Etika Jual Beli Online

 

Perkembangan zaman memang tak lagi mampu kita hindari dalam kehidupan kita, salah satunya adalah jual beli online atau Online shop yang telah banyak menyebar di seluruh penjuru negeri ini.

Namun, tak semua yang diperjualbelikan sesuai harapan. Banyak dari pembeli kadang merasa dirugikan lantaran barang yang dijual tidak sesuai, baik dari bahannya, atau kemanfaatan barang yang ternyata sudah tidak bisa digunakan lagi. Hal inilah yang kemudian dapat merubaha hukum asal dari jual beli itu sendiri.

Secara prinsip, jual beli di dalam fikih Islam hukumnya halal. Ijma para ulama mengatakan bahwa hukum asal jual beli adalah mubah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-qur’an dalam surat Al-baqarah: 275 yang artinya, “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Dalam redaksi lain juga dijelaskan bahwa jual beli atau mencari maisyah (penghasilan) dengan berdagang adalah bagian dari sesuatu yang mulia yang dianjurkan oleh agama Islam.

Diterangkan juga dalam sebuah hadis, pada suartu hari Rasulullah ditanya oleh sahabat tentang pekerjaan apa yang lebih baik, kemudian rasul pun menjawab, pekerjaan yang baik adalah pekerjaan seseorang yang menggunakan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah SAW di usia yang masih belia, sudah diajarkan keluarganya untuk berdagang, ketika usianya menginjak 13 tahun rasul sudah melakukan kegiatan ekspor dan impor ke negeri syam bersama keluarganya.

Jika ditinjau lebih dekat, jual beli online sama halnya dengan jual beli secara umum, yakni harus ditilik lebih detail tentang rukun dan syarat jual beli yang berlaku di dalam fikih Islam. Menurut  jumhur ulama rukun jual beli ada tiga. Pertama, al aqid (penjual dan pembeli), ma’qud alaik (barang dan alat beli), shighat (ijab dan qabul), jika dirinci maka rukun jual beli ada enam.

Maka sebagaimana jual beli pada umumnya hal tersebut harus diteliti mengenai syarat pembeli, penjual, shigat yang benar dan kriteria barang yang tidak mengandung gharar (penipuan).

Namun, perbedaan signifikan dalam jual beli online adalah dilakukan dengan menggunakan jasa online. Jika dilihat dari syarat yang sama tanpa menimbulkan kerugian, maka kegiatan tersebut diperbolehkan dalam Islam dan bahkan menjadi salah satu sarana pengembangan yang baru, serta mampu mengurangi angka pegangguran di Indonesia.

Adapun beberapa etika didalam jual beli secara umum baik offline ataupun online. Adalah Pertama,tidak terlalu besar ketika mengambil laba, laba yang berlebihan dari sewajarnya adalah dilarang oleh ijma para ulama, batasan laba maksimal adalah sepertiga dari pokok harta, yang diqiyaskan dari teori wasiat yakni maksimal sepertiga harta.

Kedua, jujur dalam melakukan transaksi, tidak ada kebohongan ataupun penipuan. Jika ada orang melakukan transaksi dengan jujur maka akan diberikan oleh Allah keberkahan didalam rizki dan tergolong bagian dari hamba pilihan Allah SWT.

Ketiga,  toleran dalam jual beli. Misalnya memberikan bonus kepada pembeli, dan untuk pembeli tidak terlalu detail dalam meneliti barang.

Keempat, menjauhi sumpah walaupun perkataanya jujur.

Kelima, perbanyak sedekah, agar mendapatkan keberkahan rezeki yang melimpah.

Keenam, transaksi perlu diperhatikan dan dicatat, termasuk utang-piutang jika ada.

Wallahu A’lam

sumber: islami.co

Freelance-Marketing

| kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

Empat Penyebab Rezeki Kurang Lancar

Segala sesuatu yang ada pada manusia ialah anugerah rezeki dari Tuhan, semuanya adalah rezeki Tuhan. Mengapa? Karena sejatinya manusia tidak memiliki apa-apa, manusia lahir tanpa membawa sedikitpun melainkan raga, yang mana raga itu sendiri ialah rezeki dari Tuhan.

Rezeki itu bisa harta benda, bisa pangkat jabatan, tahta, rupa yang cantik menawan dan lain sebagainya. Semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, jadi tidaklah perlu manusia iri dengan sesamanya. Mungkin kita melihat tetangga kita diberi kelebihan harta, rumah yang megah, mobil yang banyak, lantas kita iri kepada mereka? Hal ini tidaklah boleh terjadi, ketahuilah Allah SWT Maha Pemurah dan Maha Adil, rezeki yang diberikan kepada umat-Nya tidak mungkin tertukar.

Di antara kita mungkin ada yang merasa bahwa rezekinya selalu susah, ketiban sial. Kenapa teman di sebelah ada saja rezeki yang dia dapat dan bahkan selalu bertambah rezekinya. Kenapa kita sendiri susah mencari rezeki berupa harta yang cukup, makan sehari-hari susah. Apakah rezeki kita tertahan? Mungkin ada beberapa hal di bawah ini yang perlu kita simak bersama kemungkinan sebab Allah menahan rezeki seseorang, di antaranya:

1.Kurang Bersyukur akan Nikmat Tuhan

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahmi: 7)

Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa jika kita mau bersyukur atas apa pun yang diberikan-Nya, maka Allah menjanjikan bahwa pasti akn ditambah nikmatnya. Rasa syukur tidak hanya diungkapkan melalui ibadah saja, namun juga melalui perasaan dan perilaku kita. Bekerja keras dan ikhlas, tidak membanding-bandingkan harta dengan orang lain juga merupakan bentuk syukur. Ingat, bahwa rezeki tidak hanya berupa harta, keluarga yang rukun, anak shaleh shalehah, teman-teman yang baik, kesehatan, dan sebagainya adalah bentuk rezeki yang Allah berikan kepada kita.

Sebaliknya, jika kita mengingkari nikmat yang telah diberikan, maka kelak Allah akan memberikan kita azab yang pedih. Jika Allah murka, kita tidak akan sanggup menghindarinya. Jadilah orang yang bersyukur, orang yang paling menikmati hidup ialah orang-orang yang pandai bersyukur.

2.Sebuah Ujian Kesabaran

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Hidup ini seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Sebagai manusia, tentu kita ingin hidup bahagia, senang, dan sehat sepanjang hari. Namun tidak ada yang bisa menjamin bahwa hidup kita akan selalu begitu. Hal ini tentunya tidak lepas dari ujian yang Allah berikan kepada kita.

Orang yang hidup tidak akan terlepas yang namanya ujian, ujian ada sebagai bentuk kenaikan kelas. Jika kita lulus ujian dengan hasil baik, maka derajat kita akan dinaikkan oleh Allah SWT. Maka dari itu, menjadilah orang-orang yang semangat ketika mendapati ujian dalam hidup, jangan patah semangat.

3.Pelajaran agar Bekerja lebih Keras

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. AL-Ra’du: 11)

Setiap orang dalam hidup pasti punya impian. Dan jadikan impian itu sebagai pemicu semangat untuk bekerja lebih keras lagi.

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat dalam kehidupan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)

4.Azab karena Mengingkari Nikmat Allah

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nimat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. Annahl: 112)

Ayat di atas terang sekali menjelaskan akan bahaya mengingkari nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita. Jika kita ingkar nikmat, Allah akan menimpakan azab kepada kita.

Untuk itu, mari kita introspeksi diri kita masing-masing agar rezeki kita tidak tertahan oleh Allah SWT sebab perbuatan buruk yang kita lakukan. Jadilah selalu orang yang suka bersyukur kepada Allah SWT.

Sumber: islami.co

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Karyawangi Village – Parongpong, Bandung Barat

KARYAWANGI VILLAGE                                                                                        Affordale Luxury in North Bandung
Alhamdulillah setelah dimudahkan oleh Alloh di TAHAP I dan dengan izin Alloh kami bisa bertahap membangun, saat ini kami hadir dengan TAHAP II yang menawarkan tanah lebih luas dan harga yang affordable alias terjangkau untuk ukuran lokasi Bandung Utara
Keunggulan Strategis KARYAWANGI VILLAGE:
– Dekat dengan Sarana Pendidikan (TK, SD, SMP, SMA & SMK)
– Dekat dengan STIKES RAJAWALI
– Dekat dengan kantor PEMDA KOTA Cimahi
– Dekat dengan ECO Pesantren Daarut Tauhid
– Dekat dengan Terminal dan Pasar Parongpong
– Dekat dengan Kawasan Wisata Bandung Utara
– Dekat dengan kampus bergengsi Politeknik Bandung (POLBAN), Poltekpos dan UPI
– Dekat dengan Pesantren Daarut Tauhid
– Dekat dengan akses  Pintu Tol Pasteur
Keunggulan Lokasi KARYAWANGI VILLAGE:
– Jalan di perumahan dipaving block
– Jalan akses menuju perumahan dicor beton
– Mushola -Lingkungan Asri Bandung Utara dengan view dan udara yang sejuk
– Pos Security
DAPATKAN PENAWARAN SPEKTAKULER.
RUMAH TIPE 38/61
Harga Mulai 380 Juta-an
KAVLING SIAP BANGUN
Harga Mulai 2,5 Juta/m2
Silahkan konsultasikan kepada Agen kami. Insya Allah akan kami bantu hingga akad.
 

 

 

 

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Tiga Macam Fitnah Akhir Zaman

Akhir zaman merupakan masa penuh fitnah (kekacauan politik). Rasulullah saw. memperingatkan kita jauh-jauh hari tentang hal ini.

عن عبدِ الله بن عُمَرَ قال: كُنَّا قُعُوداً عندَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ الفِتَنَ، فأَكثَرَ حتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الأَحْلاسِ، فقالَ قائِلٌ: وما فِتْنَةُ الأَحْلاسِ؟ قال: “هيَ هَرَبٌ وحَرْبٌ، ثمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُها منْ تحتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بيتي، يَزْعُمُ أنَّهُ منِّي وليسَ منِّي، إنَّما أَوْليائي المُتَّقُونَ، ثمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ على رَجُلٍ كوَرِكٍ على ضلَعٍ، ثمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْماءِ لا تَدَع أَحَدًا مِنْ هذهِ الأُمَّةِ إلا لطَمَتْهُ لَطْمةً، فإذا قيلَ: انقضَتْ تمادَتْ، يُصْبحُ الرَّجُلُ فيها مُؤْمِناً ويُمْسِي كافِراً، حتَّى يَصيرَ النَّاسُ إلى فُسْطاطَيْنِ: فُسطاطِ إِيْمانٍ لا نِفاقَ فيهِ، وفُسْطاطِ نِفاقٍ لا إِيْمانَ فيهِ، فإذا كانَ ذلكُمْ فانتظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أوْ مِنْ غَدِه”.

Dari Abdullah bin Umar yang berkata, “Kami duduk di samping Nabi saw. Beliau menceritakan tentang banyak kekacauan sampai pada cerita tentang kekacauan al-Ahlas. Seorang sahabat bertanya, ‘Apa maksud kekacauan Al-Ahlas?’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Pengungsian dan perampasan. Lalu fitnah kebencian yang sumbernya dari seorang laki-laki dari keluargaku yang mengira dirinya dari golonganku padahal bukan. Kekasihku hanya orang-orang yang bisa menahan diri. Lalu orang-orang mengangkat seorang pemimpin yang tidak layak. Lalu kekacauan duhaima’ (samar) yang tak meninggalkan seorang pun kecuali akan ditampar oleh kekacauan tersebut. Ketika dikatakan, ‘Kekacauan itu telah selesai’, sebenarnya kekacauan itu masih terjadi. Seorang laki-laki mukmin pada pagi hari, tetapi menjadi kafir di sore hari, sampai umat manusia menjadi dua golongan; golongan iman tanpa kemunafikan di dalamnya dan golongan munafik tanpa keimanan di dalamnya. Ketika tanda-tanda itu terjadi, tunggulah Dajjal pada hari itu atau esok harinya.’” (HR. Ahmad)

Hadis ini diriwayatkan dalam kitab Al-Fitan, Musnad Ahmad, Sunan Abu Daud, Musnad Al-Syamiyyin, Al-Mustadrak, Hilyatul Auliya’, dan Syarh Al-Sunnah. Semua kitab tersebut meriwayatkan dari Ala’ bin Utbah dari Umair bin Hani’ Al-Ansi dari Abdullah bin Umar. Para ulama pada umumnya menilai sahih. Al-Hakim, Al-Dzahabi, Ahmad Syakir, dan Al-Albani. Sedangkan Abu Nu’aim memberikan catatan bahwa hadis tersebut tergolong gharib (aneh). Al-Arna’uth menilai hadis ini tidak sahih, bahkan cenderung maudhu’ (palsu).

Hadis ini unik karena menyebar di lingkungan Syam; wilayah yang menjadi basis pendukung utama keluarga Umayah yang resisten terhadap Bani Hasyim. Sebagian perawinya bahkan dikenal sebagai nashibi atau pembenci Ahli Bait termasuk Ali bin Abi Thalib di dalamnya. Dalam matan hadis tersebut juga terdapat konten yang cenderung pada sikap resisten terhadap ahli bait sebagaimana ditunjukkan redaksi fitnah kebencian yang sumbernya dari seorang laki-laki dari keluargaku yang mengira dirinya dari golonganku padahal bukan. Kekasihku hanya orang-orang yang bisa menahan diri. Pertimbangan aspek dalam sanad dan matan inilah yang mungkin menyebabkan Abu Nu’aim dan Al-Arna’uth mencurigai riwayat tersebut sebagai palsu sekalipun diriwayatkan dalam sebuah sanad yang dipenuhi perawi-perawi terpercaya.

Terlepas dari perdebatan soal kesahihan, hadis-hadis tentang kekacauan akhir zaman selalu memuat anjuran menahan diri dari melibatkan diri dalam konflik. Dalam hadis tersebut misalnya, dikatakan kekasihku hanya orang-orang yang menahan diri (tidak terlibat konflik). Perkataan ini jelas dukungan Nabi kepada orang-orang yang menjauhkan diri dari konflik. Orang-orang yang mengobarkan konflik, sekalipun mengaku keturunan Nabi saw., sebenarnya ia bukan golongan beliau. Al-Karmani (w. 854 H.) menjelaskan bahwa orang yang benar-benar keturunan Nabi saw. tidak akan mengobarkan kekacauan (Syarah Mashabih Al-Sunnah Li Al-Baghawi, jilid 5, hlm. 507). Syekh Al-Azhim Abadi (w. 1329 H.) mengutip Al-Ardibili yang mengatakan bahwa standar kebenaran pada masa kekacauan adalah orang yang bertakwa yang dapat menahan diri sekalipun tidak ada hubungan dengan Nabi saw. Serta tidak dianggap benar seorang penyebar kekacauan sekalipun punya hubungan nasab dengan beliau (Aun Al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud, jilid 11, hlm. 208).

Ada catatan menarik dari hadis Syamiyyin ini. Fitnah lebih banyak berarti kekacauan sosial-politik. Dengan tegas, hadis di atas menjelaskan tiga macam fitnah akhir zaman; al-Ahlas, al-Sarra’, dan al-Duhaima’. Fitnah Al-Ahlas berarti pengungsian dan perampasan harta serta nyawa. Fitnah Al-Sarra’ punya tiga pengertian, yaitu kekacauan karena perebutan sumber kekayaan duniawi, kekacauan yang membuat senang musuh, atau kekacauan karena kebencian dan sakit hati. Sedangkan fitnah Al-Duhaima’ berarti kesimpang-siuran kebenaran yang akan menimpa seluruh orang yang terlibat dalam konflik. Ketiga macam fitnah ini berkaitan dengan masalah sosial dan politik.

Di sini kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa sumber fitnah, kekacauan dan konflik adalah masalah duniawiah. Sekalipun dibungkus dengan bahasa agama, hal itu tidak menafikan bahwa sumbernya adalah duniawi. Karenanya, tidak heran para ulama lebih menganjurkan agar umat menjauhi terlibat dalam konflik. Bahkan pergi ke gunung, hidup menjadi penggembala kambing.

Sampai di sini, ternyata, hadis tentang fitnah akhir zaman yang selama ini dikampanyekan oknum ustaz pendukung kelompok politik tertentu, dan mendorong umat Islam terlibat dalam aksi-aksi fitnah (menciptakan keresahan dan kekacauan), pada kenyataannya justru menganjurkan orang menjauhi kekacauan. Jika ada yang menggunakannya untuk mendorong orang awam terlibat konflik sosial-politik, berarti ada pemutarbalikan maksud hadis. Apakah membuat kategori mukmin-munafik lalu diterapkan untuk menyudutkan orang yang berbeda pandangan dengan menyebutnya pendukung Dajjal bagian dari pemutarbalikan maksud hadis. Begitukah? Wallahu A’lam.

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Jangan Sampai Salah Langkah, Begini 4 Adab Mencari Rezeki!

Mencari rezeki memang menjadi suatu kewajiban, terlebih bagi para kepala rumah tangga. Selain kewajiban, mencari rezeki juga menjadi tuntunan agama dalam rangka menaati perintah Allah untuk menafkahi keluarga. Meskipun demikian, ada saja yang mencari rezeki tanpa mempedulikan mana yang halal dan mana yang haram. Bagi sebagian orang, ungkapan “yang halal aja susah apalagi yang halal” seolah-olah menjadi pembenaran atau legalitas atas apa yang mereka kerjakan.

Rasulullah SAW pernah menggambarkan perilaku semacam itu dalam sebuah hadis, “Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukan dengan cara yang haram.” (HR. Bukhari) Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memperhatikan cara-cara yang mereka lakukan dalam mencari rezeki. Ternyata ada empat hal yang harus diperhatikan oleh umat Islam dalam rangka mencari rezeki halal.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jangan mencurangi timbangan. Sebagian besar orang mencari rezeki melalui kegiatan perdagangan atau perniagaan dan tak jarang ada saja pedagang yang nakal dalam berdagang. Dalam melakukan perdagangan, umat Islam dituntut untuk senantiasa berbuat jujur. Selain itu, tidak boleh mempermainkan timbangan takaran ataupun kualitas dari barang yang dijual seperti disebutkan dalam surat Al-Muthaffifin ayat 1-6.

Allah berfirman, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6)

Kemudian yang kedua, jangan melakukan kegiatan riba dan jangan melakukan kegiatan transaksi riba dalam mencari rezeki. Allah melarang hamba-Nya mencari rezeki melalui riba seperti disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 130-131. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 130-131)

Ketiga, yaitu jangan menggunakan cara yang bathil dalam mencari rezeki. Cara-cara bathil yang dimaksud yaitu seperti halnya korupsi, mencuri, menerima suap ataupun menipu. Dalam surat Al Baqarah ayat 188 Allah berfirman, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188)

Kemudian yang keempat, jangan mencari rezeki melalui jalan perjudian dan jual beli barang haram. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, “Allah dan Rasul-Nya melarang jual-beli khamar, bangkai, daging babi dan berhala/patung yang disembah…” (HR. Bukhari dan Muslim) Selain itu, Allah juga melarang mencari rezeki melalui cara tersebut dengan berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 90-91.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91)

Demikianlah empat hal yang harus dijauhi oleh umat Islam dalam mencari rezeki. Yaitu tidak mencuri timbangan, jangan melakukan transaksi riba, jangan menggunakan cara yang bathil dan jangan melakukan perjudian atau jual beli barang yang haram. Dengan menjauhi empat hal tersebut, niscaya rezeki yang didapatkan akan lebih berkah dan dapat mencukupi kebutuhan hidup.

Wallahu a’lam.

Sumber: islami.co

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Yang Paling Susah Dikendalikan dari Manusia adalah Hatinya


Hati dalam bahasa Arab dinamakan al-Qalb. Qalb aslinya bermakna terbolak balik. Ya, hati dinamakan demikian karena ia seringkali berubah dan berbolak-balik. Terkadang ia mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan baik, dan terkadang ia juga mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan buruk. Sifat inilah yang seringkali membuat hati sulit ditebak dan menjadi ruang paling misterius dalam diri manusia.

Yang dimaksud hati atau qalb dalam organ tubuh manusia adalah jantung. Karena jantung adalah pusat kehidupan. Seperti dalam sebuah hadis misalnya;

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله. وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب.

“Sesungguhnya dalam jasad manusia ada segumpal daging; yang jika baik, maka seluruh badan akan baik. Namun jika rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Yaitu hati.”

Namun, secara ruhi dan tak kasat mata, manusia juga memiliki hati non-organ yang memproduksi perasaan-perasaan seperti bahagia, takut, cemas, dan perasaan lainnya. Di sinilah keimanan seseorang tertanam. Menyesuaikan dengan sifat hati yang mudah terbolak-balik, maka keberadaan iman seseorang juga kadang bertambah (yazidu) dan berkurang (yanqush).

Ada banyak cara untuk menstabilkan hati agar istiqomah berada di dalam kebaikan; pertama adalah membiasakan diri untuk konsisten terus-menerus melakukan kebaikan dan amal shalih. Kontinuitas semacam ini, selain mampu membiasakan hati untuk condong pada hal-hal yang baik, juga bisa mengantisipasi hati berbalik arah kepada hal-hal yang tidak baik.

Kedua, ada banyak doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menstabilkan hati. Beberapa di antaranya misalnya:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِيْكَ وَطَاعَتِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah posisi hatiku atas agamaMu dan mentaati-Mu.”

يَا مُحَوِّلَ الْحَوْلِ وَالأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ حَالٍ

“Wahai Dzat yang mengubah keadaan, ubahlah keadaanku menjadi sebaik-baiknya keadaan.”

Itulah kenyataan tentang hati yang harus kita ketahui berikut bagaimana cara menundukkannya agar senantiasa berada di posisi yang membawa kebaikan bagi pemiliknya.

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

Tiga Mata yang Tidak Akan Tersentuh Api Neraka


Banyak faktor dan sebab yang akan mengantarkan manusia ke neraka. Kaki yang tidak dikontrol, yang selalu membawanya kepada tempat-tempat maksiat akan menjadi hal yang mendorongnya ke neraka. Tangan yang tidak mampu dikendalikan, yang digunakan untuk kejahatan, akan menjadi hal yang menjerumuskannya ke neraka. Telinga yang tidak mampu diatur, yang selalu mendengarkan fitnah dan ghibah, juga akan mengantarkan seseorang ke pintu neraka.

Dari sekian banyak organ tubuh manusia, mata juga menjadi potensi yang paling besar yang mampu menjebloskan pemiliknya ke neraka. Tapi, ada tiga jenis mata yang kelak, kata Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak akan bisa disentuh oleh api neraka. Apa saja? Simak hadis berikut ini:

ثلاثة أعين لا تمسها النار: عين فقئت في سبيل الله، وعين حرست في سبيل الله، وعين بكت من خشية الله

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “tiga jenis mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang dipakai di jalan Allah SWT, mata yang dijaga [hanya] untuk [hal-hal yang dianjurkan] oleh Allah SWT dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT.”

Tiga jenis mata yang tidak akan pernah disentuh api neraka yakni:

1. Mata yang selalu bangun dan dipakai di jalan Allah SWT

Yakni mata yang difungsikan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, membaca al-Qur’an dan melihat segala hal yang mampu menambah keimanannya kepada Allah SWT

2. Mata yang dijaga dari hal-hal yang tidak diperkenankan oleh Allah SWT

Yakni mata seseorang yang benar-benar dijaga dari hal-hal yang tidak boleh dilihat dalam syariat. Seseorang menjaga betul dari melihat aurat lawan jenis, tontontan yang penuh kemaksiatan dan lain-lain.

3. Mata yang selalu mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah SWT

Rasa takutnya kepada Allah SWT membuat mata seseorang selalu menangis dalam ibadah dan doa-doanya. Air matanya adalah air mata harapan agar dosa-dosanya diampuni dan senantiasa diberi petunjuk oleh Allah SWT.

Itulah tiga jenis mata seorang hamba, yang kata Nabi Muhammad SAW, tidak akan pernah disentuh oleh api neraka kelak di hari kiamat. Justru mata-mata ini akan menolong pemiliknya dan menjadi saksi bahwa ketika hidup ia senantiasa menyaksikan hal-hal yang baik dan menahan diri dari melihat hal-hal yang dilarang.

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

Iri dalam Belajar adalah Kunci Kesuksesan

Dari Abdillah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “tidak iri (hasut) yang diperbolehkan, kecuali pada dua orang; seseorang yang diberi kekayaan harta oleh Allah, lalu dikuasakan atas belanjakannya pada jalan kebenaran. Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”. (HR.Muttafaq Alayh)

Hadis ini menjelaskan ada dua macam hasut (iri) yang diperbolehkan dalam islam. Pertama, iri kepada orang kaya yang mendermakan hartanya dijalan Allah. Kedua, iri kepada orang yang alim, yang kemudian mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Hasut (iri) model ini dinamakan Ghibthah yang diperbolehkan, bukan hasut Syar’I yang terlarang. Ghibthah artinya;

تَمَنِّى الْمَرْءِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ مِثْلُ هَذِهِ النِّعْمَةِ مَعَ بَقَائِهَا لِصَاحِبِهَا

Cita-cita seseorang memiliki seperti nikmat ini serta utuhnya nikmat itu bagi pemiliknya.

Berbeda dengan iri atau hasut Syar’i yang terlarang, yaitu:

تَمَنِّى زَوَالِ النِّعْمَةِ مِنْ غَيْرِهِ

Mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang lain.

Iri Ghibthah seperti diatas diperintahkan bagi setiap orang kerena termasuk bagian dari berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khayrat).

Iri Ghibthah identik dengan cita-cita atau harapan ingin menjadi orang sukses seperti orang lain yang telah sukses. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ada dua macam bentuk iri atau cita-cita yang diinginkan, yaitu:

a. Ingin menjadi seorang yang sukses dalam harta

Seseorang boleh berkeinginan menjadi seorang sukses dalam usaha, sukses dalam materi, kemudian ia bisa membelanjakan ke jalan kebaikan dan kebenaran. Dalam islam harta itu selain dibelanjakan untuk kepentingan pribadi jiga kepentingan keluarga secara seimbang dan adil, juga untuk kepentingan sosial di jalan Allah. Seorang anak boleh mempunyai cita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses yang mendermakan hartanya ke jalan kebaikan seperti orang itu.

b. Ingin menjadi seorang sukses dalam ilmu

Rasulullah SAW menjelaskan:

وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Dan seorang yang diberi hikmah (ilmu yang bermanfaat) oleh Allah SWT, ia amalkan dan ia ajarkan kepada orang lain”.

Makna al-hikmah  dalam hadis diatas diartikan juga Al-Qur’an sebagaimana riwayat Ibnu Umar “seseorang diberi Al-Qur’an oleh Allah SWT, ia beribadah dengannya sepanjang malam dan siang”.

Orang itu disibukkan membaca Al-Qur’an siang malam baik dibaca didalam shalat maupun diluar shalat. Cita-citanya ingin menjadi penghafal Al-Qur’an atau ahli membaca Al-Qur’an yang dibaca terus-menerus. Dua periwayatan diatas dapat dikompromikan cita cita yang diinginkan adalah ahli membaca Al-Qur’an sekaligus ahli ilmu yang paham kandugan Al-Qur’an mengamalakan ilmunya dan mengajarkan kepada orang lain. Ini adalah cita-cita yang paling tinggi dan paling baik diantara sekalian cita-cita karena dapat menggabungkan cita-cita unggulnya yakni ilmu dan Al-Qur’an. Keduanya saling sinergi Al-Qur’an sumber ilmu dan ilmu memperkuat kebenaran Al-Qur’an.

Disamping itu, keduanya menjadi kunci keberhasilan kesuksesan lain baik kesuksesan duniawi maupun ukhrawi.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

5 Keistimewaan Hari Jumat


Hari Jumat ialah hari yang sangat mulia. Kata Jumat berasal dari bahasa Arab “Jum’ah” yang berarti berkumpul, karena pada hari itu semua orang Islam yang laki-laki akan berkumpul ketika melaksanakan ibadah shalat Jumat. Semua aktifitas dihentikan sejenak, bermunajat kepada Allah swt. Sesungguhnya akhirat itu lebih baik lagi kekal. Sebagaimana firman Allah swt.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. Al-Jumu’ah: 9)

Hari Jumat memiliki beberapa keutamaan dibanding dengan hari-hari lainnya. Ada 5 keistimewaan yang terdapat pada hari Jumat di antaranya:

Pertama, sebaik-baik hari ialah hari Jumat. Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat, karena pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim)

Kedua, pada hari Jumat terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Abu Hurairah berkata Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di hari Jumat terdapat satu waktu yang mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasulullah saw. mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ulama ternama, Ibnu Qayyim Al-Jauziah mengatakan bahwa waktu yang mustajab itu ada dua versi, sebagaimana ditunjukan dalam banyak hadits yang shahih. Pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi.

Ketiga, sedekah di hari Jumat lebih utama dibanding hari lainnya. Ibnu Qayyim menambahkan, “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya ibarat sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”

Keempat, hari diturunkannya ampunan. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke mesjid, dan masuk mesjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jumat.” (HR. Bukhari)

Kelima, jalannya orang yang shalat Jumat adalah pahala. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, kemudian bersegera berangkat menuju mesjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan setara dengan pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah.” (HR. Ahmad).

Sumber: harakahislamiyah.com

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

7 Hal yang Wajib Diperhatikan Seorang Pencari Ilmu

Menurut Imam az-Zarnuji, ada tujuh hal penting yang wajib diperhatikan oleh seorang pencari ilmu agar ilmu mudah dia dapatkan dan bermanfaat.

1. Kesungguhan Hati

Penuntut ilmu harus bersungguh hati dan terus menerus demikian. Seperti itulah petunjuk ALLAH SWT dalam firman-Nya: “Dan mereka yang berjuang untuk (mencari keridloan) kami niscaya akan kami tunjukan mereka kepada jalan kami…” (Q.S Al Ankabut: 69)

Ada kata mutiara: “Siapa bersungguh hati mencari sesuatu, pastilah ketemu; dan siapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pastilah memasuki”.

Dikatakan lagi: “Sejauh mana kepayahanmu, sekian pula tercapai harapanmu”. Dengan kesungguhan, perkara jauh menjadi dekat. Pintu terkunci menjadi terbuka.

2. Kontinuitas Belajar

Tidak bisa tidak, pelajar hendaklah secara kontinu belajar dan mengulangi pelajaran yang telah lewat di awal dan akhir waktu malam, karena saat antara Maghrib dengan Isya dan waktu sahur (menjelang subuh) adalah saat-saat yang diberkahi ALLAH. Hendaknya pula memanfaatkan kesempatan belajar pada masa muda dan awal remajanya.

3. Menyantuni Diri Sendiri

Hendaklah tidak menforsir diri, tidak membuat dirinya lunglai sampai tidak kuat berbuat sesuatu, tapi hendaklah tetap menyantuni (menyayangi) diri sendiri.

Sikap santun adalah pangkal segala hal, sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Sadarlah, bahwa Islam ini agama yang kokoh, maka perlakukanlah dirimu dengan santun dan jangan kamu perbuat ibadah kepada ALLAH untuk menyengsarakan dirimu; karena orang yang munbit (loyo dan ditinggal kendaraan) itu tidak sanggup lagi menerjang bumi dan tidak pula kendaraannya.”

Nabi SAW bersabda: “Dirimu adalah kendaraanmu, maka perlakukanlah dengan santun”.

4. Cita-cita Luhur

Penuntut ilmu harus bercita-cita tinggi dalam berilmu, karena manusia akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan sayapnya.

Pangkal sukses adalah kesungguhan dan cita-cita yang tinggi. Dan sebaliknya, jika bercita-cita tinggi tetapi tiada kesungguhan, atau berkesungguhan tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka ilmu yang diperoleh hanya sedikit.

5. Kemutlakan Ilmu

Dianjurkan, hendaklah penuntut ilmu memaksimalkan usaha menuju sukses, secara serius dan terus menerus dengan menghayati berbagai keunggulan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu abadi sedangkan harta itu fana. Ilmu yang bermanfaat akan mengangkat reputasi seseorang, dan tetap harum namanya setelah ia meninggal; karena itu hidupnya tetap abadi.

Lezatnya ilmu, fiqih dan lezatnya kefahaman adalah cukup untuk menjadi motifasi bagi orang berakal untuk meraih sukses keilmuannya.

6. Mengurangi Kemalasan

Sikap kemalasan itu terkadang timbul dari akibat terlalu banyak lendir dahak dan cairan-cairan lain dalam tubuh. Sedang cara meminimalisir cairan tersebut adalah dengan mengurangi makan.

Ada disebutkan: “tujuh puluh Nabi bersepakat bahwa keseringan lupa itu akibat kebanyakan dahak, dan kebanyakan dahak disebabkan oleh kebanyakan minum air, dan kebanyakan minum air disebabkan terlalu banyak makan.

Bersiwak dapat mengurangi dahak, menambah kuat hafalan dan meningkatkan tingkat kefasihan; demikianlah bersiwak termasuk sunnah Nabi yang dapat menambah pahala shalat dan membaca Al-Qur’an.

7. Mengurangi Makan

Cara mengurangi makan adalah menghayati berbagai manfaat yang timbul dari minimasi makanan, antara lain kesehatan, terhindar dari yang haram dan care terhadap nasib orang lain.

Dan juga menghayati madlarat yang timbul akibat terlalu banyak makan, yaitu timbulnya berbagai penyakit dan bebal; ada kata mutiara menyebutkan “perut kenyang, kecerdasanpun hilang”

Cara lain untuk minimasi makan adalah menyantap makanan yang berlemak (mengandung zat pemuak), mendahulukan makanan yang halus lagi disukai, dan jangan makan bersama dengan orang yang sedang kelaparan; kecuali jika hal itu dilakukan untuk tujuan yang baik, semisal agar kuat puasa, shalat atau tugas-tugas berat lainnya, maka bolehlah demikian.

Sumber: harakahislamiyah.com

 

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

 | kpr syariah | perumahan syariah | rumah syariah | konsultan kpr syariah | simulasi kpr syariah | marketing perumahan syariah | agen perumahan syariah | perumahan syariah bandung | perumahan syariah bandung timur | perumahan syariah bandung selatan | perumahan syariah bandung barat | perumahan syariah bandung utara | perumahan syariah cimahi |

 

 

1 2 3 8