Akad Jual Beli Syariah

AKAD JUAL BELI dalam property syariah.

Akad itu hal terpenting dari sebuah transaksi jual beli ataupun hutang piutang, tapi banyak orang menganggap SEPELE.

Bagi Anda yang masih menganggap akad itu tidak perlu dipermalsahkan, perhatikan analogi ini.

Pasangan ibu A dan bapak B sudah melangsungkan pernikahan, kemudian mereka melakukan hubungan suami isteri dan akhirnya mereka memiliki anak dan mereka berdua BAHAGIA.

Sedangkan pasangan lain, sebutlah ibu X dan bapak Z mereka hanya berpacaran dan belum menikah, tapi mereka melakukan hubungan suami isteri diluar pernikahan, akhirnya ibu X hamil dan memiliki anak, tetapi mereka TIDAK BAHAGIA dan mereka menanggung malu.

Apa yang membedakan kedua pasangan diatas?

Kedua pasangan tersebut sama – sama melakukan “hal” yang sama dan mempunyai anak.

Tapi ibu A dan bapak B melakukannya dalam kondisi sudah berakad (akad nikah) sehingga yang dilakukan oleh ibu A dan bapak B itu HALAL, hubungannya sah secara agama maupun negara.

Berbeda dengan ibu X dan bapak Z, Karena belum berakad (akad nikah), sehingga yang dilakukannya adalah perbuatan HARAM dan itu perbuatan ZINA, tidak sah menurut agama maupun negara.

Begitupun dalam transaksi jual beli maupun utang piutang, AKAD merupakan hal pertama dan utama yang harus diperhatikan, karena dengan AKAD akan menentukan transaksi tersebut HALAL atau HARAM.

Dalam fiqh muamalah, rukun Akad jual beli ada 3 :
1. Al – aqidani (2 pihak yang berakad)
2. Mahallul aqad (Objek yang di akad kan)
3. Shigat aqad (Ijab qabul)

Selama transaksi memenuhi 3 rukun akad tersebut, berarti transaksi tersebut sah dan halal. Kalau tidak, berarti transaksinya jadi bathil dan bias jadi haram.
ITU LAH MENGAPA KITA HARUS BERHIJRAH KE PROPERTI SYARIAH

Karena dalam properti konvensional masih banyak praktik – praktik yang tidak memperhatikan akad jual beli sesuai syariat Islam. Dan kita menghindari transaksi bathil.

Salah satu contohnya dalam properti konvensional (jika pembelian secara KPR) selalu menyalahi rukun akad yang pertama. Dimana jual beli itu (walaupun secara kredit) seharusnya pihak yang berakad hanya 2 pihak, sedangkan properti konvensional selalu 3 pihak (developer selaku pemilik
produk, konsumen selaku pembeli, dan bank selaku pembiaya).

Selain akadnya yang bathil, jika KPR melalui perbankan pasti dikenai BUNGA dan sudah jelas dalam islam, bahwa BUNGA ITU HARAM ITU SALAH SATU BENTUK RIBA.

Secara garis besar seperti itu mengenai HUKUM AKAD JUAL BELI,

 

*******************************************

___________________________

Mau membantu Memasarkan ( Freelance Marketing )

Freelance-Marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *