Memakan Satu Dirham dari Hasil Riba

Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba. Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)
Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahanya. Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.

Seorang Pedagang Haruslah Memahami Hakekat Riba
As Subkiy dan Ibnu Abi Bakr mengatakan bahwa Malik bin Anas mengatakan,

فَلَمْ أَرَ شَيْئًا أَشَرَّ مِنْ الرِّبَا ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَذِنَ فِيهِ بِالْحَرْبِ

“Aku tidaklah memandang sesuatu yang lebih jelek dari riba karena Allah Ta’ala menyatakan akan memerangi orang yang tidak mau meninggalkan sisa riba yaitu pada firman-Nya,

فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba).” (QS. Al Baqarah: 279)
‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا .

Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.
‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.” (Mughnil Muhtaj, 6/310)

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa). (Lihat Al Qomus Al Muhith, 3/423)

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur.” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)
Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.
Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيْرِ مَعْلُومِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيرٍ فِي الْبَدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا
Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya.” (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

الزِّيَادَةُ فِي أَشْيَاءَ مَخْصُوصَةٍ
Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu.” (Al Mughni, 7/492)

Hukum Riba

Seperti kita ketahui bersama dan ini bukanlah suatu hal yang asing lagi bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam syari’at Islam. Ibnu Qudamah mengatakan,

وَهُوَ مُحَرَّمٌ بِالْكِتَابِ ، وَالسُّنَّةِ ، وَالْإِجْمَاعِ

“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni, 7/492)

Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَأَخْذِهِمْ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161). Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imron: 130)

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)
Di antara dalil haramnya riba dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ »

Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “[1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina).” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)

Maksud perkataan “mereka semua itu sama”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim, 3/64)

Dampak Riba yang Begitu Mengerikan

Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.

[Pertama] Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

[Kedua] Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)

[Ketiga] Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala

Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Sumber: rumaysho.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Siapakah Pelaku Riba yang Diharamkan itu?

Syekh Abu Ja’far at-Thabari menafsirkan ayat bahwa pelaku riba dikaitkan keberadaannya dengan sifat gila adalah terjadi kelak di akhirat, yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya sehingga ia berjalan kebingungan seperti orang gila. Riwayat sanad pentakwilan oleh Abu Ja’far at-Thabari ini disandarkan pada Muhammad bin ‘Amru dan Al-Mutsanna dari Mujahid. Al-Mutsanna juga meriwayatkan dari jalur lain yaitu dari Abu Hudzaifah, dari Ibnu Abbas, dari Sa’id bin Jubair yang menukil dari Ibnu Abbas. Ibnu Humaid juga meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Jubair, yang berarti merupakan sanad mursal, tapi memiliki syahid dari jalur riwayat Al-Mutsanna yang juga mendapatkan dari jalur Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Dan masih banyak lagi riwayat yang lain yang berasal dari jalur sanad Qatadah, Al-Rabi’, Al-Dlahak, Ibnu Zaid dan Al-Sidi yang seluruhnya merupakan generasi mufassir masa sahabat.
Semua mufassir sahabat ini sepakat mentafsir penggalan ayat كما يقوم الذي يتخبطه الشيطان من المسsebagai orang yang akan dibangkitkan dari kuburnya di akhirat kelak sebagai layaknya orang gila.
Yang menjadi soal kemudian adalah, siapakah yang dimaksud dengan pelaku riba yang diancam kelak akan dibangkitkan seperti orang yang gila di sini?  Apakah termasuk orang yang memakan harta hasil riba, atau ada maksud lain?
Syekh Abu Ja’far at-Thabari menjelaskan dalam kitab tafsirnya:
فإن قال لنا قائل: أفرأيت من عمل ما نهى الله عنه من الرِّبا في تجارته ولم يأكله، أيستحقّ هذا الوعيدَ من الله؟
قيل: نعم، وليس المقصود من الربا في هذه الآية الأكلُ، إلا أنّ الذين نـزلت فيهم هذه الآيات يوم نـزلت، كانت طُعمتهم ومأكلُهم من الربا، فذكرهم بصفتهم، معظّمًا بذلك عليهم أمرَ الرّبا، ومقبِّحًا إليهم الحال التي هم عليها في مطاعمهم، وفي قوله جل ثناؤه: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
Artinya: “Jika ada yang bertanya kepada saya: Adakah (bagaimanakah) pandangan tuan tentang orang yang melakukan pekerjaan yang dilarang oleh Allah berupa praktik riba di dalam niaganya, akan tetapi ia tidak memakannya. Apakah ia termasuk juga yang diancam oleh Allah sebagaimana ayat ini dimaksudkan? Jawab: Iya. Maksud dari riba pada ayat ini bukan hanya sebatas makan saja, melainkan konteks ayat ini diturunkan adalah adanya kaum yang sumber makanan pokok dan mata pencahariannya berasal dari riba. Oleh karenanya, Allah sebutkan sifat-sifat mereka dengan penekanan pada perkara ribanya, dan mencela kondisi mereka terkait dengan sumber konsumsinya. Oleh karenanya, Allah berfirman dalam ayat lain:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
(wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah dan tinggalkan hal yang berkaitan dari riba, jika kalian beriman. Maka, jika kalian tidak melakukannya, maka umumkanlah perang dengan Allah dan Rasulnya (Q.S. Al-Baqarah: 278-279)) (Lihat: Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38).
Maksud dari ayat yang dinukil dari Q.S. Al-Baqarah ayat 278-279 di atas, adalah mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan riba. Status pengharaman ini berhubungan dengan وأنّ التحريم من الله في ذلك كان لكل معاني الرّبا، وأنّ سواءً العملُ به وأكلُه وأخذُه وإعطاؤُه, yaitu semua pihak baik pelaku, pemakan hasil riba, penarik riba dan pemberi riba. Tafsir ini didasarkan pada konteks sabda Nabi SAW dalam sebuah hadits:
لعن الله آكلَ الرّبا، وُموكِلَه، وكاتبَه، وشاهدَيْه إذا علموا به
Artinya: “Allah melaknatipemakan riba, orang yang mewakilkan, penulisnya dan orang-orang yang menyaksikannya, padahal ia mengetahui.”(Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wîli ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, hal: 38!). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, Al-Baihaqi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzy, Al-Darimy, Al-Nasaiy, dan juga tertuang dalam Kitab Musnad Abdullah bin Mas’ud.
Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitabnya yang berjudul Syurûhu al-Hadîts Mirqâtu al-Mafâtîhi Syarah Mishkatu al-Mashâbîhi, beliau memberikan penejelasan hadits di atas bahwa yang dimaksud dengan آكل الربا, adalah:
آخذه وإن لم يأكل ، وإنما خص بالأكل لأنه أعظم أنواع الانتفاع كما قال – تعالى: إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما
Artinya: “Orang yang memungut riba dan meskipun tidak memakannya. Hanya saja Rasulullah SAW menetapkan sifat kekhususan di sini dengan lafadh ‘memakan’, disebabkan karena aktifitas makan merupakan sebesar-besarnya aktifitas pemanfaatan. Sebagaimana Allah SWT (menunjukkan pengkhususan ini dalam firman-Nya) : “Sesungguhnya orang yang “memakan” harta anak yatim secara dhalim,…” (Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).
Adapun yang dimaksud dengan orang yang mewakilkan riba (الموكل), Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari menjelaskan:
معطيه لمن يأخذه ، وإن لم يأكل منه نظرا إلى أن الأكل هو الأغلب أو الأعظم كما تقدم
Artinya: “Orang yang memberikan riba kepada orang yang memungut meskipun ia sendiri tidak memakannya, dengan fokus kepada makan karena ia yang paling umum dan paling sering terjadi sebagaimana telah disampaikan terdahulu.” (Lihat: Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).
Antara آكل  dan موكل keduanya bersekutu dalam dosa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: هما شريكان في الإثم yang artinya: keduanya bersekutu di dalam dosa.
Selain itu, ada juga yang masuk unsur diancam oleh Rasulullah SAW, yaitu:
وكاتبه وشاهديه ) : قال النووي : فيه تصريح بتحريم كتابة المترابيين والشهادة عليهما وبتحريم الإعانة على الباطل)
Artinya: “Katib dan Syahid. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa dalam hadits ini terdapat penjelasan haramnya mencatat transaksi dua orang yang beraqad riba, bersaksi atas keduanya dan haramnya membantu kebathilan.”(Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa seiring haramnya riba, maka semua pihak yang berhubungan dengannya dihukumi sebagai haram dan berdosa. Tidak hanya pemakannya, orang yang mewakilkan, saksi dan penulisnya juga dihukumi sebagai haram disebabkan unsur ta’âwun (tolong menolong) dalam perkara batil.
Sumber: nu.or.id

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Tempat Kembali Para Pembohong dan Pemakan Riba

Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa apabila Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam telah selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau menghadap ke arah kami seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang bermimpi tadi malam?”

Jundub melanjutkan kisahnya, “Apabila ada seseorang di antara kita yang bermimpi, maka dia menceritakan mimpinya, lalu Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, ‘Sesuai kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’

Kemudian pada suatu hari Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallambertanya kepada kita, ‘Apakah ada di antara kalian yang bermimpi?’ “Tidak ada, ‘jawab kami. Beliau bersabda, ‘Tadi malam aku bermimpi didatangi dua lelaki. Keduanya memegang tanganku dan membawaku ke bumi yang disucikan. Tiba-tiba aku menyaksikan ada seseorang yang duduk dan seorang orang lagi berdiri. Di tangannya terdapat gancu dari besi. Dia memasukkannya ke tulang rahang bawah temannya hingga tembus sampai ke tengkuk. Dan yang satunya juga melakukan yang sama terhadap temannya. Lalu tulang rahangnya merapat kembali seperti sedia kala. Kemudian dia melakukan lagi hal yang sama.

Aku pun bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami pun berjalan lagi hingga kami menjumpai seseorang yang berbaring pada tengkuknya dan seseorang berdiri. Di atas kepalanya terdapat batu besar atau berbaring dengan batu tersebut. Ketika batu tersebut dipukulkan ke kepala, maka batu tersebut menggelinding. Lalu dia bergegas mengambil batu tersebut. Belum sampai dia kembali ke tempat semula, kepala yang remuk tadi pulih kembali seperti sedia kala. Dia pun mengulangi lagi memukulkan batu tersebut.

Aku pun bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami berjalan menuju suatu kubangan semisal dapur api. Bagian atasnya sempit, sedangkan bagian bawahnya luas. Di bagian bawahnya dinyalakan api. Ternyata di dalamnya terdapat laki-laki dan perempuan telanjang.

Nyala api menghantam mereka dari bawah. Ketika api telah dekat dengan mereka, maka mereka naik sehingga hampir berhasil keluar. Ketika api padam, maka mereka kembali lagi.

Aku bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami melanjutkan perjalanan hingga kami menjumpai sungai darah yang di dalamnya terdapat seseorang yang berenang dan seseorang lagi di tepi sungai yang di hadapannya terdapat bebatuan. Dia menghadap ke arah orang yang ada di dalam sungai. Apabila orang yang ada di dalam sungai hendak keluar dari sungai, maka dia melempari orang tersebut dengan batu tepat pada mulutnya. Lalu dia kembali ke tempat semula. Ketika dia hendak keluar lagi, maka dia dilempari batu tepat pada mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula.

Aku bertanya, ‘Apa ini ?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’

Kami pun pergi hingga sampai ke suatu tanah hijau yang di dalamnya terdapat pohon besar. Di bagian dasar pohon terdapat seorang kakek dan anak-anak. Sedang di dekat pohon tersebut terdapat laki-laki yang menyalakan api di depannya. Lantas keduanya membawaku naik ke atas pohon. Kemudian keduanya membawaku masuk ke dalam sebuah rumah.

Aku belum pernah melihat rumah yang lebih bagus dari rumah tersebut. Di dalamnya terdapat kakek-kakek dan para pemuda. Kemudian keduanya membawaku naik lagi dan memasukkanku ke dalam rumah yang lebih bagus dan lebih utama.’

Aku berkata, ‘Kalian berdua telah mengajakku berkeliling malam ini. Tolong sampaikan kepadaku mengenai hal-hal yang telah kulihat.’

Keduanya berkata, ‘Baiklah. Orang yang kamu lihat tertembus tulang rahangnya ialah pembohong. Dia menceritakan suatu kebohongan. Lalu kebohongan tersebut di bawah ke tempat lain hingga sampai ke penjuru daerah. Dia akan mengalami hal tersebut sampai hari kiamat.’

Orang yang engkau lihat diremukkan kepalanya ialah seseorang yang diberi pengetahuan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang Al-Qur’an, tetapi dia tidur tanpa membacanya di malam hari dan dia tidak mengamalkannya di siang hari. Dia akan dipermalukan seperti itu hingga sampai hari kiamat.

Orang yang engkau lihat di dalam kubangan, mereka adalah para pezina. Sedangkan orang yang engkau lihat di dalam sungai adalah pemakan riba.

Seorang kakek yang ada di dasar pohon ialah Nabi Ibrahim, sedangkan anak-anak di sekelilingnya ialah anak-anak manusia. Sedangkan yang menyalakan api ialah Malaikat Mikail, penjaga neraka Jahannam. Rumah pertama ialah rumah kaum mukmin secara umum. Sedangkan rumah ini ialah rumah orang-orang yang mati syahid. Saya adalah Jibril, sedangkan ini Mikail. Angkat kepalamu!’

Aku pun mendonggakkan kepalaku, tiba-tiba ada istana yang mirip gumpalan awan. Keduanya berkata, ‘Itulah tempatmu.’ ‘Tinggalkanlah aku di sini biar aku masuk ke tempatku,’ kataku.

Dia berkata, ‘Umurmu masih tersisa. Engkau belum menyempurnakannya. Kalau engkau telah menyempurnakannya, pastilah engkau dapat mendatangi tempatmu.

Sumber: hidayatullah.com

***

Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita semua terhindar dari melakukan dosa-dosa di atas. Ayo kita sama-sama memperbaiki diri dan berjuang di jalan Allah dengan memerangi riba. Untuk memerangi riba, Anda butuh lingkungan yang mendukung. Salah satunya adalah lingkungan di rumah Anda dan juga tetangga-tetangga yang sholeh dan sholehah. Ayo pilih sendiri tetangga Anda di perumahan syari’ah yang Insya Allah bisa Anda dapatkan tanpa riba. Hubungi konsultan kami untuk berkonsultasi. Insya Allah dibantu sampai akad.

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Kisah Hijrah Pedagang Brownis yang Bikin Hati Teriris

Saya adalah penebar riba, saya bujuk orang-orang yang punya usaha untuk berhutang dengan bunga sekian % di bank BUMN tempat saya bekerja. Saya tipu mereka dengan berkata bahwa bunga pertahun hanya sekian % tetapi saya arahkan mereka untuk mengambil hutang lebih dari setahun, sehingga pendapatan bunga menjadi lebih besar.

Target saya terlampaui, saya menjadi prajurit terbaik. Dan saya menjadi ujung tombak perusahaan yang lihai dalam memasarkan kredit.

Ya, saya adalah salah satu dari sekian banyak prajurit di bank BUMN dengan aset terbesar. Sayalah salah satu dari sekian banyak pasukan penebar riba yang setiap mendekati akhir bulan selalu berwajah tegang dan menakutkan, pulang hampir tengah malam untuk menagih bunga untuk perusahaan yang dipinjam para nasabah.

Saya congkak dan sombong, menagih mereka dengan cara kasar.

“Wahai para nasabah bayarlah bunga kalian! Bila tidak, bangunan kalian saya lelang! Jika kalian tidak terima, panggilah LSM, gugatlah perusahaan saya maka perusahaan saya akan mengirimkan perwakilannya untuk datang ke pengadilan untuk menghadapi gugatan kalian!” ujar saya setiap kali menagih mereka yang tak mau bayar. Ya saya congkak dan sombong!

Bagaimana saya tidak sombong? Bekerja di bank BUMN adalah cita-cita saya. Lihatlah! Baju saya rapi dengan merk terkenal, Saya berdasi, saya naik mobil, Siapa yang tidak suka dengan kondisi mewah seperti ini? Itulah saya.

Sebelum Ditampar oleh Allah

Tujuh tahun saya bekerja di bank BUMN. Sampai pada saatnya Allah menampar saya.

Tamparan pertama adalah ketika kekayaan saya dihilangkan oleh Allah, dengan cara saya harus menanggung hutang salah satu pihak keluarga saya yang terancam dipenjara bila tidak terselesaikan saat itu juga,

Lihatlah! Tidak lebih dari empat jam semua kendaraan saya, perhiasan istri saya, raib saya jual untuk menyelesaikan hutang piutang tersebut.

Jadilah saya saat itu seorang bankers yang hanya punya motor inventaris kantor. Belum genap satu bulan berlalu, tamparan ke dua terjadi!

Anak saya harus menginap di rumah sakit lebih dari dua minggu, dua minggu berlalu setelah anak saya keluar dr rumah sakit, ternyata Allah belum mengijinkan anak saya sehat, Anak saya harus di rawat inap lagi di rumah sakit.

Apakah selesai sampai disitu? Tidak!

Tamparan ke tiga datang tanpa diduga penyakit didatangkan oleh Allah kepada istri saya yang harus menjalani perawatan di rumah sakit selama seminggu.

Apa ini ya Allah??
Tiba-tiba seperti semua masalah menimpa saya. Bukan hanya saya tetapi kepada istri dan anak pula.
saya berpikir apa yang salah? Apa yang telah saya lakukan?

Saya sholat lima waktu,  saya puasa senin kamis, saya tahajud, saya duha, saya sedekah. Apa yang salah ya Allah?

Di setiap sholat saya selalu meneteskan air mata menanyakan kepada Allah apa yang menimpa saya dan keluarga?

Sampai pada suatu waktu saya mulai menyadari, saya mulai belajar dan belajar, bahwa apa yang saya lakukan untuk menafkahi keluarga selama ini dilarang oleh Allah Subhanahu Wa ta’alla..
pekerjaan saya adalah pekerjaan yang dilaknat Allah, dan itu ada di dalam Al-Quran. Kemana saja saya selama ini?

Saya takut dengan azab dunia akhirat yang akan saya terima. Saya tidak tahu kapan saya meninggal.

Saya Harus Resign!

Saya harus keluar dari pekerjaan ini. Namun bagaimana jika saya keluar? Keluarga saya makan apa?
hutang KPR dan softloan saya bayar pake apa? Pikiran-pikiran tersebut sangat menghantui saya..

Dalam sebuah kajian saya mendengar ustad mengatakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat, yang artinya :
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik,” (HR. Ahmad 5: 363).

Dari situ tekad saya semakin membara untuk segera keluar dari bank tenpat saya bekerja, saya yakin allah menjamin rejeki saya, istri dan anak saya.

Bagaimana dengan hutang-hutang saya?saya harus menjual satu-satunya aset saya yg tersisa yaitu rumah yang saya tinggali.

Selanjutnya yang terpikirkan oleh saya adalah segera memasang iklan di salah satu jasa iklan online, dengan harapan segera laku terjual dan hutang lunas.

Satu bulan berlalu setelah saya memasang iklan “rumah dijual” tanpa ada yang menawar, tanpa ada yang melihat. Otak dan hati semakin galau, keinginan resign sangat kuat. Namun terkendala oleh hutang-hutang yang harus dilunasi.

Saya tetap bekerja dengan seperempat hati. Bulan maret 2016 saya di berangkatkan ke bali karena mendapat penghargaan menurunkan NPL di thn 2015.
Setiba kembali di kantor, jatah kenaikan grade dan gaji mulai disodorkan kepada saya. Alhamdulillah saya tolak dengan halus, karena pasti akan lebih banyak dosa yang saya tumpuk.

Waktu berjalan dengan cepat. Ketika saya berkunjung ke tempat kawan lama saya, dia menyampaikan bahwa saya harus beribadah dan berdoa lebih keras dibandingkan dengan kerasnya saya beribadah saat mengharapkan diterima di bank tempat saya bekerja.

Semenjak itu setiap hari saya bangun antara pukul 02.30 sampai dengan pukul 03.00 pagi. Saya langsung mandi, kemudian saya lakukan sholat taubat, sholat hajat, sholat tahajud,sholat witir dan saya tutup dengan berdzikir panjang sampai dengan masuk shubuh. Sebelum shubuh saya sudah berjalan ke masjid untuk adzan dan berjamaah, sepulang dari masjid saya baca Al-quran dan artinya minimal 10 ayat. Begitu pula dengan sholat wajib yang lainnya, tidak ada kata tidak berjamaah di masjid.

Sunnah saya tegakkan, bahkan saya pernah berdebat sengit dengan pimpinan saya karena jenggot yang saya pelihara dan meninggalkan rapat saat adzan berkumandang.

Kurang lebih 3 bulan saya melakukan semua itu tanpa putus. Saya berdoa memohon agar Allah memberikan saya kemudahan, memberikan saya jalan keluar dari apa yang sedang saya hadapi..

Bulan Agustus 2016 doa saya dijawab oleh Allah, dikirimkanlah orang yang sangat luar biasa dari Jakarta. Beliau melihat iklan dan menghubungi saya.. tanpa meninjau langsung lokasi hanya berdasarkan foto di iklan saja, dia menyatakan berminat dan mau membeli rumah saya

Alhamdulillah proses pelunasan KPR dan semua hutang saya lakukan dari hasil rumah tersebut.
hutang saya semua LUNAS!

Keesokan harinya 24 agustus 2016, surat resign saya ajukan.
Alhamdulillah satu Oktober 2016, Merupakan prestasi terbaik saya di bank tersebut, yaitu resign.

Saat ini saya tinggal di rumah tanpa riba, terbebas dari segala jenis hutang. Dan hidup sebagai seorang pedagang brownies.

Ya, pekerjaan saya saat ini adalah pedagang brownies, saya buat sendiri bersama istri dan saya pasarkan sendiri.
lebih tenang, lebih halal, semata-mata hanya mengharapkan berkah dan ridho Allah subhanahu wa ta’alla.

Penulis : Prasetyo Budi Widodo

Sumber : islampos.com

 

*******************************************

___________________________

Silahkan klik jika berminat Listing Kami

Perumahan-Syariah

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Gara-Gara Riba Rumah Tangganya Tak Terselamatkan

Kutulis kisah ini untuk segenap muslimah. Meskipun dengan menulisnya, hatiku semakin teriris-iris. Namun biarlah luka itu menganga, asalkan kalian tidak menjadi korban berikutnya.

Dulu… aku pernah merasakan bahagianya pernikahan. Aku mencintai suamiku, dia pun mencintaiku. Meskipun hidup pas-pasan, rumah tangga kami diliputi kedamaian. Suamiku orang yang pekerja keras. Ia berusaha mendapatkan tambahan penghasilan untuk bisa ditabung seiring Allah mengkaruniakan seorang buah hati kepada kami. Kami pun berusaha hidup qanaah, mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas kami.

Saat-saat paling membahagiakan bagi kami adalah ketika malam hari. Saat sunyi dini hari, anakku lelap dalam tidurnya, aku dan suami bangun. Kami shalat malam bersama. Suamiku menjadi imam dan aku larut dalam bacaan Qur’annya. Tak jarang aku menangis di belakangnya. Ia sendiripun juga tak mampu menahan isak dalam tilawahnya.

Entah mengapa. Mungkin karena kami melihat teman-teman yang telah punya mobil baru. Tetangga yang membangun rumah menjadi lebih indah. Mulai terbersit keinginan kami agar uang kami semakin bertambah. Suamiku tak mungkin bekerja lebih lama karena ia sudah sering lembur untuk menambah penghasilannya. Tiba-tiba aku tertarik dengan bisnis saham. Sebenarnya aku tahu sistem bisnis ini mengandung riba, tapi entahlah. Keinginan menjadi lebih kaya membutakan mataku.

“Ambil bisnis ini saja, Mas. Insya Allah kita bisa lebih cepat kaya,” demikian kurang lebih saranku pada suami. Dan ternyata suamiku juga tidak menolak saran itu. Ia satu pemikiran denganku. Mungkin juga karena tergoda oleh rayuan iklan bisnis saham tersebut.

Akhirnya, kami membeli saham dengan seluruh tabungan yang kami miliki. Suamiku mengajukan kredit untuk modal usaha kami. Sejumlah barang yang bisa kami jual juga kami jadikan modal, termasuk perhiasan pernikahan kami.

Beberapa pekan kemudian, bisnis kami menunjukkan perkembangan meskipun tidak besar. Kami mengamati saham hingga ibadah-ibadah sunnah yang dulunya membahagiakan kami mulai keteteran. Tilawah tidak sempat. Shalat sunnah hilang diterpa kantuk dan lelah. Hidup mulai terasa gersang di satu sisi, tetapi kekayaan mulai tergambar di sisi lain.

Hingga suatu hari, tiba-tiba harga saham menurun drastis. Kami seperti terhempas dari ketinggian. Kami sempat berharap bisa bangkit, tetapi harga saham kami justru semakin terpuruk. Hutang kami semakin menumpuk. Cash flow keluarga kami berantakan.

Di saat seperti itu, emosi kami seperti tidak terkendali. Ada sedikit saja pemicu, aku jadi marah. Pun dengan suami. Ia jadi sering menyalahkanku karena menyarankan bisnis riba dengan modal riba pula. Aku pun membela diri dan mengatakan kepadanya, mengapa sebagai suami yang harusnya jadi imam malah mengikuti saran istri jika saran itu keliru. Pertengkaran memuncak. Aku tidak dapat menguasai diri.

“Kalau begitu, ceraikan saja aku,” kataku malam itu.

“Ya, aku ceraikan kamu,” jawab suami dengan nada tinggi. Mendengar teriakan talak itu aku terhentak. Aku menangis. Anakku juga menangis. Tapi terlambat. Suamiku terlanjur pergi setelah itu.

Kini aku harus membesarkan anakku seorang diri. Sering sambil menangis aku membaca ayat:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. Al Baqarah: 276)

Wahai para muslimah… qana’ah… qana’ah… Jangan menuntut suamimu lebih dari kemampuannya. Tak ada larangan untuk berusaha bersama-sama agar kondisi finansial menjadi lebih baik. Tetapi jangan sekali-kali terperosok dalam bisnis riba. Bahagia dalam hidup sederhana lebih baik daripada jiwa menderita karena cinta dunia.

Cukuplah aku yang berkata sambil menangis, “Dulu kami dipersatukan oleh ketaatan kepada Allah, lalu kami dipisahkan oleh kedurhakaan pada-Nya” [Kisahikmah.com]

 

*Diadaptasi dari kisah nyata dalam Sa’atan-Sa’atan yang ditulis Syaikh Mahmud Al Mishri dan Sirriyun lin Nisa’yang ditulis Syaikh Ahmad Al Qaththan

Source : doadankajianislami.com

 

*******************************************

___________________________

Silahkan klik jika berminat Listing Kami

Perumahan-Syariah

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Riba, Sekejam Memperkosa Ibu Kandung

Sobat! kejahatan antara sesama manusia memang beraneka ragam, terlebih di zaman seperti saat ini. Nilai nilai agama telah luntur dan hawa nafsu terus diumbar seluas luasnya.

Begitu merajalelanya kejahatan dan kemaksiatan sampai sampai dianggap biasa alias wajar oleh masyarakat. Terutama bila mengetahui bahwa pelaku kejahatan adalah seorang yang dikenal sebagai penjahat, apalagi penjahat berdarah dingin.

Namun demikian sangat menyakitkan bila ternyata pelaku kejahatan tersebut adalah orang yang selama ini anda kenal sebagai orang baik, rajin ibadah, penampilannya santun dan bahkan agamis.

Saudaraku! Tahukah anda bahwa diantara kejahatan yang barang kali tidak anda sadari dan banyak dari orang orang yang nampaknya baik, bahkan agamis ialah kejahatan memakan riba?

Tahukah anda, seberapa berat kejahatan pemakan riba? temukan jawabannya pada sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

الرِّبا ثلاثةٌ وسبعون بابًا ، أيسرُها مثلُ أن ينكِحَ الرَّجلُ أمَّه

Riba itu ada tujuh puluh tiga model (pintu) dan dosa model riba yang paling ringan bagaikan dosa orang yang memperkosa ibu kandungnya sendiri” (HR. Al Hakim, Ibnu Majah, dll, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 3539)

Sobat! Setelah mengetahui beratnya dosa riba, Masihkah anda dapat merasa tenang menikmati atau memungut riba walaupun dengan sebutan “bunga” ?

Masihkah anda merasa aman dengan menyimpan riba di rumah atau di brangkas atau di rekening anda.

Penulis : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Source : muslim.or.id

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Kabar Gembira bagi Pemakan Riba

Ada pertanggungjawaban atas setiap rupiah yang ada di tangan kita. Dari mana asalnya, bagaimana mendapatkannya, ke mana pemanfaatannya? Halal atau haramkah? Baik atau tercelakah? Jual beli atau ribakah?

Jika di dalamnya terdapat riba, ada yang perlu kita hayati dari wasiat Nabi berikut ini. Pasalnya, ayat tentang riba diturunkan di akhir kenabian sehingga tak banyak keterangan yang dijelaskan oleh Nabi, meskipun yang sedikit itu sudah sangat mencukupi bagi mereka yang taat dan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Abdullah bin Mas’ud menyebutkan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, “Riba terdiri dari tujuh puluh tiga macam.”

Dalam riwayat Imam al-Hakim, ada tambahan kalimat yang berbunyi, “Yang paling ringan seperti menikahi ibunya sendiri. Sedangkah sejahat-jahatnya adalah mengganggu kehormatan seorang muslim.”

Innalillahi… Bukankah ini balasan amat terang yang sangat menyakitkan dan menyesakkan dada? Adakah kita sanggup menanggungnya hingga diri lalai dan enggan berlepas diri dari riba’ yang durjana itu?

Sedihnya, di zaman akhir ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah sampaikan isyarat; amat sukar untuk berlepas diri dari riba. Jika pun tidak terlibat, maka ia akan terkena debunya (dampaknya).

“Akan datang suatu masa ketika banyak manusia memakan riba,” sabda Nabi sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah. Para sahabat bertanya, “Apakah manusia secara keseluruhan, ya Rasulullah?” Jawab Nabi dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal ini, “Yang tidak memakannya pun akan terkena debunya.”

Tsumma na’udzubillahi min dzalik.

Maka di zaman akhir yang penuh fitnah ini, kebanyakan manusia akan bertindak licik sebagaimana perbuatan Yahudi terlaknat. Pasalnya, ketika Allah Ta’ala mengharamkan lemak kepada orang Yahudi, mereka mengubahnya dengan mencairkannya sebelum menjualnya. Kemudian mereka memakan hasil penjualan terebut.

Begitupun riba. Padahal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud, beliau berwasiat, “Allah Ta’ala melaknat orang yang memakan riba, yang mewakili transaksi riba, dan orang yang menuliskannya.”

Maka betapa banyaknya manusia yang terjerumus dalam riba, sebab tampilannya amat mengesankan. Padahal, Nabi sudah jauh-jauh mengingatkan, “Sesungguhnya riba, meskipun awalnya banyak, namun akhirnya akan menjadi sedikit.” (Hr. Imam Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mas’ud)

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari jahatnya riba dan mencukupkan diri dengan yang halal, meski jumlahnya belum banyak. Aamiin.

Source : kisahikmah.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing