Muamalah dalam Property Syariah

MUAMALAH DALAM PROPERTI SYARIAH

Secara garis besar yang harus kita ketahui tentang muamalah dalam properti syariah adalah tentang HUKUM RIBA dan HUKUM AKAD JUAL – BELI.

Dalam kesempatan kali ini, akan kami coba paparkan mengenai HUKUM RIBA
Sebelumnya kami mau menegaskan, disini kami tidak maksud menggurui, semua hal yang kami sampaikan mengenai HUKUM MUAMALAH ini kami dapatkan dari berbagai sumber ustadz dan praktisi properti syariah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT, sedangkan kesalahan datangnya dari syaiton (hehehe).
Disini semuanya pasti pada punya kerja ataupun bisnis pribadi.
Ketika bermuamalah, sudahkan kita selalu bertanya tentang hukum apa yang kita pergunakan dalam muamalah tersebut?
Ketika bermuamalah, Sudahkan kita kaji hukum – hukumnya sebelum berbuat, sampai kita tentram bahwa hukum yang kita ambil adalah yang paling shawab/benar?

Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang tidak mempelajari hukum-hukum jual beli niscaya ia akan memakan riba, baik suka ataupun tidak.” (HR. Imam Malik)

“Dua telapak kaki manusia akan selalu tegak (dihadapan Allah), hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia korbankan” (HR. Tirmidzi)

“Sungguh akan datang kepada manusia masa dimana seseorang tidak lagi peduli dengan cara apa ia mengambil harta, apakah cara itu halal ataukah haram.” (HR. Bukhari)

Jangan membuatmu takjub, seseorang yang memperoleh harta dari cara haram, jika dia infakkan atau dia sedekahkan maka tidak diterima, jika ia pertahankan maka tidak diberkahi dan jika ia mati dan ia tinggalkan harta itu maka akan jadi bekal dia ke neraka. (Hr ath-Thabarani, ath-Thayalisi dan al-Baihaqi, lafal ath-Thabarani)

 

Astagfirulloh, kalau kita cari rezeki haram, untuk anak istri kita, mau “dibuang” kemana coba?
disedekahkan tidak diterima,
dipertahankan tidak diberkahi,
ditinggalkan mati akan menjadi bekal di neraka.

Naudzubillah

Sekarang coba kita muhasabah diri, apakah kita kadang merasa ibadah kita sudah totalitas, berdoa dan berikhtiar pagi, siang, sore bahkan malam. Tapi kadang merasa Allah tidak mendengar doa kita, Allah tidak mengabulkan doa kita, ada yang kadang merasa begitu?
Mungkin ini jawabanya

Seorang laki-laki berambut kusut dan berdebu menengadahkan kedua tanganya ke langit: “Ya Rabbi, ya Rabbi”, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana doanya bisa dikabulkan? (Hr Ahmad, Muslim, Tirmidzi)

mungkin makanan haram lah yang menahan doa kita sehingga tidak “didengar” oleh Allah

Kami yakin Anda yang membaca ini sholeh semua, kami yakin disini tidak ada pencuri, copet, atau bahkan koruptor yang jelas harta yang diperolehnya itu haram, betul?
Tapi kebanyakan dari umat muslim zaman sekarang sengaja atau tidak sengaja akan “kecipratan” DOSA RIBA.
Ini bukan menurut kami, ini sabda Rasulullah

Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorang pun diantara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang berusaha tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 2278)

Sesungguhnya tiap-tiap umat itu punya cobaan sendiri-sendiri. Dan cobaan bagi umatku, adalah persoalan HARTA. (HR Tirmidzi)

Jadi sampai sini mungkin kita semua harus introspeksi diri, kenapa usaha kita ga maju – maju, bisnis kita mandek disini-sini aja, kok rezeki kayanya seret banget buat kita. Astagfirulloh
Mungkin salah satu penyebabnya dosa riba yang tidak terasa. Padahal sudah jelas riba itu dosa besar dan hukumannya adalah diancam perang oleh Allah dan Rasul-Nya, dalilnya ada di Al – Baqarah : 275

Padalah Allah telah menghalalkan jual beli dan MENGHARAMKAN RIBA. (QS Al Baqarah 275)

Lantas sebenernya riba itu apa sih?

Secara bahasa, riba itu Ziyadah yang artinya “tambahan”

Dalam hadist:
Rasulullah saw bersabda: Setiap Hutang Piutang yang menghasilkan suatu MANFAAT maka itu termasuk salah satu bentuk RIBA (HR Baihaqi)

Jadi mudahnya,Kalau dalam urusan hutang piutang jangan pernah ada profit/keuntungan, karena profit/keuntungan itu RIBA.
Kalau mau ambil untung/profit ya lakukan jual beli bukan hutang piutang.

Riba dibagi kedalam 2 jenis :
– Riba fadhl
– Riba nasi’ah

Riba fadhl
Itu riba yang disebabkan adanya tambahan pada akad pertukarang barang ribawi tanpa memberikan barang pengganti.

Barang ribawi ada 6 jenis
Emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam

Contoh riba fadhl
Emas 20 karat seberat 10 gram, ditukar dengan Emas 24 karat seberat 8 gram
itu riba karena ada perbedaan/tambahan berat dan perbedaan/tambahan kualitas

# Jika menukar barang sejenis (misal emas ditukar emas), syaratnya 2 : harus kontan dan tidak ada tambahan apapun
# Jika menukar barang beda jenis (misal emas ditukar kurma), syaratnya 1 : harus kontan dan boleh ada tambahan
contoh, 1 gram emas ditukar dengan 20 kg kurma itu boleh (tidak riba)

Riba nasi’ah
itu riba yang disebabkan adanya tambahan akibat dari pengganti tempo (waktu)

Contoh riba nasi’ah
Bapak X meminjam uang sejumlah 1 juta ke Ibu A pada bulan Januari.
Kemudian bapak X mengembalikan uang 1,2 juta ke Ibu A pada bulan Februari.
uang sejumlah 200 ribu nya itu riba, walaupun bukan Ibu A yang minta, tapi inisiatif Bapak X karena merasa sudah dibantu oleh Ibu A, jadi itu sebagai “uang terima kasih”

Nah kebanyakan di zaman sekarang tuh, orang – orang terjebaknya dalam riba nasi’ah
Bahkan ada yang beranggapan tambahan 200 ribu itu kan yang penting ikhlas, niatnya cuma untuk berterima kasih.
Faktor keikhlasan tidak bisa merubah sesuatu yang haram menjadi halal

Contohnya,
Mohon maaf, misal Bapak X dan Ibu A itu bukan suami istri, tapi mereka berzina, kata Ibu A “Gapapa, saya ikhlas kok sama bapak X, saya rela diapain aja karena kita udah dekat hubunganya” ya sedekat apapun hubungan kalau belum nikah mah ya haram, zina itu namanya. Apa karena Ibu A nya ikhlas lantas zina mereka jadi halal?

Terus ada yang beralasan, kalau tambahan uang itu akibat karena saling memberi manfaat kan boleh? Bapak X mendapat manfaat karena dibantu oleh Ibu A, terus Ibu A mendapat manfaat karena kelebihan uangnya bisa digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat pula.

Nah kalo ini langsung dijawabnya sama Allah

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamr dan maisir (judi). Katakanlah (muhammad), Pada keduanya terdapat dosa besar dan ada pula manfaatnya untuk manusia, namun dosanya lebih besar dari pada manfaatnya (QS Al Baqarah 219)

Ah soalnnya gimana lagi dong, semuanya keadaanya sudah begini, banyak kok yang kaya gitu juga, ga usah diribetin lah

Jika riba sudah merajalela di bumi ini, apakah lantas mengubah hukum RIBA menjadi BOLEH dan HALAL?

Sudah pada tau kalau riba itu haram, tapi kenapa kita tidak meninggalkannya?

Alasanya, ah banyak kok yang kaya gitu juga, kalau ribanya sedikit mungkin dosanya juga sedikit

Saya kan bukan rentenirnya

Saya kan bukan pemilik banknya

Saya kan hanya objek bukan subjek

Saya kan yang dihutangi, yang makan uang ribanya kan yang menghutangi

“Rasulullah *melaknat orang-orang yang terlibat riba. yaitu yang mengambil riba, memberinya, menuliskannya, dan dua orang saksinya*”. Beliau bersabda, “Hum sawaa’un, mereka semua sama” (HR. Muslim dan Bukhari dari Abu Hudzaifah)

Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan TINGGALKAN sisa transaksi riba jika kalian memang orang-orang yang beriman. Jika kalian tidak melakukan itu maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan MEMERANGI kalian” (QS Al-Baqarah: 278-279)

Nah loh ditantang perang sama Allah dan Rasul-Nya
Mau ngelawan Allah bagaimana?

Naudzubillah

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedangkan yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri” (HR.Ibnu Majah dan al-Hakim)

Astagfirullohal’adzim
Bayangkan coba kita menzinahi ibu kandung kita sendiri?? Betapa durhakanya kita, betapa bejat dan terhinanya kita.
Itu baru yang paling ringan, bagaimana dosa paling beratnya?
Wallahu’alam

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat dari pada enam puluh kali zina” (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah)

Nah tadi si Bapak X sama Ibu A ribanya 200 ribu, kalau 1 dirham = sekitar 70 ribu aja, dosa mereka sama kaya berapa puluh kali berzina?

Bahkan dosa riba bukan hanya berdampak kepada para pelakunya aja, dosa riba bisa berlaku untuk suatu bangsa, yang riba nya tetangga kita, kita yang kena azab Allah nya

Ini bukan menurut kita, ini sabda Rasulullah

Rasulullah saw bersabda,
“Apabila perbuatan ZINA dan RIBA telah merajalela di suatu negeri, berarti penduduknya telah mengizinkan turunnya ADZAB ALLAH atas diri mereka.”

Astagfirullohal’adzim

Gimana dong, kita kan sebelumnya gatau kalau itu riba, udah terlanjur ke makan sama kita makanan haramnya

Tenang, Allah dalam Al – Quran udah ngasih solusinya kok

Allah SWT berfirman.
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari bertransaksi riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang mengulangi (bertransaksi riba) maka orang itu adalah PENGHUNI – PENGHUNI NERAKA, mereka kekal didalamnya” (QS Al-Baqarah: 275)

Jadi yang sudah terlanjur, urusanya terserah pada Allah, tugas kita hanya bertaubat.
Tapi bagi yang udah tau, tapi tetap melakukan transaksi ribawi, neraka tempatnya.
Bayangkan, sholat kita tidak ada yang terlewat, puasanya rajin, sedekah jor – joran, bahkan sudah bolak – balik umroh dan haji. Tapi kalau kita mengulang – ulang perbuatan riba, tetep aja masuk neraka.

Naudzubillahi min dzalik
Astagfirullohal’adzim

Materi ini yang menyebabkan cara padang, visi, dan orientasi kehidupan kami  berubah.

Alhamdulillah kami telah diberi hidayah oleh Allah sebelum kami terjerumus dosa riba yang berkepanjangan. Tentu dosa kami mungkin tetap banyak, tapi setidaknya kami diselamatkan oleh Allah dari dosa riba.
Aamiin

 

Jika kita kerja dengan bos, kita lakukan apa yang perintahnya dan kita yakin pasti mendapat gaji jika kerja kita bagus.
Tapi kenapa kita terkadang tidak yakin sama Tuhan kita sendiri.
Kita “kerja” dengan Allah, kita lakukan apa yang diperintahkan-Nya dan jauhi apa yang dilarang-Nya dan yakin kita pasti diberi rezeki, dan ini janji Allah.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS At Tholaq 2 – 3)

 

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *