Rezeki Kamu, Gak Usah Khawatir. Pikirin Dari Mana dan Untuk Apa?

Apakah kamu khawatir dengan rezekimu?

Gak usah khawatir. Tenang saja. Mungkin kita gak tahu di mana rezeki kita. Mungkin kita gak tahu dari mana rezeki kita? TAPI percayalah, rezeki kita sangat tahu di mana kita. Entah itu, dari langit, laut, gunung, & lembah sekalipun, Allah telah memerintahkan rezeki untuk menjemputmu, menujumu. Lalu,apa yang kamu khawatirkan?

Ketahuilah sahabat, Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Percayalah itu, maka kamu disuruh mencarinya. Jangan melalaikan ketaatan kepada-Nya. Kalo kamu terlalu khawatir atau mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Kesalahan yang luar biasa, karena kamu tidak percaya pada-Nya.

 

Apakah kamu masih khawatir tentang rezekimu?

Sahabat, tugas kita bukan mengkhawatiri rezeki Allah. Karena itu sudah dijamin. Justru yang paling penting adalah kita menyiapkan jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” rezeki yang kita peroleh, yang kita miliki. Jadi lebih cinta dunia atau lebih cinta akhirat? Terserah kamu…. mau diapain itu rezeki yang sudah diberikan Allah.

Soal rezeki, semoga ini bukan kamu ya.

Betapa banyak orang larut menggenggam dunia, dia lupa bahwa hakikat rezeki bukanlah yang dimiliki tetapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulang, memeras keringat, hanya demi besaran tabungan atau mengangkat gaya hidup.

Betapa banyak orang hanya bisa mengejar rezeki, mencari yang banyak lalu lupa dari mana dan untuk apa rezeki itu.

Sahabat, gaji kamu, tabungan kamu, harta kamu sungguh tak berguna. Berapapun jumlahnya tatkala esok pagi atau lusa Allah memanggilmu untuk kembali. Semua yang kamu punya, yang kamu miliki akan sirna dan ditinggalkan menghadap ILAHI.

Jangan salah sangka, jangan keliru. Betulkan niat kita sekarang. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan Allah. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Karena rezeki tidak selalu terletak di pekerjaan kita. Rezeki gak harus dari pekerjaan kita.

Sahabat, Allah itu memberikan rezeki sekehendak-Nya, sekuasa-Nya. Bukankah Siti Hajar berlari-lari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwah? Tapi air zam-zam yang dicarinya justru muncul di dekat kaki Ismail, bayinya. Adakah kita menduga semua itu? Sungguh tak terduga dan hanya Allah yang berkuasa.

 

Maka katakan, rezeki itu rahasia Allah.

Untuk disyukuri hamba yang bertaqwa, datang dari arah yang tak disangka. Tugas kita, mencarinya dan menempuh dengan jalan halal, Allah-lah yang melimpahkan. Sekali lagi, di balik tiap ikhtiar dan doa kita, Allah pasti memberi karunia. Allah sudah janjikan rezeki kita.

Satu yang belum dari kita, tetap menjaga sikap baik saat menjemput rezeli Allah, “Dari mana” & “Untuk apa?”. Renungkan, dari mana dan untuk apa rezeki kamu? Jangan terburu-buru menjawabnya, renungkan saja dulu.

 

Sahabat, masih khawatir gak dengan rezekimu?

Kamu dan kita, betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lalu akhirnya cinta dunia. Lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab. Dari mana rexekimu, untuk apa rezekimu?

Sahabat, karunia Allah meliputi alam semesta. Dan sebagian karunia itu telah dijanjikan untukmu, untuk kita.

Gak usah khawatir atas rezeki kamu. Pinta saja petunjuk jalan yang lurus dalam menjemputnya. Jalan orang yang diberi nikmat ikhlas di dunia dan nikmat ridho-Nya di akhirat kelak. Bukan jalan orang yang terkutuk & tersesat.

Selamat bekerja sahabat, karena rezeki telah menantimu.

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Bekerja Untuk Diri Sendiri atau Untuk Orang Lain?

Bagi seorang lelaki bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga adalah bentuk jihad yang sebenar-benarnya. Namun bagi yang belum menikah apa tujuan bekerja yang sebenarnya? Apakah hanya untuk memperoleh uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, memenuhi gaya hidup yang tidak pernah ada habisnya? Coba tanyakan pada hati kecil kalian.

Diluar sana banyak sekali alasan orang bekerja, bermacam-macam dengan berbagai alasan. Pernahkah merasa begitu berat dengan pekerjaan kita? Kalau iya, mungkin perlu diperbaiki lagi niat bekerjanya. Bekerja kalau hanya untuk memenuhi segala kebutuhan diri sendiri akan terasa begitu egois. Memang tidak ada yang salah, ketika bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Tapi ingatlah dibalik rejeki yang kita terima ada hak orang lain yang harus kita tunaikan. Ada sekitar 2,5 persen yang harus kita keluarkan untuk menciptakan senyum dibibir orang yang begitu bahagia hanya menerima 2,5 persen itu.

Ketika kita hanya bekerja untuk diri sendiri, maka kita egois. Dan untuk mengelurkan 2,5% pun juga akan terasa berat. Coba deh, niatnya ditata lagi yakin deh uang yang kita dapatkan dari hasil bekerja akan terasa lebih manis. Dalam bekerjapun kita nggak akan merasa berat dan akan tercipta ikhlas dihati. Hayo, coba ditanya lagi. Buat siapa kamu bekerja?

Bila laki-laki yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bisa dikatakan jihad maka ketika kalian bekerja tidak untuk diri kalian sendiri maka apa yang kalian kerjakan bisa bernilai ibadah. Namanya ibadah kan pasti dapat pahala kalau niatnya ikhlas hanya untuk Allah. Tenang saja, Allah telah menjamin rejeki setiap hambanya. Dan you know, manusia itu diciptakan memang bukan untuke bekerja tapi untuk beribadah. Nah kalau urusan ibadah sih boleh lah ya egois. Jadi kita sendiri yang mengupayakan ibadah kita, dan kita sendiri yang akan memanen hasilnya tanpa ada kewajiban untuk membagi hasil pahalanya kepada orang lain.

Nah, yuk mulai perbaiki lagi niat bekerjanya. Semoga semuanya bukan lelah tapi lillah.

Sumber: beraniberhijrah.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing