan nilai yang lebih tinggi. Seperti contoh, Farhan meminjam uang karim sebesar Rp. 100.000,-. Pada saat jatuh tempo Farhan harus mengembalikan uang Karim sebesar Rp. 110.000,-. Nilai Rp. 10.000,- inilah yang yang dihukumi riba.

Sedangkan dalam jual beli, riba bisa terjadi karena adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Riba ini muncul karena adanya perbedaan, perubahan atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. (www.syariahbank.com, 2015). Jika melihat penjelasan di atas, maka jual beli yang bisa mengandung unsur riba adalah jual beli barang ribawi yang penyerahannya ditangguhkan.

Namun demikian, banyak yang menganggap bahwa jual beli kredit adalah bagian dari riba. Karena, jika dilihat dari luar, antara harga tunai dengan harta kredit ada perbedaan nilai yang sangat jelas. Seperti contoh, sepeda motor dijual dengan harga 10 juta secara tunai, jika kredit maka menjadi 13 juta. Kelebihan yang 3 juta ini dianggap sebagai riba, karena adanya tambahan dari pembayaran tunai, padahal tidak demikian.

Kredit dibolehkan dalam hukum jual-beli secara Islami. Kredit adalah membeli barang dengan harga yang berbeda antara pembayaran dalam bentuk tunai tunai dengan bila dengan tenggang waktu. Ini dikenal dengan istilah : bai` bit taqshid atau bai` bits-tsaman `ajil. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang (x) dengan harga yang sudah dipastikan nilainya (y) dengan masa pembayaran (pelunasan) (z) bulan. Namun, transaksi ini harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:

Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalnya : harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.

Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.

  • Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai` gharar (penipuan). (Sarwat, hlm:197-198).

Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan kedua contoh berikut ini:

  • Saiful menawarkan sepeda kepada Budi seharga Rp. 12 juta. Karena Budi tidak mempunyai uang Rp. 12 juta, maka dia hendak membelinya dengan cara cicil (kredit).
  • Namun, karena Budi meminta cicil, akhirnya Saiful menaikkan harga menjadi Rp. 15 juta dan dilunasi dalam waktu 1 tahun. Harga Rp. 15 juta ini tidak didasarkan pada bunga sekian persen tiap bulan, melainkan kesepakatan kedua belah pihak.
  • Transaksi ini diperbolehkan dalam islam
  • Joko menawarkan mobil senilai Rp. 50 juta kepada Parto. Karena Parto belum memiliki uang Rp. 50 juta, maka dia meminta untuk menyicil. Joko menerimanya asalkan Parto tiap bulan membayar 2 persen dari 50 juta tersebut selama 1 tahun. Transaksi ini termasuk riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti, tetapi harganya tergantung besar bunga dan masa cicilan.

Kedua contoh di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa jual beli kredit berbeda dengan riba. Perbedaan yang dominan adalah jika kredit, tambahan harga sudah disepakati bersama dan jelas jumlahnya, namun jika riba, tambahan tersebut tidak jelas dan ditentukan oleh tempo waktu pembayaran.

Alhamdulillah sekarang telah ada perumahan syariah yang sistem pembayarannya tanpa bank dan tanpa riba. Jika Anda ingin berhijrah dan memiliki tempat tinggal yang terbebas dari riba, silahkan konsultasikan dengan agen kami. Insya Allah dibantu hingga akad 🙂

Sumber: kompasiana.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Strategi Keluar dari Jerat Riba

Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam pernah berkata “Akan datang  suatu masa ketika semua orang memakan riba. Mereka yang tidak mau makan riba pun pasti terkena debunya”  (HR Abu Dawud).  Hari ini riba telah terintergasi  ke dalam sistem. Kita semua  yang berada di dalamnya  hidup  dan menghidupi  riba.  Kebanyakan orang sekarang ini bahkan telah menyamakan riba dengan perdagangan. Tetapi dalam al Qur’an Allah  telah ditegaskan “Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba”.

Kita harus menerima kenyataan ini, dan memahaminya.  Kita juga harus mengerti konsekuensinya, karena  Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam telah menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat riba – langsung atau tidak langsung – yaitu “yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang menyaksikannya” adalah sama (H.R. Muslim).  Allah  Ta’ala mendeskripsikan orang-orang yang terlibat dengan riba ini ”tidak akan berdiri dengan tenang, melainkan seperti orang yang kerasukan setan.” Riba adalah  psikosis sosial.

Dosa  terlibat dengan riba yang  juga sudah disampaikan oleh Nabiullah sallallahu’alaihi wassalam, adalah sangat besar,  ’’yang paling ringan dosanya ialah setara dengan seorang lelaki  yang bersetubuh dengan ibunya” (HR Abu Hurairah).  Dalam riwayat lain oleh Ahmad dari  Abdullah bin Hanzhalah  dikatakan  Rasulullah salallahu alaihi wassalam   menyatakan: “Satu dirham riba, yang diterima oleh seseorang dengan sepengetahuannya, lebih buruk dibanding berzina tiga puluh enam kali.”  Allah SWT  telah pula menegaskan mereka yang terus ingkar dan terus terlibat dengan riba “tidak akan dicintai dan berada dalam api neraka selama-lamanya.”

Jejaring Riba

Selain memahami dosa dan hukuman akibat terlibat dengan riba, setiap  muslim harus mengerti  dampak dari riba itu sendiri. Riba adalah sebentuk psikosis sosial, suatu penyakit jiwa yang menjangkiti kehidupan, yang muncul dalam berbagai fenomena sehari-hari.   Hari ini angota masyakarat umumnya hidup gelisah, khawatir dengan masa depan, tidak berani menghadapi hidup, menjadi kikir dan bakhil serta enggan bersedekah, egois dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan saling membunuh atau membunuh dirinya sendiri.  Namun, justru karena itu pulalah, industri riba – asuransi, aneka bentuk kredit perbankan maupun nonperbankan, jaminan tunjangan hari tua dan pensiun, dsb –  semakin merajalela.

Psikosis massal lebih lanjut diperlukan bagi suburnya industri riba ini. Seluruh anggota masyarakat,  dengan begitu,  dapat dijebak, dijerat, dan terus diperbudak dalam debtorship –  hidup dalam hutang.  Setiap muslim harus memahami bahwa riba telah menjadi jejaring kehidupan yang berkaitan satu dengan yang lain. Karena itu harus dipahami elemen penyusun riba yang paling mendasar, yaitu tiga serangkai: mata uang kertas, bunga, dan perbankan. Seluruh industri riba dimulai dan dijalin oleh tiga elemen dasar ini.  Dengan memahami hal mendasar ini setiap muslim akan bisa keluar dari jeratan riba.

Bagi kebanyakan orang sekilas  akan menjadi hal yang mustahil untuk tidak terlibat dengan riba dan keluar dari jeratannya.   Bukankah setiap orang, muslim dan nonmuslim, saat ini tidak ada yang tidak terkait dengan uang kertas, bunga, dan perbankan? Kalau kita melihatnya dari kacamata “teknis”, dan mengajukan agenda “bagaimana cara saya memerangi riba”, maka kita tidak akan menemukan pintu keluar.

Melihat masalah riba dari kacamata personal-individual  hanya akan menimbulkan perasaan tak berdaya: bagaimana mungkin sistem yang telah begitu kokoh dan lazim dapat diatasi? Bagaimana mungkin kita bisa tidak terlibat dengan uang kertas dan perbankan, “satu-satunya” cara hidup yang berlaku hari ini?  Maka, menghadapi soal riba, yang dibutuhkan pertama-atama adalah keimanan dan ketaqwaan. Allah Ta’ala menyatakan “meninggalkan riba adalah bukti keimanan dan ketaqwaan” (Al Baqarah: 278).

Artinya kita harus mengubah posisi kita dengan menyatakan “karena Allah Ta’ala telah mengharamkan riba dan mengumandangkan perang terhadapnya”, maka saya harus menyangkalnya. Sistem uang kertas, bunga dan perbankan, harus kita sangkal. KIta tidak perlu melawan sistem riba. Yang perlu kita lakukan adalah menegakkan yang halal, menghadirkan yang haq, dengan menghidupkan kembali perdagangan dan meninggalkan riba. Dan itu berarti kembali menjalankan muamalat.

Muamalat Sebagai Jalan Keluar

Muamalat yang dimaksud di sini dalam arti yang khusus, yaitu interaksi sosial dan politik, yang seharusnya dijalankan umat Islam, dan bukan sekadar urusan personal dan keluarga, seperti urusan pernikahan dan warisan.  Interaksi sosial yang paling pokok dalam hal ini adalah transaksi komersial dan bisnis. Pengertian perdagangan harus dirujuk kepada fiqih, hingga pemisahannya dari riba menjadi jelas.

Perdagangan berkaitan dengan kegiatan tukar-menukar satu benda berharga, misalnya seekor kambing, dengan benda berharga lainnya misalnya koin emas sebagai alat tukar, dengan surplus pada satu sisinya yakni pihak penjual, dan kemanfaatan pada sisi lainnya, yakni pembeli.  Dalam bahasa fiqih Islam perdagangan adalah “tamliku ‘ayn malliyatin,” mendaptakan harta (‘ayn, komoditas riil) dari harta (mal)  yang lain.  Dengan demikian, perdagangan adalah aktifitas produktif, menghasilkan surplus, sekaligus menggerakkan harta yang merupakan aset nyata dari satu tangan ke tangan lainnya. Perdagangan adalah instrumen fitrah pemerataan kekayaan.  Menukarkan kambing dengan emas atau perak, adalah perdagangan. Menukarkan seekor kambing dengan (uang) kertas, adalah riba, bukan perdagangan.

Dengan mengembalikan pengertian dan praktek perdagangan ini saja kita akan merombak tatanan sosial kita secara mendasar. Penyangkalan kita akan uang kertas dan riba akan membawa kita kepada tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang baru sama sekali. Sebab, hal ini mensyaratkan bahwa kita harus mengembalikan mata uang yang ditetapkan oleh Rasululllah salallahualaihi wassalam, yaitu Dinar emas, Dirham perak, dan fulus. Dan untuk dapat mengembalkannya kaum muslimin harus mengembalikan sunnah yang lain, yaitu berjamaah, hidup terpimpin di bawah para amir dan sultan, dalam amirat-amirat dan kesultanan.

Dalam kehidupan berjamaah, di bawah kepemimpinan para Amir, Dinar dan Dirham dapat dikembalikan, zakat direstorasi, pasar-pasar diadakan, perdagangan dijaga, hudud dan diyat dapat diterapkan, ringkasnya seluruh kepentingan umum, public interest, dapat dilindungi dan dijaga di bawah syariat Islam.  Tanpa amirat dan sultaniyya syariat Islam hanya menjadi slogan dan idealisme. Islam bukan idealisme, bukan ideologi.   Islam adalah perilaku, eksistensialisme tradisi yang telah  berlangsung dari seorang Rasul salallahualaihi wasallam, ditularkan kepada para Sahabatnya, Tabiin, Tabiit Tabiin, terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya, sampai kemudian dihentikan oleh modernisme, oleh rasionalisme dan humanisme.

Rasionalisme dan humanismelah yang mengubah cara hidup kaum muslimin dalam sistem sekuler, dengan seluruh tatanan sosial politiknya, yang menjadikan riba sebagai basisnya. Struktur politik negara nasional, dengan bank sentral dan uang kertasnya, serta seluruh  paradigma dan instrumen teknisnya, membawa seluruh umat manusia dalam psikosis sosial   riba, dan jeratan debtorship. Untuk keluar darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh Shaykh Abdalqadir as Sufi,  kita harus memulainya dengan mengafirmasikan dua hal: “perdagangan tanpa riba dan pemerintahan tanpa negara.”

Selebihnya, adalah soal teknis, yang tidak lagi menjadi urusan yang sulit.

Source : zaimsaidi.com

 

*******************************************

___________________________

Silahkan klik jika berminat Listing Kami

Perumahan-Syariah

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Kisah Hijrah Pedagang Brownis yang Bikin Hati Teriris

Saya adalah penebar riba, saya bujuk orang-orang yang punya usaha untuk berhutang dengan bunga sekian % di bank BUMN tempat saya bekerja. Saya tipu mereka dengan berkata bahwa bunga pertahun hanya sekian % tetapi saya arahkan mereka untuk mengambil hutang lebih dari setahun, sehingga pendapatan bunga menjadi lebih besar.

Target saya terlampaui, saya menjadi prajurit terbaik. Dan saya menjadi ujung tombak perusahaan yang lihai dalam memasarkan kredit.

Ya, saya adalah salah satu dari sekian banyak prajurit di bank BUMN dengan aset terbesar. Sayalah salah satu dari sekian banyak pasukan penebar riba yang setiap mendekati akhir bulan selalu berwajah tegang dan menakutkan, pulang hampir tengah malam untuk menagih bunga untuk perusahaan yang dipinjam para nasabah.

Saya congkak dan sombong, menagih mereka dengan cara kasar.

“Wahai para nasabah bayarlah bunga kalian! Bila tidak, bangunan kalian saya lelang! Jika kalian tidak terima, panggilah LSM, gugatlah perusahaan saya maka perusahaan saya akan mengirimkan perwakilannya untuk datang ke pengadilan untuk menghadapi gugatan kalian!” ujar saya setiap kali menagih mereka yang tak mau bayar. Ya saya congkak dan sombong!

Bagaimana saya tidak sombong? Bekerja di bank BUMN adalah cita-cita saya. Lihatlah! Baju saya rapi dengan merk terkenal, Saya berdasi, saya naik mobil, Siapa yang tidak suka dengan kondisi mewah seperti ini? Itulah saya.

Sebelum Ditampar oleh Allah

Tujuh tahun saya bekerja di bank BUMN. Sampai pada saatnya Allah menampar saya.

Tamparan pertama adalah ketika kekayaan saya dihilangkan oleh Allah, dengan cara saya harus menanggung hutang salah satu pihak keluarga saya yang terancam dipenjara bila tidak terselesaikan saat itu juga,

Lihatlah! Tidak lebih dari empat jam semua kendaraan saya, perhiasan istri saya, raib saya jual untuk menyelesaikan hutang piutang tersebut.

Jadilah saya saat itu seorang bankers yang hanya punya motor inventaris kantor. Belum genap satu bulan berlalu, tamparan ke dua terjadi!

Anak saya harus menginap di rumah sakit lebih dari dua minggu, dua minggu berlalu setelah anak saya keluar dr rumah sakit, ternyata Allah belum mengijinkan anak saya sehat, Anak saya harus di rawat inap lagi di rumah sakit.

Apakah selesai sampai disitu? Tidak!

Tamparan ke tiga datang tanpa diduga penyakit didatangkan oleh Allah kepada istri saya yang harus menjalani perawatan di rumah sakit selama seminggu.

Apa ini ya Allah??
Tiba-tiba seperti semua masalah menimpa saya. Bukan hanya saya tetapi kepada istri dan anak pula.
saya berpikir apa yang salah? Apa yang telah saya lakukan?

Saya sholat lima waktu,  saya puasa senin kamis, saya tahajud, saya duha, saya sedekah. Apa yang salah ya Allah?

Di setiap sholat saya selalu meneteskan air mata menanyakan kepada Allah apa yang menimpa saya dan keluarga?

Sampai pada suatu waktu saya mulai menyadari, saya mulai belajar dan belajar, bahwa apa yang saya lakukan untuk menafkahi keluarga selama ini dilarang oleh Allah Subhanahu Wa ta’alla..
pekerjaan saya adalah pekerjaan yang dilaknat Allah, dan itu ada di dalam Al-Quran. Kemana saja saya selama ini?

Saya takut dengan azab dunia akhirat yang akan saya terima. Saya tidak tahu kapan saya meninggal.

Saya Harus Resign!

Saya harus keluar dari pekerjaan ini. Namun bagaimana jika saya keluar? Keluarga saya makan apa?
hutang KPR dan softloan saya bayar pake apa? Pikiran-pikiran tersebut sangat menghantui saya..

Dalam sebuah kajian saya mendengar ustad mengatakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat, yang artinya :
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik,” (HR. Ahmad 5: 363).

Dari situ tekad saya semakin membara untuk segera keluar dari bank tenpat saya bekerja, saya yakin allah menjamin rejeki saya, istri dan anak saya.

Bagaimana dengan hutang-hutang saya?saya harus menjual satu-satunya aset saya yg tersisa yaitu rumah yang saya tinggali.

Selanjutnya yang terpikirkan oleh saya adalah segera memasang iklan di salah satu jasa iklan online, dengan harapan segera laku terjual dan hutang lunas.

Satu bulan berlalu setelah saya memasang iklan “rumah dijual” tanpa ada yang menawar, tanpa ada yang melihat. Otak dan hati semakin galau, keinginan resign sangat kuat. Namun terkendala oleh hutang-hutang yang harus dilunasi.

Saya tetap bekerja dengan seperempat hati. Bulan maret 2016 saya di berangkatkan ke bali karena mendapat penghargaan menurunkan NPL di thn 2015.
Setiba kembali di kantor, jatah kenaikan grade dan gaji mulai disodorkan kepada saya. Alhamdulillah saya tolak dengan halus, karena pasti akan lebih banyak dosa yang saya tumpuk.

Waktu berjalan dengan cepat. Ketika saya berkunjung ke tempat kawan lama saya, dia menyampaikan bahwa saya harus beribadah dan berdoa lebih keras dibandingkan dengan kerasnya saya beribadah saat mengharapkan diterima di bank tempat saya bekerja.

Semenjak itu setiap hari saya bangun antara pukul 02.30 sampai dengan pukul 03.00 pagi. Saya langsung mandi, kemudian saya lakukan sholat taubat, sholat hajat, sholat tahajud,sholat witir dan saya tutup dengan berdzikir panjang sampai dengan masuk shubuh. Sebelum shubuh saya sudah berjalan ke masjid untuk adzan dan berjamaah, sepulang dari masjid saya baca Al-quran dan artinya minimal 10 ayat. Begitu pula dengan sholat wajib yang lainnya, tidak ada kata tidak berjamaah di masjid.

Sunnah saya tegakkan, bahkan saya pernah berdebat sengit dengan pimpinan saya karena jenggot yang saya pelihara dan meninggalkan rapat saat adzan berkumandang.

Kurang lebih 3 bulan saya melakukan semua itu tanpa putus. Saya berdoa memohon agar Allah memberikan saya kemudahan, memberikan saya jalan keluar dari apa yang sedang saya hadapi..

Bulan Agustus 2016 doa saya dijawab oleh Allah, dikirimkanlah orang yang sangat luar biasa dari Jakarta. Beliau melihat iklan dan menghubungi saya.. tanpa meninjau langsung lokasi hanya berdasarkan foto di iklan saja, dia menyatakan berminat dan mau membeli rumah saya

Alhamdulillah proses pelunasan KPR dan semua hutang saya lakukan dari hasil rumah tersebut.
hutang saya semua LUNAS!

Keesokan harinya 24 agustus 2016, surat resign saya ajukan.
Alhamdulillah satu Oktober 2016, Merupakan prestasi terbaik saya di bank tersebut, yaitu resign.

Saat ini saya tinggal di rumah tanpa riba, terbebas dari segala jenis hutang. Dan hidup sebagai seorang pedagang brownies.

Ya, pekerjaan saya saat ini adalah pedagang brownies, saya buat sendiri bersama istri dan saya pasarkan sendiri.
lebih tenang, lebih halal, semata-mata hanya mengharapkan berkah dan ridho Allah subhanahu wa ta’alla.

Penulis : Prasetyo Budi Widodo

Sumber : islampos.com

 

*******************************************

___________________________

Silahkan klik jika berminat Listing Kami

Perumahan-Syariah

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Gara-Gara Riba Rumah Tangganya Tak Terselamatkan

Kutulis kisah ini untuk segenap muslimah. Meskipun dengan menulisnya, hatiku semakin teriris-iris. Namun biarlah luka itu menganga, asalkan kalian tidak menjadi korban berikutnya.

Dulu… aku pernah merasakan bahagianya pernikahan. Aku mencintai suamiku, dia pun mencintaiku. Meskipun hidup pas-pasan, rumah tangga kami diliputi kedamaian. Suamiku orang yang pekerja keras. Ia berusaha mendapatkan tambahan penghasilan untuk bisa ditabung seiring Allah mengkaruniakan seorang buah hati kepada kami. Kami pun berusaha hidup qanaah, mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas kami.

Saat-saat paling membahagiakan bagi kami adalah ketika malam hari. Saat sunyi dini hari, anakku lelap dalam tidurnya, aku dan suami bangun. Kami shalat malam bersama. Suamiku menjadi imam dan aku larut dalam bacaan Qur’annya. Tak jarang aku menangis di belakangnya. Ia sendiripun juga tak mampu menahan isak dalam tilawahnya.

Entah mengapa. Mungkin karena kami melihat teman-teman yang telah punya mobil baru. Tetangga yang membangun rumah menjadi lebih indah. Mulai terbersit keinginan kami agar uang kami semakin bertambah. Suamiku tak mungkin bekerja lebih lama karena ia sudah sering lembur untuk menambah penghasilannya. Tiba-tiba aku tertarik dengan bisnis saham. Sebenarnya aku tahu sistem bisnis ini mengandung riba, tapi entahlah. Keinginan menjadi lebih kaya membutakan mataku.

“Ambil bisnis ini saja, Mas. Insya Allah kita bisa lebih cepat kaya,” demikian kurang lebih saranku pada suami. Dan ternyata suamiku juga tidak menolak saran itu. Ia satu pemikiran denganku. Mungkin juga karena tergoda oleh rayuan iklan bisnis saham tersebut.

Akhirnya, kami membeli saham dengan seluruh tabungan yang kami miliki. Suamiku mengajukan kredit untuk modal usaha kami. Sejumlah barang yang bisa kami jual juga kami jadikan modal, termasuk perhiasan pernikahan kami.

Beberapa pekan kemudian, bisnis kami menunjukkan perkembangan meskipun tidak besar. Kami mengamati saham hingga ibadah-ibadah sunnah yang dulunya membahagiakan kami mulai keteteran. Tilawah tidak sempat. Shalat sunnah hilang diterpa kantuk dan lelah. Hidup mulai terasa gersang di satu sisi, tetapi kekayaan mulai tergambar di sisi lain.

Hingga suatu hari, tiba-tiba harga saham menurun drastis. Kami seperti terhempas dari ketinggian. Kami sempat berharap bisa bangkit, tetapi harga saham kami justru semakin terpuruk. Hutang kami semakin menumpuk. Cash flow keluarga kami berantakan.

Di saat seperti itu, emosi kami seperti tidak terkendali. Ada sedikit saja pemicu, aku jadi marah. Pun dengan suami. Ia jadi sering menyalahkanku karena menyarankan bisnis riba dengan modal riba pula. Aku pun membela diri dan mengatakan kepadanya, mengapa sebagai suami yang harusnya jadi imam malah mengikuti saran istri jika saran itu keliru. Pertengkaran memuncak. Aku tidak dapat menguasai diri.

“Kalau begitu, ceraikan saja aku,” kataku malam itu.

“Ya, aku ceraikan kamu,” jawab suami dengan nada tinggi. Mendengar teriakan talak itu aku terhentak. Aku menangis. Anakku juga menangis. Tapi terlambat. Suamiku terlanjur pergi setelah itu.

Kini aku harus membesarkan anakku seorang diri. Sering sambil menangis aku membaca ayat:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. Al Baqarah: 276)

Wahai para muslimah… qana’ah… qana’ah… Jangan menuntut suamimu lebih dari kemampuannya. Tak ada larangan untuk berusaha bersama-sama agar kondisi finansial menjadi lebih baik. Tetapi jangan sekali-kali terperosok dalam bisnis riba. Bahagia dalam hidup sederhana lebih baik daripada jiwa menderita karena cinta dunia.

Cukuplah aku yang berkata sambil menangis, “Dulu kami dipersatukan oleh ketaatan kepada Allah, lalu kami dipisahkan oleh kedurhakaan pada-Nya” [Kisahikmah.com]

 

*Diadaptasi dari kisah nyata dalam Sa’atan-Sa’atan yang ditulis Syaikh Mahmud Al Mishri dan Sirriyun lin Nisa’yang ditulis Syaikh Ahmad Al Qaththan

Source : doadankajianislami.com

 

*******************************************

___________________________

Silahkan klik jika berminat Listing Kami

Perumahan-Syariah

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing