Hukum Kredit Rumah via KPR

Hukum Kredit Rumah via KPR

Kita tahu kebutuhan akan rumah sangat ini begitu urgent. Ada yang menempuh jalan menunggu uangnya terkumpul dalam waktu lama barulah memiliki rumah. Dan ada yang ingin segera dapat rumah lewat cara kredit. Salah satu cara yang ditempuh adalah kredit KPR. Bagaimana hukum kredit rumah KPR tersebut?

Kita tahu kebutuhan akan rumah sangat ini begitu urgent. Ada yang menempuh jalan menunggu uangnya terkumpul dalam waktu lama barulah memiliki rumah. Dan ada yang ingin segera dapat rumah lewat cara kredit. Salah satu cara yang ditempuh adalah kredit KPR. Bagaimana hukum kredit rumah KPR tersebut?

Berutang Memang Tidak Masalah Ketika Tidak Merasa Sulit

Dari Ummul Mukminin Maimunah,

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ  مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا

Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2408 dan An Nasai no. 4690. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

 

Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Sedangkan ada dalil yang menegaskan tentang bahaya berutang, di antaranya adalah do’a Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat yang meminta perlindungan pada Allah dari sulitnya utang.

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ  .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).

Kata Ibnu Hajar, dalam Hasyiyah Ibnul Munir disebutkan bahwa hadits meminta perlindungan dari utang tidaklah bertolak belakang dengan hadits yang membicarakan tentang bolehnya berutang. Sedangkan yang dimaksud dengan meminta perlindungan adalah dari kesusahan saat berutang. Namun jika yang berutang itu mudah melunasinya, maka ia berarti telah dilindungi oleh Allah dari kesulitan dan ia pun melakukan sesuatu yang sifatnya boleh (mubah). Lihat Fathul Bari, 5: 61.

Berutanglah dengan Jalan yang Benar

Jika berutang dibolehkan saat mudah untuk melunasinya, bukan berarti kita asal-asalan saja dalam berutang dan di antara bentuknya adalah mengambil kredit. Karena jika di dalam utang dipersyaratkan mesti dilebihkan saat pengembelian, maka itu adalah riba dan hukumnya haram.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Kemudian Ibnu Qudamah membawakan perkataan berikut ini,

“Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika orang yang memberikan pinjaman memberikan syarat kepada yang meminjam supaya memberikan tambahan atau hadiah, lalu transaksinya terjadi demikian, maka tambahan tersebut adalah riba.”

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Abbas bahwasanya mereka melarang dari utang piutang yang ditarik keuntungan karena utang piutang adalah bersifat sosial dan ingin cari pahala. Jika di dalamnya disengaja mencari keuntungan, maka sudah keluar dari konteks tujuannya. Tambahan tersebut bisa jadi tambahan dana atau manfaat.” Lihat Al Mughni, 6: 436.

Nyata dalam Kredit KPR

Kenyataan yang terjadi dalam kredit KPR adalah pihak bank meminjamkan uang kepada nasabah dan ingin dikembalikan lebih. Jadi realitanya, bukanlah transaksi jual beli rumah karena pihak bank sama sekali belum memiliki rumah tersebut. Yang terjadi dalam transaksi KPR adalah meminjamkan uang dan di dalamnya ada tambahan dan ini nyata-nyata riba. Itu sudah jelas. Kita sepakat bahwa hukum riba adalah haram.

Penyetor Riba Terkena Laknat

Bukan hanya pemakan riba (rentenir) saja yang terkena celaan. Penyetor riba yaitu nasabah yang meminjam pun tak lepas dari celaan. Ada hadits dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Mengapa sampai penyetor riba pun terkena laknat? Karena mereka telah menolong dalam kebatilan. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits di atas bisa disimpulkan mengenai haramnya saling menolong dalam kebatilan.” (Syarh Shahih Muslim, 11: 23).

Sehingga jika demikian sudah sepantasnya penyetor riba bertaubat dan bertekad kuat untuk segera melunasi utangnya.

Sudah Seharusnya Menghindari Riba

Jika telah jelas bahwa riba itu haram dan kita dilarang turut serta dalam transaksi riba termasuk pula menjadi peminjam, maka sudah sepantasnya kita sebagai seorang muslim mencari jalan yang halal untuk memenuhi kebutuhan primer kita termasuk dalam hal papan. Memiliki rumah dengan kredit KPR bukanlah darurat. Karena kita masih ada banyak cara halal yang bisa ditempuh dengan tinggal di rumah beratap melalui rumah kontrakan, sembari belajar untuk “nyicil” sehingga bisa tinggal di rumah sendiri. Atau pintar-pintarlah menghemat pengeluaran sehingga dapat membangun rumah perlahan-lahan dari mulai membeli tanah sampai mendirikan bangunan yang layak huni. Ingatlah sabda Rasul,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesunggunya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Siapa saja yang menempuh jalan yang halal, pasti Allah akan selalu beri yang terbaik. Yang mau bersabar dengan menempuh cara yang halal, tentu Allah akan mudahkan. Yo sabar … Yakin dan terus yakinlah!

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Hambali, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Selesai disusun selepas Zhuhur, 3 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Artikel Rumaysho.Com



Sumber https://rumaysho.com/3610-hukum-kredit-rumah-kpr.html

Informasi Lebih Lanjut

Untuk Solusi KPR Tanpa RIBA

Hubungi Kami

Tiga Macam Fitnah Akhir Zaman

Akhir zaman merupakan masa penuh fitnah (kekacauan politik). Rasulullah saw. memperingatkan kita jauh-jauh hari tentang hal ini.

عن عبدِ الله بن عُمَرَ قال: كُنَّا قُعُوداً عندَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ الفِتَنَ، فأَكثَرَ حتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الأَحْلاسِ، فقالَ قائِلٌ: وما فِتْنَةُ الأَحْلاسِ؟ قال: “هيَ هَرَبٌ وحَرْبٌ، ثمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُها منْ تحتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بيتي، يَزْعُمُ أنَّهُ منِّي وليسَ منِّي، إنَّما أَوْليائي المُتَّقُونَ، ثمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ على رَجُلٍ كوَرِكٍ على ضلَعٍ، ثمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْماءِ لا تَدَع أَحَدًا مِنْ هذهِ الأُمَّةِ إلا لطَمَتْهُ لَطْمةً، فإذا قيلَ: انقضَتْ تمادَتْ، يُصْبحُ الرَّجُلُ فيها مُؤْمِناً ويُمْسِي كافِراً، حتَّى يَصيرَ النَّاسُ إلى فُسْطاطَيْنِ: فُسطاطِ إِيْمانٍ لا نِفاقَ فيهِ، وفُسْطاطِ نِفاقٍ لا إِيْمانَ فيهِ، فإذا كانَ ذلكُمْ فانتظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أوْ مِنْ غَدِه”.

Dari Abdullah bin Umar yang berkata, “Kami duduk di samping Nabi saw. Beliau menceritakan tentang banyak kekacauan sampai pada cerita tentang kekacauan al-Ahlas. Seorang sahabat bertanya, ‘Apa maksud kekacauan Al-Ahlas?’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Pengungsian dan perampasan. Lalu fitnah kebencian yang sumbernya dari seorang laki-laki dari keluargaku yang mengira dirinya dari golonganku padahal bukan. Kekasihku hanya orang-orang yang bisa menahan diri. Lalu orang-orang mengangkat seorang pemimpin yang tidak layak. Lalu kekacauan duhaima’ (samar) yang tak meninggalkan seorang pun kecuali akan ditampar oleh kekacauan tersebut. Ketika dikatakan, ‘Kekacauan itu telah selesai’, sebenarnya kekacauan itu masih terjadi. Seorang laki-laki mukmin pada pagi hari, tetapi menjadi kafir di sore hari, sampai umat manusia menjadi dua golongan; golongan iman tanpa kemunafikan di dalamnya dan golongan munafik tanpa keimanan di dalamnya. Ketika tanda-tanda itu terjadi, tunggulah Dajjal pada hari itu atau esok harinya.’” (HR. Ahmad)

Hadis ini diriwayatkan dalam kitab Al-Fitan, Musnad Ahmad, Sunan Abu Daud, Musnad Al-Syamiyyin, Al-Mustadrak, Hilyatul Auliya’, dan Syarh Al-Sunnah. Semua kitab tersebut meriwayatkan dari Ala’ bin Utbah dari Umair bin Hani’ Al-Ansi dari Abdullah bin Umar. Para ulama pada umumnya menilai sahih. Al-Hakim, Al-Dzahabi, Ahmad Syakir, dan Al-Albani. Sedangkan Abu Nu’aim memberikan catatan bahwa hadis tersebut tergolong gharib (aneh). Al-Arna’uth menilai hadis ini tidak sahih, bahkan cenderung maudhu’ (palsu).

Hadis ini unik karena menyebar di lingkungan Syam; wilayah yang menjadi basis pendukung utama keluarga Umayah yang resisten terhadap Bani Hasyim. Sebagian perawinya bahkan dikenal sebagai nashibi atau pembenci Ahli Bait termasuk Ali bin Abi Thalib di dalamnya. Dalam matan hadis tersebut juga terdapat konten yang cenderung pada sikap resisten terhadap ahli bait sebagaimana ditunjukkan redaksi fitnah kebencian yang sumbernya dari seorang laki-laki dari keluargaku yang mengira dirinya dari golonganku padahal bukan. Kekasihku hanya orang-orang yang bisa menahan diri. Pertimbangan aspek dalam sanad dan matan inilah yang mungkin menyebabkan Abu Nu’aim dan Al-Arna’uth mencurigai riwayat tersebut sebagai palsu sekalipun diriwayatkan dalam sebuah sanad yang dipenuhi perawi-perawi terpercaya.

Terlepas dari perdebatan soal kesahihan, hadis-hadis tentang kekacauan akhir zaman selalu memuat anjuran menahan diri dari melibatkan diri dalam konflik. Dalam hadis tersebut misalnya, dikatakan kekasihku hanya orang-orang yang menahan diri (tidak terlibat konflik). Perkataan ini jelas dukungan Nabi kepada orang-orang yang menjauhkan diri dari konflik. Orang-orang yang mengobarkan konflik, sekalipun mengaku keturunan Nabi saw., sebenarnya ia bukan golongan beliau. Al-Karmani (w. 854 H.) menjelaskan bahwa orang yang benar-benar keturunan Nabi saw. tidak akan mengobarkan kekacauan (Syarah Mashabih Al-Sunnah Li Al-Baghawi, jilid 5, hlm. 507). Syekh Al-Azhim Abadi (w. 1329 H.) mengutip Al-Ardibili yang mengatakan bahwa standar kebenaran pada masa kekacauan adalah orang yang bertakwa yang dapat menahan diri sekalipun tidak ada hubungan dengan Nabi saw. Serta tidak dianggap benar seorang penyebar kekacauan sekalipun punya hubungan nasab dengan beliau (Aun Al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud, jilid 11, hlm. 208).

Ada catatan menarik dari hadis Syamiyyin ini. Fitnah lebih banyak berarti kekacauan sosial-politik. Dengan tegas, hadis di atas menjelaskan tiga macam fitnah akhir zaman; al-Ahlas, al-Sarra’, dan al-Duhaima’. Fitnah Al-Ahlas berarti pengungsian dan perampasan harta serta nyawa. Fitnah Al-Sarra’ punya tiga pengertian, yaitu kekacauan karena perebutan sumber kekayaan duniawi, kekacauan yang membuat senang musuh, atau kekacauan karena kebencian dan sakit hati. Sedangkan fitnah Al-Duhaima’ berarti kesimpang-siuran kebenaran yang akan menimpa seluruh orang yang terlibat dalam konflik. Ketiga macam fitnah ini berkaitan dengan masalah sosial dan politik.

Di sini kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa sumber fitnah, kekacauan dan konflik adalah masalah duniawiah. Sekalipun dibungkus dengan bahasa agama, hal itu tidak menafikan bahwa sumbernya adalah duniawi. Karenanya, tidak heran para ulama lebih menganjurkan agar umat menjauhi terlibat dalam konflik. Bahkan pergi ke gunung, hidup menjadi penggembala kambing.

Sampai di sini, ternyata, hadis tentang fitnah akhir zaman yang selama ini dikampanyekan oknum ustaz pendukung kelompok politik tertentu, dan mendorong umat Islam terlibat dalam aksi-aksi fitnah (menciptakan keresahan dan kekacauan), pada kenyataannya justru menganjurkan orang menjauhi kekacauan. Jika ada yang menggunakannya untuk mendorong orang awam terlibat konflik sosial-politik, berarti ada pemutarbalikan maksud hadis. Apakah membuat kategori mukmin-munafik lalu diterapkan untuk menyudutkan orang yang berbeda pandangan dengan menyebutnya pendukung Dajjal bagian dari pemutarbalikan maksud hadis. Begitukah? Wallahu A’lam.

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Jangan Sampai Salah Langkah, Begini 4 Adab Mencari Rezeki!

Mencari rezeki memang menjadi suatu kewajiban, terlebih bagi para kepala rumah tangga. Selain kewajiban, mencari rezeki juga menjadi tuntunan agama dalam rangka menaati perintah Allah untuk menafkahi keluarga. Meskipun demikian, ada saja yang mencari rezeki tanpa mempedulikan mana yang halal dan mana yang haram. Bagi sebagian orang, ungkapan “yang halal aja susah apalagi yang halal” seolah-olah menjadi pembenaran atau legalitas atas apa yang mereka kerjakan.

Rasulullah SAW pernah menggambarkan perilaku semacam itu dalam sebuah hadis, “Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukan dengan cara yang haram.” (HR. Bukhari) Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memperhatikan cara-cara yang mereka lakukan dalam mencari rezeki. Ternyata ada empat hal yang harus diperhatikan oleh umat Islam dalam rangka mencari rezeki halal.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jangan mencurangi timbangan. Sebagian besar orang mencari rezeki melalui kegiatan perdagangan atau perniagaan dan tak jarang ada saja pedagang yang nakal dalam berdagang. Dalam melakukan perdagangan, umat Islam dituntut untuk senantiasa berbuat jujur. Selain itu, tidak boleh mempermainkan timbangan takaran ataupun kualitas dari barang yang dijual seperti disebutkan dalam surat Al-Muthaffifin ayat 1-6.

Allah berfirman, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6)

Kemudian yang kedua, jangan melakukan kegiatan riba dan jangan melakukan kegiatan transaksi riba dalam mencari rezeki. Allah melarang hamba-Nya mencari rezeki melalui riba seperti disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 130-131. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 130-131)

Ketiga, yaitu jangan menggunakan cara yang bathil dalam mencari rezeki. Cara-cara bathil yang dimaksud yaitu seperti halnya korupsi, mencuri, menerima suap ataupun menipu. Dalam surat Al Baqarah ayat 188 Allah berfirman, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188)

Kemudian yang keempat, jangan mencari rezeki melalui jalan perjudian dan jual beli barang haram. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, “Allah dan Rasul-Nya melarang jual-beli khamar, bangkai, daging babi dan berhala/patung yang disembah…” (HR. Bukhari dan Muslim) Selain itu, Allah juga melarang mencari rezeki melalui cara tersebut dengan berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 90-91.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91)

Demikianlah empat hal yang harus dijauhi oleh umat Islam dalam mencari rezeki. Yaitu tidak mencuri timbangan, jangan melakukan transaksi riba, jangan menggunakan cara yang bathil dan jangan melakukan perjudian atau jual beli barang yang haram. Dengan menjauhi empat hal tersebut, niscaya rezeki yang didapatkan akan lebih berkah dan dapat mencukupi kebutuhan hidup.

Wallahu a’lam.

Sumber: islami.co

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Yang Paling Susah Dikendalikan dari Manusia adalah Hatinya


Hati dalam bahasa Arab dinamakan al-Qalb. Qalb aslinya bermakna terbolak balik. Ya, hati dinamakan demikian karena ia seringkali berubah dan berbolak-balik. Terkadang ia mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan baik, dan terkadang ia juga mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan buruk. Sifat inilah yang seringkali membuat hati sulit ditebak dan menjadi ruang paling misterius dalam diri manusia.

Yang dimaksud hati atau qalb dalam organ tubuh manusia adalah jantung. Karena jantung adalah pusat kehidupan. Seperti dalam sebuah hadis misalnya;

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله. وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب.

“Sesungguhnya dalam jasad manusia ada segumpal daging; yang jika baik, maka seluruh badan akan baik. Namun jika rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Yaitu hati.”

Namun, secara ruhi dan tak kasat mata, manusia juga memiliki hati non-organ yang memproduksi perasaan-perasaan seperti bahagia, takut, cemas, dan perasaan lainnya. Di sinilah keimanan seseorang tertanam. Menyesuaikan dengan sifat hati yang mudah terbolak-balik, maka keberadaan iman seseorang juga kadang bertambah (yazidu) dan berkurang (yanqush).

Ada banyak cara untuk menstabilkan hati agar istiqomah berada di dalam kebaikan; pertama adalah membiasakan diri untuk konsisten terus-menerus melakukan kebaikan dan amal shalih. Kontinuitas semacam ini, selain mampu membiasakan hati untuk condong pada hal-hal yang baik, juga bisa mengantisipasi hati berbalik arah kepada hal-hal yang tidak baik.

Kedua, ada banyak doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menstabilkan hati. Beberapa di antaranya misalnya:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِيْكَ وَطَاعَتِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah posisi hatiku atas agamaMu dan mentaati-Mu.”

يَا مُحَوِّلَ الْحَوْلِ وَالأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ حَالٍ

“Wahai Dzat yang mengubah keadaan, ubahlah keadaanku menjadi sebaik-baiknya keadaan.”

Itulah kenyataan tentang hati yang harus kita ketahui berikut bagaimana cara menundukkannya agar senantiasa berada di posisi yang membawa kebaikan bagi pemiliknya.

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Tiga Mata yang Tidak Akan Tersentuh Api Neraka


Banyak faktor dan sebab yang akan mengantarkan manusia ke neraka. Kaki yang tidak dikontrol, yang selalu membawanya kepada tempat-tempat maksiat akan menjadi hal yang mendorongnya ke neraka. Tangan yang tidak mampu dikendalikan, yang digunakan untuk kejahatan, akan menjadi hal yang menjerumuskannya ke neraka. Telinga yang tidak mampu diatur, yang selalu mendengarkan fitnah dan ghibah, juga akan mengantarkan seseorang ke pintu neraka.

Dari sekian banyak organ tubuh manusia, mata juga menjadi potensi yang paling besar yang mampu menjebloskan pemiliknya ke neraka. Tapi, ada tiga jenis mata yang kelak, kata Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak akan bisa disentuh oleh api neraka. Apa saja? Simak hadis berikut ini:

ثلاثة أعين لا تمسها النار: عين فقئت في سبيل الله، وعين حرست في سبيل الله، وعين بكت من خشية الله

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “tiga jenis mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang dipakai di jalan Allah SWT, mata yang dijaga [hanya] untuk [hal-hal yang dianjurkan] oleh Allah SWT dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT.”

Tiga jenis mata yang tidak akan pernah disentuh api neraka yakni:

1. Mata yang selalu bangun dan dipakai di jalan Allah SWT

Yakni mata yang difungsikan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, membaca al-Qur’an dan melihat segala hal yang mampu menambah keimanannya kepada Allah SWT

2. Mata yang dijaga dari hal-hal yang tidak diperkenankan oleh Allah SWT

Yakni mata seseorang yang benar-benar dijaga dari hal-hal yang tidak boleh dilihat dalam syariat. Seseorang menjaga betul dari melihat aurat lawan jenis, tontontan yang penuh kemaksiatan dan lain-lain.

3. Mata yang selalu mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah SWT

Rasa takutnya kepada Allah SWT membuat mata seseorang selalu menangis dalam ibadah dan doa-doanya. Air matanya adalah air mata harapan agar dosa-dosanya diampuni dan senantiasa diberi petunjuk oleh Allah SWT.

Itulah tiga jenis mata seorang hamba, yang kata Nabi Muhammad SAW, tidak akan pernah disentuh oleh api neraka kelak di hari kiamat. Justru mata-mata ini akan menolong pemiliknya dan menjadi saksi bahwa ketika hidup ia senantiasa menyaksikan hal-hal yang baik dan menahan diri dari melihat hal-hal yang dilarang.

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

Iri dalam Belajar adalah Kunci Kesuksesan

Dari Abdillah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “tidak iri (hasut) yang diperbolehkan, kecuali pada dua orang; seseorang yang diberi kekayaan harta oleh Allah, lalu dikuasakan atas belanjakannya pada jalan kebenaran. Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”. (HR.Muttafaq Alayh)

Hadis ini menjelaskan ada dua macam hasut (iri) yang diperbolehkan dalam islam. Pertama, iri kepada orang kaya yang mendermakan hartanya dijalan Allah. Kedua, iri kepada orang yang alim, yang kemudian mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Hasut (iri) model ini dinamakan Ghibthah yang diperbolehkan, bukan hasut Syar’I yang terlarang. Ghibthah artinya;

تَمَنِّى الْمَرْءِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ مِثْلُ هَذِهِ النِّعْمَةِ مَعَ بَقَائِهَا لِصَاحِبِهَا

Cita-cita seseorang memiliki seperti nikmat ini serta utuhnya nikmat itu bagi pemiliknya.

Berbeda dengan iri atau hasut Syar’i yang terlarang, yaitu:

تَمَنِّى زَوَالِ النِّعْمَةِ مِنْ غَيْرِهِ

Mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang lain.

Iri Ghibthah seperti diatas diperintahkan bagi setiap orang kerena termasuk bagian dari berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khayrat).

Iri Ghibthah identik dengan cita-cita atau harapan ingin menjadi orang sukses seperti orang lain yang telah sukses. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ada dua macam bentuk iri atau cita-cita yang diinginkan, yaitu:

a. Ingin menjadi seorang yang sukses dalam harta

Seseorang boleh berkeinginan menjadi seorang sukses dalam usaha, sukses dalam materi, kemudian ia bisa membelanjakan ke jalan kebaikan dan kebenaran. Dalam islam harta itu selain dibelanjakan untuk kepentingan pribadi jiga kepentingan keluarga secara seimbang dan adil, juga untuk kepentingan sosial di jalan Allah. Seorang anak boleh mempunyai cita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses yang mendermakan hartanya ke jalan kebaikan seperti orang itu.

b. Ingin menjadi seorang sukses dalam ilmu

Rasulullah SAW menjelaskan:

وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”.

Makna al-hikmah  dalam hadis diatas diartikan juga Al-Qur’an sebagaimana riwayat Ibnu Umar “seseorang diberi Al-Qur’an oleh Allah SWT, ia beribadah dengannya sepanjang malam dan siang”.

Orang itu disibukkan membaca Al-Qur’an siang malam baik dibaca didalam shalat maupun diluar shalat. Cita-citanya ingin menjadi penghafal Al-Qur’an atau ahli membaca Al-Qur’an yang dibaca terus-menerus. Dua periwayatan diatas dapat dikompromikan cita cita yang diinginkan adalah ahli membaca Al-Qur’an sekaligus ahli ilmu yang paham kandugan Al-Qur’an mengamalakan ilmunya dan mengajarkan kepada orang lain. Ini adalah cita-cita yang paling tinggi dan paling baik diantara sekalian cita-cita karena dapat menggabungkan cita-cita unggulnya yakni ilmu dan Al-Qur’an. Keduanya saling sinergi Al-Qur’an sumber ilmu dan ilmu memperkuat kebenaran Al-Qur’an.

Disamping itu, keduanya menjadi kunci keberhasilan kesuksesan lain baik kesuksesan duniawi maupun ukhrawi.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

5 Keistimewaan Hari Jumat


Hari Jumat ialah hari yang sangat mulia. Kata Jumat berasal dari bahasa Arab “Jum’ah” yang berarti berkumpul, karena pada hari itu semua orang Islam yang laki-laki akan berkumpul ketika melaksanakan ibadah shalat Jumat. Semua aktifitas dihentikan sejenak, bermunajat kepada Allah swt. Sesungguhnya akhirat itu lebih baik lagi kekal. Sebagaimana firman Allah swt.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. Al-Jumu’ah: 9)

Hari Jumat memiliki beberapa keutamaan dibanding dengan hari-hari lainnya. Ada 5 keistimewaan yang terdapat pada hari Jumat di antaranya:

Pertama, sebaik-baik hari ialah hari Jumat. Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat, karena pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim)

Kedua, pada hari Jumat terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Abu Hurairah berkata Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di hari Jumat terdapat satu waktu yang mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasulullah saw. mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ulama ternama, Ibnu Qayyim Al-Jauziah mengatakan bahwa waktu yang mustajab itu ada dua versi, sebagaimana ditunjukan dalam banyak hadits yang shahih. Pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi.

Ketiga, sedekah di hari Jumat lebih utama dibanding hari lainnya. Ibnu Qayyim menambahkan, “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya ibarat sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”

Keempat, hari diturunkannya ampunan. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke mesjid, dan masuk mesjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jumat.” (HR. Bukhari)

Kelima, jalannya orang yang shalat Jumat adalah pahala. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, kemudian bersegera berangkat menuju mesjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan setara dengan pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah.” (HR. Ahmad).

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

7 Hal yang Wajib Diperhatikan Seorang Pencari Ilmu

Menurut Imam az-Zarnuji, ada tujuh hal penting yang wajib diperhatikan oleh seorang pencari ilmu agar ilmu mudah dia dapatkan dan bermanfaat.

1. Kesungguhan Hati

Penuntut ilmu harus bersungguh hati dan terus menerus demikian. Seperti itulah petunjuk ALLAH SWT dalam firman-Nya: “Dan mereka yang berjuang untuk (mencari keridloan) kami niscaya akan kami tunjukan mereka kepada jalan kami…” (Q.S Al Ankabut: 69)

Ada kata mutiara: “Siapa bersungguh hati mencari sesuatu, pastilah ketemu; dan siapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pastilah memasuki”.

Dikatakan lagi: “Sejauh mana kepayahanmu, sekian pula tercapai harapanmu”. Dengan kesungguhan, perkara jauh menjadi dekat. Pintu terkunci menjadi terbuka.

2. Kontinuitas Belajar

Tidak bisa tidak, pelajar hendaklah secara kontinu belajar dan mengulangi pelajaran yang telah lewat di awal dan akhir waktu malam, karena saat antara Maghrib dengan Isya dan waktu sahur (menjelang subuh) adalah saat-saat yang diberkahi ALLAH. Hendaknya pula memanfaatkan kesempatan belajar pada masa muda dan awal remajanya.

3. Menyantuni Diri Sendiri

Hendaklah tidak menforsir diri, tidak membuat dirinya lunglai sampai tidak kuat berbuat sesuatu, tapi hendaklah tetap menyantuni (menyayangi) diri sendiri.

Sikap santun adalah pangkal segala hal, sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Sadarlah, bahwa Islam ini agama yang kokoh, maka perlakukanlah dirimu dengan santun dan jangan kamu perbuat ibadah kepada ALLAH untuk menyengsarakan dirimu; karena orang yang munbit (loyo dan ditinggal kendaraan) itu tidak sanggup lagi menerjang bumi dan tidak pula kendaraannya.”

Nabi SAW bersabda: “Dirimu adalah kendaraanmu, maka perlakukanlah dengan santun”.

4. Cita-cita Luhur

Penuntut ilmu harus bercita-cita tinggi dalam berilmu, karena manusia akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan sayapnya.

Pangkal sukses adalah kesungguhan dan cita-cita yang tinggi. Dan sebaliknya, jika bercita-cita tinggi tetapi tiada kesungguhan, atau berkesungguhan tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka ilmu yang diperoleh hanya sedikit.

5. Kemutlakan Ilmu

Dianjurkan, hendaklah penuntut ilmu memaksimalkan usaha menuju sukses, secara serius dan terus menerus dengan menghayati berbagai keunggulan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu abadi sedangkan harta itu fana. Ilmu yang bermanfaat akan mengangkat reputasi seseorang, dan tetap harum namanya setelah ia meninggal; karena itu hidupnya tetap abadi.

Lezatnya ilmu, fiqih dan lezatnya kefahaman adalah cukup untuk menjadi motifasi bagi orang berakal untuk meraih sukses keilmuannya.

6. Mengurangi Kemalasan

Sikap kemalasan itu terkadang timbul dari akibat terlalu banyak lendir dahak dan cairan-cairan lain dalam tubuh. Sedang cara meminimalisir cairan tersebut adalah dengan mengurangi makan.

Ada disebutkan: “tujuh puluh Nabi bersepakat bahwa keseringan lupa itu akibat kebanyakan dahak, dan kebanyakan dahak disebabkan oleh kebanyakan minum air, dan kebanyakan minum air disebabkan terlalu banyak makan.

Bersiwak dapat mengurangi dahak, menambah kuat hafalan dan meningkatkan tingkat kefasihan; demikianlah bersiwak termasuk sunnah Nabi yang dapat menambah pahala shalat dan membaca Al-Qur’an.

7. Mengurangi Makan

Cara mengurangi makan adalah menghayati berbagai manfaat yang timbul dari minimasi makanan, antara lain kesehatan, terhindar dari yang haram dan care terhadap nasib orang lain.

Dan juga menghayati madlarat yang timbul akibat terlalu banyak makan, yaitu timbulnya berbagai penyakit dan bebal; ada kata mutiara menyebutkan “perut kenyang, kecerdasanpun hilang”

Cara lain untuk minimasi makan adalah menyantap makanan yang berlemak (mengandung zat pemuak), mendahulukan makanan yang halus lagi disukai, dan jangan makan bersama dengan orang yang sedang kelaparan; kecuali jika hal itu dilakukan untuk tujuan yang baik, semisal agar kuat puasa, shalat atau tugas-tugas berat lainnya, maka bolehlah demikian.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Tiga Kondisi Ketika Doa Seorang Hamba Pasti Terkabul

 

Dikabulkannya sebuah doa tergantung beberapa faktor. Hal yang paling utama adalah kebutuhan mendesak yang dimiliki seorang hamba. Namun selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa kita manfaatkan untuk berdoa, yang memiliki keutamannya sendiri dibandingkan kondisi-kondisi pada umumnya. Ini sebagaimana yang tertera dalam riwayat di bawah ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

ثلاث حق على الله أن لا يرد لهم دعوة: الصائم حتى يفطر، والمظلوم حتى ينتصر، والمسافر حتى يرجع.

Tiga hal yang Allah akan kabulkan doalnya: doa orang yang berpuasa sampai berbuka, doa orang yang terdzalimi sampai ia ditolong dan doa seorang musafir sampai dia pulang

Sabda Nabi Muhammad SAW di atas adalah bentuk penghargaan bagi seorang hamba yang tengah berada dalam ujian atau cobaan. Berpuasa, didzalimi orang lain dan melakukan safar adalah tiga kondisi cobaan yang lumrah dialami oleh seseorang. Ketiganya mengandung sesuatu yang tidak enak, tidak nyaman dan cenderung menganggu.

Seperti berpuasa misalnya. Seseorang dicegah untuk makan makanan yang disukainya dan minum minuman favoritnya. Sejak pagi hari sampai senja ia dituntut untuk mengosongkan perutnya dan menahan segenap keinginannya terhadap hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Dalam kondisi yang tidak menyenangkan seperti ini, seseorang dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dan menahan syahwatnya. Dan dalam kondisi seperti inilah, secara tidak langsung, doa yang dipanjatkannya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Begitu juga dengan kondisi terdzalimi. Tidak mengenakkan, sama seperti puasa. Melakukan safar berhari-hari, dari satu tempat ke tempat yang lain. Meninggalkan anak-istri, menanggung rindu kepada keluarga dan suasana kampong halaman, merupakan ujian yang tidak ringan. Dan, dalam kondisi-kondisi semacam inilah, jika dilalui dengan sabar, doa seorang hamba akan langsung didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT.

Maka bagi kamu yang berpuasa, terdzalimi dan sedang berpergian, manfaatkan kondisi-kondisi itu dengan banyak berdoa dan meminta kepada Allah SWT.

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

3 Kisah Inspiratif Mereka yang Memutuskan Untuk Berhijrah

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya berpindah atau meninggalkan tempat. Menurut sejarahnya sendiri, hijrah sudah dilakukan terlebih dahulu oleh Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya dari Mekkah ke Madinah untuk mempertahankan dan menegakkan akidah dan syari’at Islam.

Namun, di jaman sekarang, makna hijrah dapat diartikan sebagai meninggalkan sesuatu yang buruk demi menuju sesuatu yang lebih baik. Misalnya yang semula belum menggunakan jilbab menjadi menggunakan jilbab. Yang sebelumnya senang bergosip menjadi menahan diri untuk tidak bergosip dan seterusnya.

Dalam membuat keputusan untuk berhijrah tentunya banyak faktor yang memengaruhi, entah itu dari keluarga, sahabat, keinginan diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik atau belajar dari kisah orang lain.

Untukmu yang ingin berhijrah ataupun yang penasaran dengan 3 kisah inspiratif ini, yuk kita simak aja!

Terima kasih sahabatku, kini aku memutuskan untuk berhijrah

Alhamdulillah aku bertemu sama temen-temen yang selalu mengingatkan. walau dulunya aku suka galak sama mereka gara gara aku kesel mereka ingetin terus. Mereka pendiem, tapi kalau nyuruh sholat atau pakai kerudung tuh baweeeel banget. Sampai akhirnya aku kesel dan bilang “Ya Aku tuh gini. ngga usah diatur atur”. Padahal temen aku itu baik banget, tapi aku bentak bentak. Sampai suatu hari ada status difacebook katanya gini “Menolak kebenaran itu adalah kesombongan dan tak akan masuk surga orang yang dihatinya ada kesombongan walau sebesar biji kenari”.

Tapi memang belum terlalu mempan. Tapi seiring berjalannya waktu, entah kenapa Allah selalu ngingetin aku sama kematian. Aku mulai ngerasa selama aku hidup aku ngga melakukan apapun untuk akhirat. Malah untuk orang tua yang sebegitunya udah berjuang buat aku sedari aku dalam kandungan, aku khawatir ngga bisa bantu nanti di akhirat malah khawatirnya aku malah jadi ngeberatin mereka. Padahal anak mereka perempuan (aku pernah baca, jika berhasil menjadi anak perempuannya shalihah maka syurga untuk orang tuanya). Aku ngerasa jahat banget kalau aku nyusahin mereka dunia akhirat.

Dunia ini ngga akan lama. selama ini Aku disibukkin sama dunia yang ngga ada harganya dimata Allah. Aku lebih banyak kufur dari pada syukur. Aku lebih sering ngorbanin akhirat yg kekal daripada dunia yang sebentar.

Duka yang hadir dalam perjalanan hijrahku yaitu awal pakai kerudung panjang, keluargaku mulai agak beda. Mamah bapak selalu curigaan aku ikut aliran apa. sampai bapak aku bilang “Teh kalau teteh ikut aliran sesat, bapa mendingan gantung diri “.

Belum lagi mamah aku malah masukin aku ke tempat kursus jahit, katanya dari pada ikut aliran apa gitu kalau kuliah, mending keluar aja kuliahnya biar jadi tukang jahit biar aman walau di rumah. Terus pertama pakai kerudung aku udah mau pakai cadar, jadi wajar sih kalau pada kaget. Terus orang-orang juga suka mandang gimana gitu, suka bilang kaya ibu-ibu, kaya superman, sok alim dan lain-lain.

Sempet agak down sih, tapi alhamdulillah temen-temen yang lainnya selalu ngingetin. Aku niatnya karena siapa, kalau bukan karena Allah pasti cepet goyah. Terus pernah ada yang ngingetin katanya “Harus istiqomah ya, kalau pengen enak bukan istiqomah namanya, tapi istirahat” . Terus yang terakhir ada yang bilang kita itu udah diakhir zaman, beragama dizaman ini kaya menggenggam bara api. Kalau setengah-setengah kita kerasa sakitnya. Tapi kalau kita genggam erat agama kita, bara itu akan mati dan kita ngga akan ngerasa sakitnya.

Alhamdulillah sukanya banyak banget. Aku ngerasa lega banget waktu orang tua aku bilang, teh boleh pake kerudung panjang asal jangan dilepas lagi ya. Dulu waktu aku mau pakai cadar, mereka selalu bilang, kalau mau pakai cadar, jangan jadi anak mama lagi. Tapi alhamdulillaah sekarang bilang, boleh pakai cadar kalau nanti udah nikah ya. Alhamdulillah aku punya sahabat yang dulunya aku galakkin karena suka ngingetin, dia marah kalau aku salah, tapi selalu ada dan selalu mendukung, ikut senang kalau aku bahagia, memotivasi kalau aku turun semangatnya. Alhamdulillaah, pakaian ini ngelindungi banget, laki-laki juga ga sembarang megang kaya ke perempuan lain. Alhamdulillah, mencoba dekat sama Allah itu enak banget. Aku yang khawatiran, ngga pedean dan suka bingung karena Aku ngga tau ngelakuin sesuatu untuk siapa, sekarang lega, tenang dan bahagia terus. Karena cuma Allaah yang bisa diandalkan, dipercaya dan sayang banget sama kita.

Pertanyaan-pertanyaan itu menuntunku menuju sebuah perjalanan hijrah

Awalnya Aku pernah masuk pesantren waktu kelas 7 smp & ga bertahan lama disana. Tapi dampaknya bertahan lama, karna temen temen tau aku pernah pesantren (padahal cuma selewat karna waktu itu nia ga betah & akhirnya kabur dari pesantren) pasti suka tanya tanya tentang agama ke aku, selalu beranggapan aku lebih baik dari mereka. Awalnya sih aku ngerasa biasa biasa aja sama pertanyaan pertanyaan mereka. Jawab santai aja setauku.

Sampai akhirnya ada kejadian (mungkin ini awalnya) temenku nanya pertanyaan yang menurutku waktu itu dalem banget dan aku ga tau jawabannya. Rasanya malu lah. Selain itu guru agamaku mulai ngandelin aku, dari situ aku mikir orang orang sekitarku “nyangka” aku tuh sebaik yang mereka pikir, padahal aku ngerasa aku jauh dari yang mereka sangka. aku malu sama diri sendiri, ngerasa ga pantes di puji ini itu akhirnya aku memutuskan mau lebih baik lagi biar ga ada fitnah dari penilaian mereka yang emang menurutku berlebihan & Aku merasa bersalah sama jawabanku dari pertanyaan temen temen yang entengnya aku jawab padahal itu pertanyaan tentang agama Allah. Waktu itu aku masih pake jilbab seadanya dan masih pakai celana.

Ngga putus buat terus memperbaiki diri. Masuk SMA mulai gabung sama DKM sekolah. Karena menutup aurat aja ngga cukup, tetep aja waktu itu masih belum paham betul gimana seorang muslimah yang baik, gimana sebenarnya islam. Pertama kumpul sama anggota DKM kaget juga, karena aku paling beda dari mereka. Cuma aku yang pake celana & jilbab seadanya. Hasilnya, di kumpul pertama aku ga konsen sama sekali sama pematerinya. Aku malah merhatiin temen temen sekeliling yang kalo di liat adem banget. Pertemuan selanjutnya aku nyoba pake rok & jilbab yang seadanya karna masih belum pede pake gamis. Sampe akhirnya aku mulai beli kerudung yang lebar sedikit.

Alhamdulillah perubahan aku banyak respon positif terutama dari keluarga, karna emang maunya keluarga tuh kaya gitu. Temen-temen deket juga dukung ya walaupun awalnya ngerasa aneh mereka khawatir aku ikut aliran yang macem macem.

Duka nya, suka di bilang kaya ibu-ibu pake daster, terus suka diejek “Mau pengajian kemana?”. Tapi jauh dari itu Alhamdulillah, aku ngerasa aman kalaupun jalan sendirian ngelewatin tongkrongan cowok-cowok yang biasanya suka godain cewe yang lewat. Mereka ga berani siul siul seperti biasa ke cewe yang lewat paling di do’ain “assalamualaikum bu haji” yaa.. Aamiin-in aja. Selain itu, sering banget ngerasain nyaman, tenang tanpa alasan.

Meninggalkan cinta yang lalu, kumantapkan hati untuk berhijrah

Bermula dari seseorang yang telah menjadi mantan. Dia pernah bilang gini sama aku, “berpikirlah wahai sang pemikir”. Dari sana aku berpikir keras sebenarnya apa yang salah dari diriku. Apa yang kurang dariku?. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk merubah penampilanku secara tiba tiba dengan berkerudung lebar dan mulai tidak bersentuhan (salaman) dengan yang bukan muhrim. Niat ku berubah adalah untuk diriku yang lebih baik, bukan untuk dipandang orang lain. Aku belajar untuk berpikir logis dan menjalankan kehidupan sesuai syariat agama.

Sedikit cerita. Awalnya sulit. Hari pertama aku berkerudung lebar, orang-orang kaget liat aku. Temen-temen pangling sama aku, untungnya mereka ga protes sama apa yang Aaku pake sekarang. Tapi waktu itu pernah ada satu senior aku yang nyodorin tangannya ke aku buat salaman, otomatis aku tolak dengan salaman yang ngga kena gitu. Tapi tangan dia tetep diem meski aku ngga bales salamnya. Setelah beberapa detik, dia balas salaman aku dengan tangan tertutup. Aku rasa dia nguji aku waktu itu. Tapi Aku lolos, sampai sekarang aku nyaman banget pake kerudung lebar.

Rasanya seneng banget, pake kerudung lebar tuh lebih dihargai sama cowok, ga berani dipegang-pegang sembarangan. Kalo mau salaman juga mereka ngerti, ngga akan sentuh tangan. Terus kalo gerak juga lebih bebas. Aku ga perlu takut orang orang ngeliatin karena aku seksi, karena tertutup dengan rapih.

Dukanya adalah lebih ke Muhasabah diri sih. Ketika iman lagi turun, kadang Aku ngerasa malu aja sama kerudung aku. Jadi kerudung lebar ini bener bener jaga sikap aku banget.

Dari ketiga kisah diatas dapat disimpulkan bahwa hidayah bagaikan sebuah udara segar, Ia tidak akan datang untuk menyejukkan ruangan yang jendelanya ditutup rapat. Karena pada dasarnya hidayah tidak datang pada orang yang berdiam diri. Ingatlah, setiap manusia harus berhijrah, dengan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Manusia yang baik itu bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang baik adalah orang yang mau mengakui dan memperbaiki kesalahannya.

 

Tulisan oleh: Deasy Monica Parhastuti

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

| kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |
1 2 3 5