Iri dalam Belajar adalah Kunci Kesuksesan

Dari Abdillah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “tidak iri (hasut) yang diperbolehkan, kecuali pada dua orang; seseorang yang diberi kekayaan harta oleh Allah, lalu dikuasakan atas belanjakannya pada jalan kebenaran. Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”. (HR.Muttafaq Alayh)

Hadis ini menjelaskan ada dua macam hasut (iri) yang diperbolehkan dalam islam. Pertama, iri kepada orang kaya yang mendermakan hartanya dijalan Allah. Kedua, iri kepada orang yang alim, yang kemudian mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Hasut (iri) model ini dinamakan Ghibthah yang diperbolehkan, bukan hasut Syar’I yang terlarang. Ghibthah artinya;

تَمَنِّى الْمَرْءِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ مِثْلُ هَذِهِ النِّعْمَةِ مَعَ بَقَائِهَا لِصَاحِبِهَا

Cita-cita seseorang memiliki seperti nikmat ini serta utuhnya nikmat itu bagi pemiliknya.

Berbeda dengan iri atau hasut Syar’i yang terlarang, yaitu:

تَمَنِّى زَوَالِ النِّعْمَةِ مِنْ غَيْرِهِ

Mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang lain.

Iri Ghibthah seperti diatas diperintahkan bagi setiap orang kerena termasuk bagian dari berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khayrat).

Iri Ghibthah identik dengan cita-cita atau harapan ingin menjadi orang sukses seperti orang lain yang telah sukses. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ada dua macam bentuk iri atau cita-cita yang diinginkan, yaitu:

a. Ingin menjadi seorang yang sukses dalam harta

Seseorang boleh berkeinginan menjadi seorang sukses dalam usaha, sukses dalam materi, kemudian ia bisa membelanjakan ke jalan kebaikan dan kebenaran. Dalam islam harta itu selain dibelanjakan untuk kepentingan pribadi jiga kepentingan keluarga secara seimbang dan adil, juga untuk kepentingan sosial di jalan Allah. Seorang anak boleh mempunyai cita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses yang mendermakan hartanya ke jalan kebaikan seperti orang itu.

b. Ingin menjadi seorang sukses dalam ilmu

Rasulullah SAW menjelaskan:

وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”.

Makna al-hikmah  dalam hadis diatas diartikan juga Al-Qur’an sebagaimana riwayat Ibnu Umar “seseorang diberi Al-Qur’an oleh Allah SWT, ia beribadah dengannya sepanjang malam dan siang”.

Orang itu disibukkan membaca Al-Qur’an siang malam baik dibaca didalam shalat maupun diluar shalat. Cita-citanya ingin menjadi penghafal Al-Qur’an atau ahli membaca Al-Qur’an yang dibaca terus-menerus. Dua periwayatan diatas dapat dikompromikan cita cita yang diinginkan adalah ahli membaca Al-Qur’an sekaligus ahli ilmu yang paham kandugan Al-Qur’an mengamalakan ilmunya dan mengajarkan kepada orang lain. Ini adalah cita-cita yang paling tinggi dan paling baik diantara sekalian cita-cita karena dapat menggabungkan cita-cita unggulnya yakni ilmu dan Al-Qur’an. Keduanya saling sinergi Al-Qur’an sumber ilmu dan ilmu memperkuat kebenaran Al-Qur’an.

Disamping itu, keduanya menjadi kunci keberhasilan kesuksesan lain baik kesuksesan duniawi maupun ukhrawi.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *