Hukum Kredit Rumah via KPR

Hukum Kredit Rumah via KPR

Kita tahu kebutuhan akan rumah sangat ini begitu urgent. Ada yang menempuh jalan menunggu uangnya terkumpul dalam waktu lama barulah memiliki rumah. Dan ada yang ingin segera dapat rumah lewat cara kredit. Salah satu cara yang ditempuh adalah kredit KPR. Bagaimana hukum kredit rumah KPR tersebut?

Kita tahu kebutuhan akan rumah sangat ini begitu urgent. Ada yang menempuh jalan menunggu uangnya terkumpul dalam waktu lama barulah memiliki rumah. Dan ada yang ingin segera dapat rumah lewat cara kredit. Salah satu cara yang ditempuh adalah kredit KPR. Bagaimana hukum kredit rumah KPR tersebut?

Berutang Memang Tidak Masalah Ketika Tidak Merasa Sulit

Dari Ummul Mukminin Maimunah,

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ  مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا

Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2408 dan An Nasai no. 4690. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

 

Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Sedangkan ada dalil yang menegaskan tentang bahaya berutang, di antaranya adalah do’a Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat yang meminta perlindungan pada Allah dari sulitnya utang.

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ  .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).

Kata Ibnu Hajar, dalam Hasyiyah Ibnul Munir disebutkan bahwa hadits meminta perlindungan dari utang tidaklah bertolak belakang dengan hadits yang membicarakan tentang bolehnya berutang. Sedangkan yang dimaksud dengan meminta perlindungan adalah dari kesusahan saat berutang. Namun jika yang berutang itu mudah melunasinya, maka ia berarti telah dilindungi oleh Allah dari kesulitan dan ia pun melakukan sesuatu yang sifatnya boleh (mubah). Lihat Fathul Bari, 5: 61.

Berutanglah dengan Jalan yang Benar

Jika berutang dibolehkan saat mudah untuk melunasinya, bukan berarti kita asal-asalan saja dalam berutang dan di antara bentuknya adalah mengambil kredit. Karena jika di dalam utang dipersyaratkan mesti dilebihkan saat pengembelian, maka itu adalah riba dan hukumnya haram.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Kemudian Ibnu Qudamah membawakan perkataan berikut ini,

“Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika orang yang memberikan pinjaman memberikan syarat kepada yang meminjam supaya memberikan tambahan atau hadiah, lalu transaksinya terjadi demikian, maka tambahan tersebut adalah riba.”

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Abbas bahwasanya mereka melarang dari utang piutang yang ditarik keuntungan karena utang piutang adalah bersifat sosial dan ingin cari pahala. Jika di dalamnya disengaja mencari keuntungan, maka sudah keluar dari konteks tujuannya. Tambahan tersebut bisa jadi tambahan dana atau manfaat.” Lihat Al Mughni, 6: 436.

Nyata dalam Kredit KPR

Kenyataan yang terjadi dalam kredit KPR adalah pihak bank meminjamkan uang kepada nasabah dan ingin dikembalikan lebih. Jadi realitanya, bukanlah transaksi jual beli rumah karena pihak bank sama sekali belum memiliki rumah tersebut. Yang terjadi dalam transaksi KPR adalah meminjamkan uang dan di dalamnya ada tambahan dan ini nyata-nyata riba. Itu sudah jelas. Kita sepakat bahwa hukum riba adalah haram.

Penyetor Riba Terkena Laknat

Bukan hanya pemakan riba (rentenir) saja yang terkena celaan. Penyetor riba yaitu nasabah yang meminjam pun tak lepas dari celaan. Ada hadits dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Mengapa sampai penyetor riba pun terkena laknat? Karena mereka telah menolong dalam kebatilan. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits di atas bisa disimpulkan mengenai haramnya saling menolong dalam kebatilan.” (Syarh Shahih Muslim, 11: 23).

Sehingga jika demikian sudah sepantasnya penyetor riba bertaubat dan bertekad kuat untuk segera melunasi utangnya.

Sudah Seharusnya Menghindari Riba

Jika telah jelas bahwa riba itu haram dan kita dilarang turut serta dalam transaksi riba termasuk pula menjadi peminjam, maka sudah sepantasnya kita sebagai seorang muslim mencari jalan yang halal untuk memenuhi kebutuhan primer kita termasuk dalam hal papan. Memiliki rumah dengan kredit KPR bukanlah darurat. Karena kita masih ada banyak cara halal yang bisa ditempuh dengan tinggal di rumah beratap melalui rumah kontrakan, sembari belajar untuk “nyicil” sehingga bisa tinggal di rumah sendiri. Atau pintar-pintarlah menghemat pengeluaran sehingga dapat membangun rumah perlahan-lahan dari mulai membeli tanah sampai mendirikan bangunan yang layak huni. Ingatlah sabda Rasul,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesunggunya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Siapa saja yang menempuh jalan yang halal, pasti Allah akan selalu beri yang terbaik. Yang mau bersabar dengan menempuh cara yang halal, tentu Allah akan mudahkan. Yo sabar … Yakin dan terus yakinlah!

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Hambali, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Selesai disusun selepas Zhuhur, 3 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Artikel Rumaysho.Com



Sumber https://rumaysho.com/3610-hukum-kredit-rumah-kpr.html

Informasi Lebih Lanjut

Untuk Solusi KPR Tanpa RIBA

Hubungi Kami

Tiga Mata yang Tidak Akan Tersentuh Api Neraka


Banyak faktor dan sebab yang akan mengantarkan manusia ke neraka. Kaki yang tidak dikontrol, yang selalu membawanya kepada tempat-tempat maksiat akan menjadi hal yang mendorongnya ke neraka. Tangan yang tidak mampu dikendalikan, yang digunakan untuk kejahatan, akan menjadi hal yang menjerumuskannya ke neraka. Telinga yang tidak mampu diatur, yang selalu mendengarkan fitnah dan ghibah, juga akan mengantarkan seseorang ke pintu neraka.

Dari sekian banyak organ tubuh manusia, mata juga menjadi potensi yang paling besar yang mampu menjebloskan pemiliknya ke neraka. Tapi, ada tiga jenis mata yang kelak, kata Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak akan bisa disentuh oleh api neraka. Apa saja? Simak hadis berikut ini:

ثلاثة أعين لا تمسها النار: عين فقئت في سبيل الله، وعين حرست في سبيل الله، وعين بكت من خشية الله

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “tiga jenis mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang dipakai di jalan Allah SWT, mata yang dijaga [hanya] untuk [hal-hal yang dianjurkan] oleh Allah SWT dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT.”

Tiga jenis mata yang tidak akan pernah disentuh api neraka yakni:

1. Mata yang selalu bangun dan dipakai di jalan Allah SWT

Yakni mata yang difungsikan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, membaca al-Qur’an dan melihat segala hal yang mampu menambah keimanannya kepada Allah SWT

2. Mata yang dijaga dari hal-hal yang tidak diperkenankan oleh Allah SWT

Yakni mata seseorang yang benar-benar dijaga dari hal-hal yang tidak boleh dilihat dalam syariat. Seseorang menjaga betul dari melihat aurat lawan jenis, tontontan yang penuh kemaksiatan dan lain-lain.

3. Mata yang selalu mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah SWT

Rasa takutnya kepada Allah SWT membuat mata seseorang selalu menangis dalam ibadah dan doa-doanya. Air matanya adalah air mata harapan agar dosa-dosanya diampuni dan senantiasa diberi petunjuk oleh Allah SWT.

Itulah tiga jenis mata seorang hamba, yang kata Nabi Muhammad SAW, tidak akan pernah disentuh oleh api neraka kelak di hari kiamat. Justru mata-mata ini akan menolong pemiliknya dan menjadi saksi bahwa ketika hidup ia senantiasa menyaksikan hal-hal yang baik dan menahan diri dari melihat hal-hal yang dilarang.

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

Iri dalam Belajar adalah Kunci Kesuksesan

Dari Abdillah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “tidak iri (hasut) yang diperbolehkan, kecuali pada dua orang; seseorang yang diberi kekayaan harta oleh Allah, lalu dikuasakan atas belanjakannya pada jalan kebenaran. Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”. (HR.Muttafaq Alayh)

Hadis ini menjelaskan ada dua macam hasut (iri) yang diperbolehkan dalam islam. Pertama, iri kepada orang kaya yang mendermakan hartanya dijalan Allah. Kedua, iri kepada orang yang alim, yang kemudian mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Hasut (iri) model ini dinamakan Ghibthah yang diperbolehkan, bukan hasut Syar’I yang terlarang. Ghibthah artinya;

تَمَنِّى الْمَرْءِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ مِثْلُ هَذِهِ النِّعْمَةِ مَعَ بَقَائِهَا لِصَاحِبِهَا

Cita-cita seseorang memiliki seperti nikmat ini serta utuhnya nikmat itu bagi pemiliknya.

Berbeda dengan iri atau hasut Syar’i yang terlarang, yaitu:

تَمَنِّى زَوَالِ النِّعْمَةِ مِنْ غَيْرِهِ

Mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang lain.

Iri Ghibthah seperti diatas diperintahkan bagi setiap orang kerena termasuk bagian dari berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khayrat).

Iri Ghibthah identik dengan cita-cita atau harapan ingin menjadi orang sukses seperti orang lain yang telah sukses. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ada dua macam bentuk iri atau cita-cita yang diinginkan, yaitu:

a. Ingin menjadi seorang yang sukses dalam harta

Seseorang boleh berkeinginan menjadi seorang sukses dalam usaha, sukses dalam materi, kemudian ia bisa membelanjakan ke jalan kebaikan dan kebenaran. Dalam islam harta itu selain dibelanjakan untuk kepentingan pribadi jiga kepentingan keluarga secara seimbang dan adil, juga untuk kepentingan sosial di jalan Allah. Seorang anak boleh mempunyai cita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses yang mendermakan hartanya ke jalan kebaikan seperti orang itu.

b. Ingin menjadi seorang sukses dalam ilmu

Rasulullah SAW menjelaskan:

وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”.

Makna al-hikmah  dalam hadis diatas diartikan juga Al-Qur’an sebagaimana riwayat Ibnu Umar “seseorang diberi Al-Qur’an oleh Allah SWT, ia beribadah dengannya sepanjang malam dan siang”.

Orang itu disibukkan membaca Al-Qur’an siang malam baik dibaca didalam shalat maupun diluar shalat. Cita-citanya ingin menjadi penghafal Al-Qur’an atau ahli membaca Al-Qur’an yang dibaca terus-menerus. Dua periwayatan diatas dapat dikompromikan cita cita yang diinginkan adalah ahli membaca Al-Qur’an sekaligus ahli ilmu yang paham kandugan Al-Qur’an mengamalakan ilmunya dan mengajarkan kepada orang lain. Ini adalah cita-cita yang paling tinggi dan paling baik diantara sekalian cita-cita karena dapat menggabungkan cita-cita unggulnya yakni ilmu dan Al-Qur’an. Keduanya saling sinergi Al-Qur’an sumber ilmu dan ilmu memperkuat kebenaran Al-Qur’an.

Disamping itu, keduanya menjadi kunci keberhasilan kesuksesan lain baik kesuksesan duniawi maupun ukhrawi.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

5 Keistimewaan Hari Jumat


Hari Jumat ialah hari yang sangat mulia. Kata Jumat berasal dari bahasa Arab “Jum’ah” yang berarti berkumpul, karena pada hari itu semua orang Islam yang laki-laki akan berkumpul ketika melaksanakan ibadah shalat Jumat. Semua aktifitas dihentikan sejenak, bermunajat kepada Allah swt. Sesungguhnya akhirat itu lebih baik lagi kekal. Sebagaimana firman Allah swt.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. Al-Jumu’ah: 9)

Hari Jumat memiliki beberapa keutamaan dibanding dengan hari-hari lainnya. Ada 5 keistimewaan yang terdapat pada hari Jumat di antaranya:

Pertama, sebaik-baik hari ialah hari Jumat. Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat, karena pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim)

Kedua, pada hari Jumat terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Abu Hurairah berkata Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di hari Jumat terdapat satu waktu yang mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasulullah saw. mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ulama ternama, Ibnu Qayyim Al-Jauziah mengatakan bahwa waktu yang mustajab itu ada dua versi, sebagaimana ditunjukan dalam banyak hadits yang shahih. Pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi.

Ketiga, sedekah di hari Jumat lebih utama dibanding hari lainnya. Ibnu Qayyim menambahkan, “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya ibarat sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”

Keempat, hari diturunkannya ampunan. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke mesjid, dan masuk mesjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jumat.” (HR. Bukhari)

Kelima, jalannya orang yang shalat Jumat adalah pahala. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, kemudian bersegera berangkat menuju mesjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan setara dengan pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah.” (HR. Ahmad).

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

7 Hal yang Wajib Diperhatikan Seorang Pencari Ilmu

Menurut Imam az-Zarnuji, ada tujuh hal penting yang wajib diperhatikan oleh seorang pencari ilmu agar ilmu mudah dia dapatkan dan bermanfaat.

1. Kesungguhan Hati

Penuntut ilmu harus bersungguh hati dan terus menerus demikian. Seperti itulah petunjuk ALLAH SWT dalam firman-Nya: “Dan mereka yang berjuang untuk (mencari keridloan) kami niscaya akan kami tunjukan mereka kepada jalan kami…” (Q.S Al Ankabut: 69)

Ada kata mutiara: “Siapa bersungguh hati mencari sesuatu, pastilah ketemu; dan siapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pastilah memasuki”.

Dikatakan lagi: “Sejauh mana kepayahanmu, sekian pula tercapai harapanmu”. Dengan kesungguhan, perkara jauh menjadi dekat. Pintu terkunci menjadi terbuka.

2. Kontinuitas Belajar

Tidak bisa tidak, pelajar hendaklah secara kontinu belajar dan mengulangi pelajaran yang telah lewat di awal dan akhir waktu malam, karena saat antara Maghrib dengan Isya dan waktu sahur (menjelang subuh) adalah saat-saat yang diberkahi ALLAH. Hendaknya pula memanfaatkan kesempatan belajar pada masa muda dan awal remajanya.

3. Menyantuni Diri Sendiri

Hendaklah tidak menforsir diri, tidak membuat dirinya lunglai sampai tidak kuat berbuat sesuatu, tapi hendaklah tetap menyantuni (menyayangi) diri sendiri.

Sikap santun adalah pangkal segala hal, sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Sadarlah, bahwa Islam ini agama yang kokoh, maka perlakukanlah dirimu dengan santun dan jangan kamu perbuat ibadah kepada ALLAH untuk menyengsarakan dirimu; karena orang yang munbit (loyo dan ditinggal kendaraan) itu tidak sanggup lagi menerjang bumi dan tidak pula kendaraannya.”

Nabi SAW bersabda: “Dirimu adalah kendaraanmu, maka perlakukanlah dengan santun”.

4. Cita-cita Luhur

Penuntut ilmu harus bercita-cita tinggi dalam berilmu, karena manusia akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan sayapnya.

Pangkal sukses adalah kesungguhan dan cita-cita yang tinggi. Dan sebaliknya, jika bercita-cita tinggi tetapi tiada kesungguhan, atau berkesungguhan tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka ilmu yang diperoleh hanya sedikit.

5. Kemutlakan Ilmu

Dianjurkan, hendaklah penuntut ilmu memaksimalkan usaha menuju sukses, secara serius dan terus menerus dengan menghayati berbagai keunggulan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu abadi sedangkan harta itu fana. Ilmu yang bermanfaat akan mengangkat reputasi seseorang, dan tetap harum namanya setelah ia meninggal; karena itu hidupnya tetap abadi.

Lezatnya ilmu, fiqih dan lezatnya kefahaman adalah cukup untuk menjadi motifasi bagi orang berakal untuk meraih sukses keilmuannya.

6. Mengurangi Kemalasan

Sikap kemalasan itu terkadang timbul dari akibat terlalu banyak lendir dahak dan cairan-cairan lain dalam tubuh. Sedang cara meminimalisir cairan tersebut adalah dengan mengurangi makan.

Ada disebutkan: “tujuh puluh Nabi bersepakat bahwa keseringan lupa itu akibat kebanyakan dahak, dan kebanyakan dahak disebabkan oleh kebanyakan minum air, dan kebanyakan minum air disebabkan terlalu banyak makan.

Bersiwak dapat mengurangi dahak, menambah kuat hafalan dan meningkatkan tingkat kefasihan; demikianlah bersiwak termasuk sunnah Nabi yang dapat menambah pahala shalat dan membaca Al-Qur’an.

7. Mengurangi Makan

Cara mengurangi makan adalah menghayati berbagai manfaat yang timbul dari minimasi makanan, antara lain kesehatan, terhindar dari yang haram dan care terhadap nasib orang lain.

Dan juga menghayati madlarat yang timbul akibat terlalu banyak makan, yaitu timbulnya berbagai penyakit dan bebal; ada kata mutiara menyebutkan “perut kenyang, kecerdasanpun hilang”

Cara lain untuk minimasi makan adalah menyantap makanan yang berlemak (mengandung zat pemuak), mendahulukan makanan yang halus lagi disukai, dan jangan makan bersama dengan orang yang sedang kelaparan; kecuali jika hal itu dilakukan untuk tujuan yang baik, semisal agar kuat puasa, shalat atau tugas-tugas berat lainnya, maka bolehlah demikian.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Tidak Ada Nikmat Kecil dari Tuhan yang Perlu untuk Disyukuri

Masih berfikir bahwa nikmat yang telah diberikan Tuhanmu adalah nikmat yang kecil?

“Syukurilah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita betapapun kecil nikmat tersebut.”

Ungkapan yang biasa diutarakan oleh para mubaligh agar setiap orang bisa bersyukur kepada Tuhannya dalam keadaan apapun dan kondisi sesulit apapun.

Nikmat merupakan kata yang sering kita dengar dan ucapkan dalam obrolan kita sehari-hari, baik berkaitan dengan agama, hubungan sosial, maupun hubungan suami istri dan lain sebagainya.

Orang cenderung menganggap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya lebih kecil daripada yang diberikan kepada orang lain, hal ini berdasar dari rasa alamiah seorang manusia yang sering merasa tidak puas dengan apa yang telah didapatkan hingga ada pepatah yang menyatakan ‘Rembulan selalu berada diatas kepala orang lain’.

Orang selalu melihat kebahagiaan dan nikmat menjadi milik orang lain dan bukan miliknya, sekalipun pernah menjadi miliknya namun hal itu jauh lebih kecil dibandingkan yang didapat tetangganya. Jadi perlukah kita mensyukuri nikmat Tuhan yang kecil? Tentu saja TIDAK!

Masihkah kita percaya bahwa ada nikmat Tuhan yang kecil?

Saat kita tak memiliki uang sepeserpun, apakah berarti nikmat yang Tuhan berikan adalah nikmat yang kecil? bagaimana dengan nikmat kesehatan yang kita rasakan saat dikantong kita tidak ada uang walau satu rupiah, ginjal kita masih sehat.

Dan disaat bersamaan dengan tidak adanya uang dikantong kita, ada orang-orang yang berharap diberikan donor ginjal dan mampu menghargainya ratusan juta. Masihkah kecil nikmat sehat yang kita rasakan saat tak memiliki uang, mau uang ratusan juta atau ginjal melayang?

Sungguh nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita adalah nikmat yang sangat besar yang perlu kita syukuri, dan sekali kali tidak ada satupun nikmat Tuhan yang KECIL, karena setiap nikmatNya adalah NIKMAT YANG BESAR YANG HARUS DISYUKURI.

Ketika Aku sakit, Tuhan memberikan nikmat ampunan dosa dan kini aku tak lagi mensyukuri nikmatNya yang kecil karena setiap nikmatNya adalah nikmat yang luar biasa besar dan harus selalu di syukuri…

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Perbanyaklah Berderma dan Beribadah di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, termasuk berkah dalam melakukan kebaikan untuk dirinya maupun kepada orang lain. Di bulan suci ini amalan ibadah sunnah pahalanya seperti amalan wajib di bulan biasa, sementara amalan ibadah wajib di bulan ramadhan pahalanya 70 kali lipat dari amalan-amalan wajib di bulan biasa. Subhanaallah, sangat menggiurkan bukan?

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.”( HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.”( Lihat Zaadul Ma’ad, 2: 25).

Sumber: islampos.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Dapat Hidayah Saat Lakukan Perjalanan ke Palestina, Penyanyi Ini Hijrah Memutuskan Berhijab

Masih ingat dengan penyanyi Indah Dewi Pertiwi atau yang banyak menyebutnya IDP? Jarang muncul di layar kaca, ternyata IDP telah memutuskan berhijrah. Penyanyi asal Bogor tersebut kini telah merubah penampilannya dengan mengenakan hijab. Berbagai foto dirinya dalam balutan hijab dan baju panjang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya.

Pelantun Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa tersebut memutuskan berhijrah setelah mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

“Aku memutuskan untuk berhijab karena ada beberapa pengalaman yang menurut aku kayak luar biasa sih,” kata Indah.

Wanita kelahiran Bogor, 30 Januari 1991 tersebut mengatakan, keinginananya mengenakan hijab telah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, Indah tidak memungkiri masih banyak godaan yang datang kepadanya sehingga belum bisa memutuskan untuk mengenakan hijab sejak dulu.

“Memang keinginan untuk mengenakan sudah dari dulu. Cuma memang baru sempat beberapa bulan lalu. Aku mencoba membuka Alquran dan pas aku buka ada hal yang luar biasa,” ujarnya.

Indah semakin yakin untuk hijrah, ketika ia mendapatkan kesempatan berkujung ke Palestina. Kunjungan tersebut diakuinya menjadi titik dimana dirinya mendapatkan hidayah.

“Kemarin Allah kasih kesempatan ke Palestina. Di sana aku dikasih kesempatan sama Allah dan disana dapat hidayah,” katanya.

Menelusuri akun Instagram pribadinya, terlihat Indah membagikan beberapa foto saat dirinya berkunjung ke Palestina. Lembah Jordania, The Dome of the Rock hingga Laut Mati menjadi lokasi kunjungan Indah saat di melakukan perjalanan ke Palestina.

Sumber: bangka.tribunnews.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Niat Hijrah, Tapi Susah Istiqomah? Mungkin Kamu Butuh 5 Hal Sederhana Ini!

Banyak yang bilang hijrah itu mudah, yang susah itu istiqamahnya. Betul, memang banyak sekali godaanya.Terkadang masih suka dikasih lihat masa lalu yang indah sama setan. Naudzubillah kalau kita tergoda lagi. Kita sharing yuk cara untuk belajar tetap istiqamah!

1. Niat yang bulat

Niat yang kuat dan keukeuh menjadi point penting dalam berhijrah dan beristiqomah. Insyaa Allah jika kita mempunyai niat yang keras maka godaan apapun akan kalah. Terus berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu diberikan kekuatan untuk menjaga niat kita berhijrah. Allah Maha membolak-balikan hati manusia, jadi kita harus percaya.

2. Mencari lingkungan yang tepat

Ini juga salah satu hal terpenting ketika kita sudah memutuskan untuk berhijrah. Memilih teman dan lingkungan yang tepat! Yang bisa mendukung kita ke arah yang lebih baik bukan menjerumuskan kita ke hal yang tidak baik. Carilah teman-teman yang juga sudah atau sedang berusaha istiqomah menjaga hijrahnya.

3. Perbanyak baca Al-Qur’an dan artinya

Al-Quran salah satu penyejuk hati, dengan kita sering membacanya, secara tidak langsung otak dan hati kita menjadi lebih tenang. Selain itu di dalam Al- Qur’an kita bisa belajar banyak, mencoba membaca terjemahnya akan banyak sekali makna yang bisa kita ambil. Jangan lupa untuk mengamalkannya kedalam kehidupan sehari-hari.

4. Sering datang ke kajian muslim

Gak hanya badan yang butuh makan, tapi otak dan hati juga butuh asupan rohani. Nah ini salah satu cara untuk menguatkan iman kita. Sekarang sudah banyak banget kajian-kajian muslim di setiap kota.

5. Perbanyak dzikir

zikir itu memurnikan akidah dan menebarkan sunnah. Dzikir mampu membuat hubungan kita dengan Allah SWT lebih dekat karena dalam setiap dzikir kita memanggil nama Allah.

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Rezeki Kamu, Gak Usah Khawatir. Pikirin Dari Mana dan Untuk Apa?

Apakah kamu khawatir dengan rezekimu?

Gak usah khawatir. Tenang saja. Mungkin kita gak tahu di mana rezeki kita. Mungkin kita gak tahu dari mana rezeki kita? TAPI percayalah, rezeki kita sangat tahu di mana kita. Entah itu, dari langit, laut, gunung, & lembah sekalipun, Allah telah memerintahkan rezeki untuk menjemputmu, menujumu. Lalu,apa yang kamu khawatirkan?

Ketahuilah sahabat, Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Percayalah itu, maka kamu disuruh mencarinya. Jangan melalaikan ketaatan kepada-Nya. Kalo kamu terlalu khawatir atau mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Kesalahan yang luar biasa, karena kamu tidak percaya pada-Nya.

 

Apakah kamu masih khawatir tentang rezekimu?

Sahabat, tugas kita bukan mengkhawatiri rezeki Allah. Karena itu sudah dijamin. Justru yang paling penting adalah kita menyiapkan jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” rezeki yang kita peroleh, yang kita miliki. Jadi lebih cinta dunia atau lebih cinta akhirat? Terserah kamu…. mau diapain itu rezeki yang sudah diberikan Allah.

Soal rezeki, semoga ini bukan kamu ya.

Betapa banyak orang larut menggenggam dunia, dia lupa bahwa hakikat rezeki bukanlah yang dimiliki tetapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulang, memeras keringat, hanya demi besaran tabungan atau mengangkat gaya hidup.

Betapa banyak orang hanya bisa mengejar rezeki, mencari yang banyak lalu lupa dari mana dan untuk apa rezeki itu.

Sahabat, gaji kamu, tabungan kamu, harta kamu sungguh tak berguna. Berapapun jumlahnya tatkala esok pagi atau lusa Allah memanggilmu untuk kembali. Semua yang kamu punya, yang kamu miliki akan sirna dan ditinggalkan menghadap ILAHI.

Jangan salah sangka, jangan keliru. Betulkan niat kita sekarang. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan Allah. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Karena rezeki tidak selalu terletak di pekerjaan kita. Rezeki gak harus dari pekerjaan kita.

Sahabat, Allah itu memberikan rezeki sekehendak-Nya, sekuasa-Nya. Bukankah Siti Hajar berlari-lari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwah? Tapi air zam-zam yang dicarinya justru muncul di dekat kaki Ismail, bayinya. Adakah kita menduga semua itu? Sungguh tak terduga dan hanya Allah yang berkuasa.

 

Maka katakan, rezeki itu rahasia Allah.

Untuk disyukuri hamba yang bertaqwa, datang dari arah yang tak disangka. Tugas kita, mencarinya dan menempuh dengan jalan halal, Allah-lah yang melimpahkan. Sekali lagi, di balik tiap ikhtiar dan doa kita, Allah pasti memberi karunia. Allah sudah janjikan rezeki kita.

Satu yang belum dari kita, tetap menjaga sikap baik saat menjemput rezeli Allah, “Dari mana” & “Untuk apa?”. Renungkan, dari mana dan untuk apa rezeki kamu? Jangan terburu-buru menjawabnya, renungkan saja dulu.

 

Sahabat, masih khawatir gak dengan rezekimu?

Kamu dan kita, betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lalu akhirnya cinta dunia. Lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab. Dari mana rexekimu, untuk apa rezekimu?

Sahabat, karunia Allah meliputi alam semesta. Dan sebagian karunia itu telah dijanjikan untukmu, untuk kita.

Gak usah khawatir atas rezeki kamu. Pinta saja petunjuk jalan yang lurus dalam menjemputnya. Jalan orang yang diberi nikmat ikhlas di dunia dan nikmat ridho-Nya di akhirat kelak. Bukan jalan orang yang terkutuk & tersesat.

Selamat bekerja sahabat, karena rezeki telah menantimu.

 

Sumber: hipwee.com

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

1 2